Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menutup Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI). Kongres yang kali pertama digelar di dunia ini berlangsung dari 25-27 April 2017 di Pesantren Kebon Jambu, Babakan Ciwaringin, Cirebon.

“Sejujurnya saya merasa kongres ini luar biasa. Tidak hanya karena substansi yang dikaji, hasil dan rekomendasi yang dilahirkan, tapi karena juga prosesnya yang sepenuhnya berasal dari inisiatif kaum perempuan,” terang Menag di Cirebon, Kamis (27/04).

Menurutnya, ada tiga makna strategis dari KUPI, yaitu terkait relasi, revitalisasi, dan moderasi. Makna pertama, kongres telah berhasil memperjuangkan keadilan melalui kesadaran peran dan relasi hubungan laki-laki dan perempuan. Menag menilai isu relasi gender saat ini dan mendatang akan semakin urgen dan relevan.

“Kongres ini memiliki peran penting agar keadilan relasi terus diperjuangkan,” tegasnya disambut tepuk tangan hadirin.

Kedua, lanjut Menag, kongres telah merekognisi dan merevitalisasi peran ulama perempuan yang sudah berlangsung bahkan sejak zaman Siti Aisyah, istri Rasulullah, hingga tokoh perempuan Indonesia. “Selain rekognisi dan revitaliasi, yang tidak kalah penting adalah membangun jaringan ulama perempuan,” ujarnya.

Makna ketiga, menurut Menag kongres telah berhasil meneguhkan dan menegaskan bahwa moderasi Islam harus senantiasa dikedepankan. Kata Menag, Islam yang moderat, rahmatan lil alamin, tidak menyudutkan posisi kedudukan perempuan, dan menebarkan kemaslahatan bagi sesama harus terus dikembangkan.

“Isu ini sangat relevan dan perempuan telah mengambil peran strategis melalui kongres ini dengan menghadirkan isu moderasi Islam sehingga bisa berkontribusi bagi pembangunan peradaban dunia,” ujarnya.

Sebelumnya, sekretaris panitia Ninik Rahayu melaporkan bahwa ide penyelenggaraan kongres sudah dibahas sejak lama. KUPI pada akhirnya menjadi oase ulama perempuan tentang pentingnya peran perempuan dalam meneguhkan nilai Keislaman, Kebangsaan, dan Kemanusiaan.

Menurut Ninik, dalam tiga hari penyelenggaraan, KUPI telah membahas dan menghasilkan rekomendasi terkait tiga isu besar, yaitu kekerasan seksual, perkawinan usia anak, serta kerusakan lingkungan.

KUPI diikuti oleh 574 peserta dari 1.275 yang mendaftar. Selain itu, KUPI juga dihadiri 185 pengawas. KUPI kali pertama ini mengangkat tema ‘Peran Ulama Perempuan dalam Meneguhkan nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.’

Tampak hadir dalam penutupan sejumlah pengasuh pesantren Babakan Ciwaringin, Nyai Hj Masriyah selaku tuan rumah, Kakanwil Kemenag Jabar, Sesditjen Pendidikan Islam, Wakil Ketua DPD RI. Seremonial penutupan diawali dengan tawassul atau pengiriman hadiah pembacaan Surat Al Fatihah yang dipandu Nyai Hj. Masturah Hanna.

Sumber: https://googleweblight.com/?lite_url=https://www.kemenag.go.id/berita/495849/tutup-kupi-menag-sebut-tiga-hal-strategis-kongres-ulama-perempuan&ei=NFMtk5Af&lc=id-ID&s=1&m=342&host=www.google.co.id&ts=1493297440&sig=AJsQQ1BsbLOk8RswenfrYsTpcxqdpnvxMA