KH. Husein Muhammad (Ketua Yayasan Fahmina dan Anggota SC KUPI)

Term ”ulama” dalam konteks kebudayaan Indonesia dimaknai secara khusus. Ia adalah gelar yang diberikan kepada orang-orang yang dipandang mengerti dan memahami ilmu-ilmu agama Islam. Hal itu biasanya dibuktikan dengan kemampuan seseorang membaca Alquran dan “kitab-kitab kuning”. Kitab-kitab ini umumnya berisi ilmu-ilmu fikih, tafsir, hadist, tauhid, dan sejenisnya yang ditulis para tokoh Islam abad pertengahan. Dengan keahliannya dalam keilmuan agama tersebut ulama juga acap dipahami sebagai pemimpin/tokoh agama. Ulama adalah juga agen perubahan sosial.

Dalam bacaan antropologis yang sederhana, ulama di Indonesia biasanya tampil dengan pakaian sarung, peci, sorban, atau tutup kepala yang lain. Tutup kepala ini, konon, merupakan ciri yang meneguhkan sosoknya sebagai ulama. Tanpa aksesori ini unsur wira’i (kehormatan) pada diri ulama menjadi berkurang. Ulama juga dikesankan sebagi orang yang rajin beribadah, banyak membaca Alquran, berzikir, dan pandai berdoa. Mereka menjadi rujukan dalam setiap urusan yang berkaitan dengan agama, termasuk memberi fatwa.

Terminologi tersebut tentu saja telah mereduksi makna genuine dari ulama. Ulama adalah kata jamak (plural) dari ‘alim, yakni orang yang mengerti, orang yang tahu tentang banyak bidang ilmu. Kata lain yang semakna dengan ulama adalah “ulu al-‘ilm” (para pemilik ilmu pengetahuan), “ulu al-albab” (pemilik ketajaman pikiran) dan “ulu al-abshar” (pemilik pandangan yang jauh). Pada masa awal Islam sebutan ulama ditujukan kepada orang-orang yang tidak hanya menguasai ilmu-ilmu keagamaan (diniyyah), tetapi juga ilmu-ilmu secara lebih luas (ilmu umum), seperti fisika, kedokteran, astronomi, dan ilmu-ilmu humaniora. Bidang-bidang keilmuan ini pada masa lalu tidak dihadapkan secara dikotomis. Alquran menyatakan, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam merupakan tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mempunyai pikiran yang mendalam. Yakni orang-orang yang senantiasa mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi. (Mereka kemudian berkata), ’Wahai Tuhan, tidaklah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau. Maka jauhkan aku dari siksa neraka.”(QS Ali Imran [3]: 190).

Peran dan Kedudukan Ulama

Terlepas dari perdebatan terminologis di atas, bagaimana pun ulama mempunyai kedudukan istimewa di tengah masyarakat. Menurut Alquran, ulama adalah orang-orang yang paling dekat dengan Tuhan. Merekalah orang yang paling takut kepada-Nya, sebagaimana bunyi Alquran: “Innama yakhsya Allah min ‘ibadihi al-‘ulama“(QS Fatir [35]: 28). Ayat ini ingin menegaskan bahwa ulama adalah mereka yang hati dan pikirannya senantiasa mengingat Tuhan dan takut tidak bisa melaksanakan perintah-perintah dan larangannya dengan baik. Pernyataan ini tampaknya lebih menunjukkan pada aspek moralitas yang harus dimiliki ulama.

Pada ayat lain ulama menempati kedudukan istimewa di hadapan Tuhan, karena tugasnya yang sangat penting dan besar: sebagai penegak keadilan di antara manusia. Alquran menyatakan: Tuhan memberi kesaksian bahwa tidak ada Tuhan kecuali Dia, dan para Malaikat dan orang-orang yang mempunyai ilmu, sebagai penegak keadilan (QS Ali Imran [3]: 18). Para santri di pesantren sangat hafal ayat Alquran yang menyatakan, “Tuhan mengangkat derajat berlipat ganda orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan.”

Predikat paling sering diingat dalam memori kolektif masyarakat beragama adalah al-ulama waratsah al-anbiya, ulama adalah para pewaris para nabi. Predikat lain adalah al-ulama siraj al-ummah (ulama adalah lampu yang menyinari umatnya) dan sebagainya. Santri-santri di pesantren juga sangat hafal bahwa seorang alim, faqih yang menjaga kehormatannya lebih ditakuti setan daripada seribu orang yang tekun ibadah.

Ulama Perempuan di Panggung Sejarah

Sebutan ulama dalam banyak komunitas muslim selama ini hanya ditujukan kepada kaum laki-laki dan tidak untuk perempuan. Untuk menyebut perempuan sebagai ulama harus ditambahkan “perempuan”, menjadi “ulama perempuan” atau “perempuan ulama”. Kenyataan ini jelas memperlihatkan bahwa kaum perempuan dianggap tidak ada yang layak disebut ulama. Dengan kata lain, mereka dianggap tidak memiliki kapasitas intelektual, keilmuan, moral dan keahlian yang lain. Ini adalah fakta peradaban patriarkis yang telah berlangsung berabad-abad lamanya. Perempuan dalam peradaban ini sangat jarang, kalau tidak dikatakan terlarang, untuk berada pada posisi pengambil keputusan, mengelaborasi dan mengimplementasikan hukum-hukum agama.

Penciptaan konstruksi sejarah ini sungguh-sungguh bertentangan dengan perintah-perintah agama. Pembatasan atau pengucilan terhadap mereka telah mengabaikan perintah Tuhan dan Nabi Muhammad. Betapa banyak ayat Alquran yang menyerukan kepada manusia untuk memahami berbagai ilmu pengetahuan. Beberapa di antaranya adalah QS Al-‘Alaq: 1-5, QS Al-Mujadilah: 11, QS Al-Taubah: 71, dan lain-lain. Kita tidak tahu siapa yang mengkhususkan perintah Tuhan ini hanya kepada laki-laki? Siapa yang mengecualikan perempuan dari ketentuan ayat-ayat Tuhan ini?

Lebih dari itu, siapa sesungguhnya yang “menggelapkan” sejarah keulamaan perempuan? Padahal, terlalu banyak para ahli hadis yang mengambil riwayat dari kaum perempuan. Mereka sepakat bahwa riwayat perempuan dapat dipercaya. Al-Dzahabi, seorang kritikus hadis terkemuka mengatakan, “Tidak pernah terdengar bahwa riwayat seorang perempuan adalah dusta.” Kaum muslimin di dunia mengetahui dengan pasti sabda Nabi bahwa Aisyah adalah perempuan paling cerdas dan ulama terkemuka: “Kanat ‘Aisyah a’lam al-nas wa-afqah wa-ahsan al-nas ra’yan fi al-‘ammah.” Al-Dzahabi juga menginformasikan bahwa lebih dari 160 ulama laki-laki terkemuka berguru kepada Siti Aisyah. Mereka antara lain Urwah bin Zubair, Ibrahim al-Taimi, Thawus, Al-Sya’bi, Sa’id bin al-Musayyab, Sulaiman bin Yasar, Ikrimah, dan lain-lain.

Urwah bin Zubair adalah sarjana besar. Dia dikagumi banyak orang. Ketika dia ditanya tentang ilmunya, dia mengatakan bahwa dirinya belum apa-apa dibanding dengan gurunya, Aisyah.

Selain Aisyah, sejumlah perempuan juga adalah para ulama, antara lain Ummu Salamah binti Abi Umayyah, Hafshah binti Umar, Asma binti Abu Bakar, Ramlah binti Abi Sufyan, Fatimah binti Qais dan lain-lain. Mereka adalah guru besar bagi kaum perempuan juga bagi kaum laki-laki. Mereka biasa berdebat secara terbuka dengan ulama laki-laki dalam banyak aspek dan untuk menyelesaikan problema kehidupan umat pada masanya.

Sayyidah Nafisah adalah ulama perempuan yang cemerlang. Imam Syafi’i dan banyak ulama lain hampir setiap hari datang ke rumahnya untuk mengaji kepadanya. Cicit Nabi ini seorang hafiz, ahli tafsir dan muhaddits, rajin shalat, puasa dan haji sebanyak 30 kali. Pengajian tafsir yang diselenggarakannya di masjid maupun di rumahnya dihadiri ratusan orang yang datang dari berbagai penjuru.  Sayyidah Nafisah juga pemimpin gerakan rakyat untuk menentang penguasa yang zalim; Ibnu Talun. Dia pernah menulis surat kepadanya berisi kritik tajam. Katanya :”Anda telah menyakiti dan membuat lapar rakyat. Orang-orang yang dizalimi tidak akan mati dan orang yang menzalimi tidak akan hidup lama. Lakukan semaumu. Tuhan pasti akan membalas kelakuan burukmu”.

Syeikhah Syuhdah pun seorang perempuan sarjana terkenal. Dia kerap memberikan kuliah umum di sebuah masjid besar di Baghdad di hadapan jamaah besar dalam ilmu sastra, retorika, dan puisi.

Al-Sakhawi, Imam Ibnu Hajar al-Asqallani, dan Imam al-Suyuthi adalah ahli hadis terkemuka yang belajar pada guru-guru perempuan. Ibnu Hajar, misalnya, belajar pada 53 orang perempuan, Al-Sakhawi berguru pada 46 orang perempuan dan al-Suyuthi berguru pada 33 perempuan.

Al-Sakhawi juga mencatat ada 1.075 perempuan terkemuka, 405 orang di antaranya adalah ahli hadis dan fikih terkemuka. Ibnu Hajar mencatat 191 perempuan, 168 di antaranya guru besar hadis dan fikih. Dan sufi agung, Al-Syaikh Al-Akbar Muhyiddîn Ibnu Arabi juga berguru pada tiga orang perempuan cerdas dan alim di Mekkah: Sayyidah Nizam, Fakhr al-Nisa dan Qurrah al-‘Ain. Perempuan paling populer di kalangan para sufi, Rabiah al-Adawiyah telah menjadi ikon mazhab cinta dalam sufisme. Puisi-puisinya tentang cinta (mahabbah) telah memberikan inspirasi kepada para sufi lain sepanjang sejarah. Terlampau sempit ruang di sini untuk menyebut ulama perempuan yang telah tampil dalam panggung sejarah peradaban Islam.

 

(Diterbitkan di Koran Sindo, 17 April 2017)