Ulama perempuan Indonesia akan menggelar Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) di Cirebon, Jawa Barat pada (25/4) mendatang. Steering Committee KUPI, Badriyah Fayumi menegaskan tidak ada muatan politis dalam kegiatan ini.

“Tidak ada muatan politis sama sekali, tidak dan tidak akan. Tetapi kami akan memberikan rekomendasi, ada juga poin yang disampaikan saat mengambil kebijakan ketika ada kebijakan yang patut untuk dikritisi, yang patut untuk kami sampaikan,” kata Badriyah di Kafe Kekini, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (9/4/17).

Badriyah mengatakan, dalam kongres nanti juga tidak akan ada pembentukan struktur dan pemilihan ketua untuk organisasi apa pun.

“Setelah ini tidak akan ada struktur, kemudian milih siapa milih orang, tidak demikian,” kata dia.

Menurut Badriyah ini adalah ruang perjumpaan ulama perempuan dari berbagai latar belakang, pendidikan baik formal maupun pesantren. Selain itu, nantinya akan ada perjumpaan dengan masyarakat yang membutuhkan fatwa.

“Kemudian juga kita berjumpa dengan para aktivis dan korban yang masalahnya dimintakan fatwa pada ulama perempuan Indonesia ini. Jadi ini lebih pada forum silaturahim dan silatul ilmi ya,” ungkapnya.

Badriyah juga mengatakan, kongres ini akan dihadiri lebih dari 500 ulama perempuan se-Indonesia. Dia menjelaskan, kongres ini memang gagasan dari ulama perempuan Indonesia.

“Acara ini sejak awal digagas partisipatoris. Kami tidak mengandalkan ketokohan tertentu, karena ulama perempuan punya ilmu semuanya dalam berbagai level bahkan di tingkat komunitas terkecil pun sangat patut untuk dishare dengan ulama di daerah, dan patut untuk berpartisipasi pada khalayak,” kata Badriyah. (Akhmad Mustaqim – detikNews)

 

Sumber: detik.com