Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) pertama di Indonesia digelar di Pondok Pesantren Kebon Jambu, Ciwaringin Cirebon yang dibuka pada selasa (25/4) malam.

Kongres yang bertujuan mengangkat eksistensi ulama perempuan juga membahas isu-isu strategis. Ketua Panitia Pengarah (Steering Commite) KUPI, Dra. Hj. Badriyah Fayumi, Lc. MA yang sekaligus memberikan keynote speech Seminar Internasional Ulama Perempuan menjelaskan, selama ini kiprah ulama perempuan di dunia tidak kalah penting. Hanya saja, belum terangkat eksistensinya secara maksimal.

“Di antara tujuan kongres ini adalah bagaimana ulama perempuan tidak hanya memberikan kontribusinya untuk isu kebangsaan dan kemanusiaan, tetapi eksistensinya dihargai dan diakui. Sebab, dominasi budaya patriarkhi berakibat pada tenggelam dan terpinggirkannya ulama perempuan dalam mengisi ruang-ruang public,” ungkapnya.

Perempuan yang sekarang menjabat Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdatul Ulama (PPLKNU) dan pernah menjadi Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) itu menjelaskan, konstruksi sosial dan budaya patriarkhi yang masih dominan  di Indonesia membuat eksistensi ulama perempuan cenderung tereduksi.

Padahal, kata Badriyah Indonesia punya banyak akademisi dan intelektual dari kalangan perempuan. Begitupun pesantren-pesantren yang memberikan ruang kesetaraan bagi laki-laki dan perempuan. “Sebab, ulama perempuan adalah mereka yang memiliki perhatian pada perspektif untuk kesetaraan perempuan dalam memajukan peradaban Islam dan penguatan civil society,” lanjutnya.

Sehingga, katanya, kongres tersebut diharapkan memberikan kontribusi untuk kemajuan para perempuan dalam pencapaian kemanusiaan yang adil dan beradab.

Senada, Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI, Prof. H. Abdurahman Mas’ud, Phd. yang memberikan sambutan atas nama Menteri Agama RI sekaligus membuka Internasional Seminar on Women Ulama itu menjelaskan perempuan memiliki peranan dan bahkan menentukan jalannya sejarah dalam setiap jaman.

“Pada masa Rasulullah, Khualafaur rasyidin dan masa-masa sesudahnya, perempuan mengisi beragam peran seperti ulama, cendikiawan, intelektual, ahli medis, tentara dan lainnya. Dalam konteks Indonesia, perempuan Indonesia telah memiliki peran strategis dalam masyarakat,” jelasnya.

Dia menjelaskan, abad ke-14 terdapat tiga Kerajaan Islam yaitu Sultan Khadijah, Sultan Maryam, dan Sultan Fatimah. Masa pejuang perempuan seperti Raden Ayu Ageng Serang, Tjut Nya’ Dien, Tjut Meutia, Laksamana Mahalayati, Kartini, Rohana Kudus, Rangkoyo Rasuna Said, Rahmah el-Yunusiyah dan Dewi Sartika, Maftunah Yunus. “Mereka berjuang sesuai dengan perannya masing masing,” imbuhnya.

 

Sumber: Harian Rakyat Cirebon, 26 April 2017