ULAMA perempuan bertanggung jawab menyampaikan Islam moderat, kesetaraan, serta kemanusiaan. Mereka para pendidik yang juga memiliki kemampuan untuk memberikan fatwa dan ijtihad di lingkungan muslimat.

Menurut Hatoon Al Fasi, perwakilan dari Arab Saudi, peran sebagai pendidik sekaligus pemberi fatwa itu dimiliki ulama perempuan atau alimat di negaranya.

“Sayangnya di dunia Arab, para alimat ini tidak banyak,” ungkap Hatoon dalam Seminar Internasional Ulama Perempuan di IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Jawa Barat, kemarin.

Ia membawakan presentasi dengan judul Facing Resistance: Personal Insight and Strategies of Women Ulama.

Hatoon mengakui ketika berbicara tentang perempuan Arab Saudi, problemnya cukup kompleks. Hal itu karena mereka harus memikul beban tradisi negara Islam yang menjadikannya sangat kaku dalam semua tingkatan, baik politik, ekonomi, maupun sosial.

Ia pun mengetahui banyak pemimpin yang memonopoli pandangan yang akhirnya menyudutkan perempuan. Itu merupakan tantangan yang dihadapi perempuan muslim di banyak tempat.

Meski begitu, di wilayah lainnya seperti di Maroko dan Mesir, alimat mampu berkiprah lebih banyak karena dukungan negara.

Hatoon memaparkan, jika merujuk pada pusat studi pembangunan di Mesir, metode mereka ialah untuk menjembatani organisasi-organisasi perempuan untuk memfokuskan pemenuhan hak-hak perempuan oleh negara. Seperti di kampus Al-Azhar, yang berhasil membuahkan banyak karya.

Ulama perempuan asal Pakistan, Mossarat Qadeem, mengungkapkan peran perempuan di Pakistan saat ini sangat berat karena mereka tercabut dari akar. Mereka yang seharusnya bisa mengembangkan keluarganya, kini harus merawat para korban perang.

Para perempuan Pakistan seringkali juga mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dan menjadi korban bom bunuh diri.

 

Sumber: http://mediaindonesia.com/news/read/102262/perempuan-menyerukan-islam-moderat