Lazim diketahui, ruang gerak perempuan di Arab Saudi tak sebebas negara-negara lain, termasuk Indonesia. Menurut masyarakat Arab, hal itu merupakan bentuk perlindungan dan penghormatan kaum hawa. Bicara perempuan Arab Saudi semakin kompleks lantaran minimnya keterlibatan di sektor politik, ekonomi dan sosial. Maka dari itu, “sebagai ulama perempuan, kita memiliki tanggung jawab menyebarkan Islam moderat yang menyampaikan kesetaraan dan kemanusiaan,” tutur seorang ulama perempuan asal Arab Saudi, Hatoon Al-Fasi, saat hadir dalam kongres ulama perempuan Indonesia (KUPI) di pondok pesantren Kebon Jambu Al Islamy, Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, kemarin.

Di Arab Saudi, ulama perempuan atau alimat adalah para pendidik perempuan. Mereka ahli dalam studi agama yang memiliki kemampuan memberikam fatwa dan ijtihad. Mereka juga memiliki pengetahuan tentang Islam yang dapat memberikan semangat kesetaraan dan keadilan. Sayangnya banyak pimpinan yang memonopoli pandangan yang akhirnya menyudutkan perempuan.

Itu adalah kasus dan tantangan yang dimiliki perempuan muslim di banyak tempat. “Untungnya, Arab Saudi memberikan keistimewaan terhadap saya sekaligus menjadi perhatian ketika saya yang perempuan di Arab Saudi berbicara Islam. Di dunia Arab, para alimat tidak banyak,” kata Hatoon.

Ia mengakui menjadi seorang alimat di Arab Saudi bukanlah tugas yang mudah. Walaupun ada ribuan perempuan lulusan pendidikan Islam dan penghafal al-qur’an, tetapi tidak ada alimat yang diakui sebagai imam yang bisa melakukan ijtihad dan diakui. Merujuk pada kehidupan perempuan Arab Saudi hari ini, tambah Hatoon, mereka memiliki kisah yang berbeda dari sebelumnya. Nereka mencoba untuk menghadapi realita dan melakukan interpretasi terhadap realita itu.

Meski sulit, satu persatu mereka menjadi vokal. Hal itu yang telah diajarkan oleh ulama (laki-laki), baik di sekolah maupun institusi keagamaan, bukanlah satu-satunya kebenaran.

Di Maroko dan Mesir, ijtihad yang dilakukan alimat untuk memberikan perspektif perempuan pada Islam di harapkan bisa memberikan harapan bagi dunia muslim. Beberapa strategi digunakan, merujuk pada pusat studi pembangunan di Mesir. Metode mereka adalah menjembatani organisasi-organisasi perempuan untuk memfokuskan pemenuhan hak-hak perempuan oleh Negara. Seperti di kampus Al-Azhar yang berhasil membuahkan banyak karya.

Menurut Hatoon, organisasi itu telah memimpin dan mengambil peran yang sangat penting bagi Negara-negara Arab melalui bangunan pengetahuan dengan mendiseminasi karya dan terjemahan karya-karya mereka. Pengetahuan itu sangat penting untuk memberikan bacaan alternatif.

Seorang ulama perempuan asal Pakistan, Mossarat Qadem, menuturkan, peran perempuan saat ini di Pakistan sangat berat karena mereka tercabut dari akarnya, mereka yang seharusnya bisa mengembangkan keluarganya kini harus merawat korban perang.

Para perempuan Pakistan pun sering kali mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, bahkan menjadi korban bom bunuh diri. Dalam situasi dan kondisi seperti itu, mereka jadi bingung dan kebanyakan dari mereka bertanya kepada maulananya.

Namun, tidak jarang maulananya justru menginfiltrasi mereka dengan paham-paham radikal. “maka dari itu, kami minta agar para ibu menjadi agen perubahan yang positif sehingga anak-anak tidak terlibat radikalisme,” ujar Mossarat.

Ulama perempuan pun membangun pandangan yang melawan kebiasaan masyarakat seperti dengan meningkatkan kapasitas dari guru agar bisa membangun toleransi. “kami melakukan kegiatan kreatif sehingga mereka bisa belajar dan diakui. Namun, pekerjaan kami mengandung resiko karena kami ingin mengubah pola pikir di masyarakat,” kata Mossarat.

 

Sumber: Harian Republika, 28 April 2017