“Ya Allah, jadikan aku perempuan, sebagai tanda-tanda kebesaran-Mu, sehingga mereka akan melihat diri-Mu, saat melihat diriku.” (Doa Ibu Nyai Masriyah saat Pembukaan Kongres)

Tidak henti-hentinya orang menyatakan salut, antusias, dan bangga dengan mata acara pembukaan KUPI, 25 April 2017 malam. Sederhana tapi memukau. Tanah di pelataran acara boleh bergelombang dan tidak rata. Deretan kursi yang berjajar juga boleh terbuat dari plastik murahan terkepung tenda yang sama sekali tidak istimewa. Kursi-kursi depan, tempat duduk para pejabat, tokoh ulama, dan tamu undangan, juga jauh dari kesan mewah.

Tetapi kalimat-kalimat yang digemakan di panggung pembukaan membuat banyak orang terkesima. Simbol-simbol yang digunakan peserta yang membuka acara (al-Qur’an, Hadist, Kitab Kuning, UUD 45, pohon hidup, air dan tanah, serta konvensi internasional) menyentak kesadaran bersama. Ini Islam Indonesia. Islam yang wasatiyah, berkemajuan, dari bumi Nusantara.

Saat itu, aku memilih duduk di belakang. Sengaja. Di deretan samping kiri dan kananku adalah tokoh-tokoh senior gerakan perempuan. Aku sendiri diapit dua orang kyai kharismatik di kalangan pesantren dan aktivis gerakan. Mereka bangga dengan acara ini. Aku tersenyum lepas. Sumringah tiada tara.

Padahal sehari sebelum Kongres, kami masih diliputi banyak kekhawatiran dan ketakutan. Detik dan menit pra-Kongres teramat menegangkan. Yang ini belum ada. Yang itu kurang. Tokoh ini nggak bersedia datang. Tokoh lain berhalangan. Beberapa juga mengkritik komposisi peserta. Beberapa juga tersinggung karena tidak diterima sebagai peserta.

Siapakah yang membuat semua orang sumringah dan bangga? Siapakah yang secara sigap membalik seluruh kekurangan di acara menjadi kehebatan? Siapakah yang membuat KUPI sampai sukses sejak menit pembukaan pertama?

“Saya yakin Allah SWT. telah menggerakan kekuatan-Nya untuk menyukseskan KUPI. Di tengah berbagai kekurangan dan kebuntuan, ada saja jalan. Di antaranya melalui BSM, Bank Syariah Mandiri. Ia tidak tahu akan ada KUPI. Ia datang membangun 40 WC yang cantik di Pondok Kebon Jambu sebelum acara KUPI. Terimakasih BSM,” suara Bu Nyai menggema dalam sambutannya di Pembukaan. Kalimat ini terus terpatri dalam ingatanku. Tangan-tangan Tuhan ternyata bekerja di Pondok Kebon Jambu.

*****

“Tinggal enam hari lagi, tenda belum jelas, panggung, kursi, sound system, dan kasur untuk peserta, jalan menuju pesantren juga masih berlubang,” kata Bu Nyai Masriyah dalam sebuah percakapan telpon. Bahkan malam hari H, sound system belum bisa kami datangkan, karena kami bingung dengan apa kami bisa pastikan. Gladi resik-pun akhirnya batal. Memang ada yang menjanjikan akan membantu. Dan kami berterima kasih untuk para dermawan. Tetapi janji-janji itu sering tidak dibarengi dengan kepastian. Membuat kami selalu saja deg-degan. Sehingga kami putuskan untuk menyewa yang paling sederhana dan murah. karena khawatir tidak datang dukungan pada saat tagihan.

Sekitar dua minggu sebelum Kongres. 9 April 2017. Di sebuah ruang kecil Kekini di bilangan Cikini Jakarta. “Qih, benarkah tidak ada yang urus dokumentasi untuk acara sebesar KUPI,” tanya seorang kolega, perempuan hebat, putri Sang Kyai mantan Presiden.

“Benar Mbak,” jawabku. “Ada nama, tapi tidak ada yang bekerja,” tambahku.

“Okey, aku bersedia tangani seluruh hal terkait dokumentasi mulai sekarang dan sampai acara,” sang putri hebat mengajukan diri.

“Alhamdulillah,” seru kompak kami berenam yang saat itu sedang memverifikasi peserta KUPI.

“Ada dana Qih untuk dokumentasi?”

“Nggak ada Mbak”.

“Oke aku akan urus semua,” responnya langsung sama sekali tanpa jeda. Tanda ketulusan, komitmen, dan kebersamaan.

“Horeeee…,” tawa kami lepas semua.

“Ya Allah, begitu baiknya Mbak satu ini,” gumam hatiku.

Tahu kah khalayak ramai siapa tokoh di balik KUPI ada di Facebook, Twitter, Youtube, ada endorsement berbagai tokoh utama, ada dokumentasi video lengkap, ada desain di berbagai perlengkapan Kongres, spanduk dan baliho, ada photo booth yang selalu ramai jadi rebutan para peserta untuk mengambil gambar diri atau bersama? Semua itu adalah sentuhan orkestrasi sang putri Kyai. Ketika aku sampaikan semua ini ke Bu Nyai, “Begitulah tangan-tangan Tuhan bekerja,” katanya. “Oh…..,” gumamku di hati yang paling dalam.

Seminggu sebelumnya, pada rapat kerja (raker) KUPI yang dilangsungkan usai workshop Penyusunan Metodologi KUPI di Kemang, Jakarta Selatan, 6 April 2017, Panitia hanya memiliki sejumlah uang untuk konsumsi dan akomodasi ala Pesantren untuk 500 orang peserta saja. Pada saat itu, jumlah peserta yang bersedia hadir dengan ongkos sendiri juga belum tembus angka 500. Masih jauh bahkan. Akhirnya beberapa lembaga bersedia ngongkosi sejumlah peserta dari sejumlah daerah, seperti Aceh, Padang, Lampung, Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka juga bersedia mengambil bagian di kegiatan Kongres. Dengan demikian sebagian masalah tentu saja teratasi. Tetapi masih belum cukup.

Beberapa hari setelah acara di Kemang jumlah peserta tembus sedikit dari 500. Bisa jadi itu pengaruh dari berbagai media yang membicarakan tentang KUPI, usai siaran pers yang diadakan KUPI pada 9 April 2017 di Kekini, Cikini, Jakarta. Acara yang ditangani oleh seorang kolega ini sedikit banyak berdampak pada membludaknya peserta yang mendaftar. Mulai tanggal 14 April 2017 tembus ke angka 1200an. Meski telah tembus ke angka tersebut tetapi yang melobi untuk menjadi peserta KUPI masih saja terus berdatangan dari berbagai tempat yang jauh, dan relatif sangat representatif sebagai ulama perempuan. Kami kewalahan. Karena kemampuan kami hanya untuk 500 orang. Kalau sisanya akan diterima, konsekuensinya mereka harus urus makan dan akomodasi sendiri. Kami harus bedakan peserta dari pengamat, agar hanya peserta saja yang berhak atas akomodasi dan konsumsi. Panitia lalu memutuskan akan menggunakan sistem kupon makan khusus yang terdaftar sebagai peserta.

“Tidak bisa. Saya tidak mungkin membedakan `yang peserta silahkan makan, yang pengamat silahkan keluar’,” kata Bu Nyai. “Kalau gitu, kami harus sedia makan untuk 1000 orang lebih. Tamu tidak mungkin kami tolak. Saya tidak akan minta lagi dana ke panitia KUPI untuk ini. Saya akan berdoa saja semoga Allah membantu acara ini agar sukses. Membantu segalanya,” tegasnya.

Padahal akhir Februari dan awal Maret 2017, kami harus merayu jaringan tiga lembaga (Rahima, Fahmina, Alimat) untuk menjadi peserta. “Tiga hari ya mbak? Waduh aku gimana bisa izin kerja dari kantorku? Ngajarku siapa yang akan ganti? Pesantrenku apa bisa ditinggal ya.” Begitu kira-kira suara beberapa calon peserta yang ditelpon temanku, staf Fahmina. Dari 250 lebih nama-nama alumni Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP) Rahima misalnya, yang diharapkan menjadi tulang punggung peserta, tidak sampai 100 orang yang memastikan bisa hadir sebagai peserta KUPI. “Waduh, gimana ya…,” gerutuku dalam hati.

Ini Maret. Tetapi di pertengahan April, peserta yang mendaftar justru berjibun, bahkan beberapa harus kami tolak, karena pertimbangan kapasitas dan kemampuan Panitia. Bahkan, Senin 24 April 2017, masih ada sekitar 30 orang yang nekat datang ke Cirebon, dan meminta jadi peserta. Di depan mata kepalaku sendiri mereka menyatakan bersedia tidak diakomodasi Panitia dan bersedia “bawa rantang makan” sendiri. Satu dari mereka maju memberi donasi uang untuk KUPI. “Nih, aku menyumbang satu juta rupiah,” tegasnya. Lebih dari itu, mereka bersedia mensukseskan agenda-agenda KUPI ke depan. “Subhanallah,” gumamku dalam hati berkali-kali. Aku teringat omongan Bu Nyai.

*****

Dua bulan sebelumnya, akhir Januari 2017, raker Tim KUPI di Kantor Rahima masih menyangsikan Kongres bisa terselenggara pada bulan April 2017. Beberapa peserta raker dengan jelas meminta mundur lagi. Padahal April 2017 juga sudah keputusan yang ketiga. Menilik ke belakang: secara resmi KUPI diputuskan di Kantor Fahmina Cirebon tahun 2015 untuk diadakan pada pertengahan 2016. Lalu diputuskan untuk mundur jadi akhir 2016. Dan mundur lagi jadi April 2017. Berbagai keputusan ini tentu saja karena ketidak-siapan Panitia menyelenggarakan KUPI.

“Kenapa mundur lagi?” tanya salah seorang yang hadir. Jawaban yang muncul lalu: karena belum ada persiapan yang terlihat, padahal tinggal 2,5 bulan lagi. Baik kepesertaan, konsep yang logis dan komprehensif, teknis dan substansi acara, dan hal-hal teknis lainya. Dana yang tersedia juga belum ada sama sekali. Hanya untuk konsumsi dan akomodasi 500 orang yang sudah tersedia. Itupun untuk ala Pesantren.

“Persoalannya bukan di waktu,” kata yang lain. Mundur sampai kapan pun, kita tidak akan siap. Tetapi lebih karena tidak ada yang bersedia mengelola secara full time. Sementara ini kita mengelolanya secara “keroyokan”, dari berbagai lembaga, dan dari jarak jauh. Tanpa koordinator yang memastikan pekerjaan selesai sesuai tenggat waktu. Masing-masing juga lebih banyak bekerja untuk KUPI dari waktu dan tenaga yang tersisa dari aktivitasnya sehari-hari. Jika demikian terus, mundur bukan jawaban.

“Lalu bagaimana?” yang lain menimpali.

Aku tidak sampai hati melihat rencana besar KUPI mundur dan mundur lagi. Jika dibiarkan begitu, bisa jadi mati di tengah jalan. Alias mimpi KUPI bubar. Aku teringat pada medio kedua 2014, ketika kedatangan tokoh senior Rahima ke rumahku. Yang satu Kyai kharismatik. Yang satu lagi Bu Nyai muda yang enerjik. Direktur Rahima. Mereka datang untuk peringatan 100 hari wafatnya karibku. Seorang ulama perempuan yang pintar, cerdas, dan rendah hati dari Arjawinangun, tempat ku mesantren.

Dua senior Rahima itu datang untuk sharing soal gagasan pertemuan ulama perempuan alumni PUP Rahima. Aku tegaskan usulku: “Kongres Ulama Perempuan se-Indonesia saja”. Beberapa bulan sebelumnya juga pernah aku usulkan hal ini. “Kalau jadi Kongres ini, aku siap jadi pelayan para ulama perempuan,” aku bilang saat itu kepada mereka berdua.

Teringat pertemuan dan omongan itu, aku lalu menawarkan diri di raker KUPI tersebut, akhir Januari 2017: “Aku bersedia bekerja untuk KUPI sepenuh waktu. Meninggalkan seluruh pekerjaanku, kecuali mengajar dua hari Senin dan Selasa. Sisanya untuk KUPI semua.” Aku juga tidak tahu dari mana kemantapan ini keluar dari mulutku.

“Horeee…….!!!!” semua yang hadir di Rahima saat itu girang. Sejak itu, mulai awal Februari, aku merajut semua kapasitas yang dimiliki orang-orang yang berkomitmen untuk KUPI. Mengontak mereka, menagih komitmen, meminta kontribusi, mengumpulkan hasil kerja masing-masing dan merangkai semuanya menjadi satu kesatuan untuk KUPI. Kerja mereka: semuanya: terlalu indah untuk dilupakan.

Aku terharu dan tersanjung sesungguhnya. Ternyata energi dan semangat orang-orang untuk KUPI itu besar sekali. Teramat besar bahkan. Orang-orang itu mudah dikontak. Siap berkontribusi. Bersedia kapanpun dan dimanapun. Aku sesungguhnya tidak melakukan apapun. Aku hanya harus pandai-pandai membikin rencana lalu membagi pekerjaan pada anggota tim. Terus, meminta dan menagih pada waktunya. Karena tentu saja, mereka sudah sibuk dengan pekerjaan ritual mereka sehari-hari. Aku juga perlu memahami kapasitas masing-masing, kemampuannya dan jaringannya. Lalu tinggal “klik” untuk dirajut satu sama lain. Menjadi pelangi yang indah. Yang membuat banyak orang sumringah.

“Aku siap mem-back up satu kegiatan yaitu Seminar Internasional. Semua tenagaku dan lembagaku, aku kerahkan semua untuk acara KUPI yang satu ini,” kata salah satu kolegaku. Padahal ia tidak termasuk dalam kepanitiaan KUPI. Beberapa orang lain dari lembaga yang berbeda juga siap mengambil kegiatan lain dalam Kongres. Satu persatu pekerjaan, kemudian, terdistribusi habis ke beberapa orang dan berbagai lembaga. Aku tinggal kontrol dan nagih.

“Jangan segan-segan ya Qih, kalau perlu bantuan, kalau aku bisa, aku pasti bantu,” kata yang lain. “Pak Kyai, aku kok gak pernah dikontak. Aku siap loh dimintai bantuan untuk KUPI. Aku bisa nerjemahin dokumen jika diperlukan. Kalau tidak terlalu banyak, bisa segera jadi,” salah seorang kolega senior kirim chat ke WA-ku. “Subhanallah,” aku bergumam terus dalam hati. Aku juga teringat omongan Bu Nyai soal tangan-tangan Tuhan itu.

“Aku akan bekerja mengelola media,” kata kolegaku yang se-almamater di Arjawinangun. Lalu, melalui sentuhan tangannya, eksistensi KUPI diberitakan oleh berbagai media, baik lokal, nasional, maupun global. Bahkan ada lebih dari 500 liputan media tentang KUPI. Seluruh anggota tim-nya adalah relawan sejati. Penuh dedikasi. Bekerja senyap. Bekerja keras. Tanpa diketahui banyak orang. Panitia sempat merasa berdosa karena transportasi dan akomodasi untuk mereka pada awalnya, sempat tidak tersedia. Bahkan sampai akhir acara fasilitas wifi juga tidak bisa disediakan panitia. Mereka tidak bertanya dan tidak meminta. Apalagi menggugat. “Subhanallah”.

Ada banyak sekali orang yang bekerja keras untuk KUPI. Aku mengagumi mereka semua. Lebih dari itu, aku melihat perspektif yang aku yakini benar-benar hadir dalam kerja-kerja pengelolaan KUPI di antara mereka. Baik yang senior, sebaya, maupun junior dariku. Baik yang inti, maupun yang bukan inti. Yaitu perspektif mubadalah, atau kesalingan dan kerjasama. Saling mendukung, saling memberi kepercayaan, saling menolong, saling memberi kesempatan, dan saling mengimprovisasi. Energi KUPI ini begitu spiritual. Tidak ada yang mengecilkan dan menjatuhkan. Satu sama lain membesarkan dan mendukung. Dahsyat sekali.

Bahkan ketika ada kesalahan yang cukup fatal pun, akibat model kerja yang “keroyokan” dan kurang koordinasi, tidak ada sikap saling menyalahkan. Gimik-gimik tentu saja terjadi. Tetapi masing-masing introspeksi diri. Lalu saling memahami dan memberi kepercayaan. Semua hanya diam sejenak, lalu segera “move on”. Menyongsong hari dan jam-jam mendatang. Bekerjasama, saling menguatkan dan saling mendukung kembali. Tidak sedikit yang justru membikin improvisasi yang keren dari sesuatu yang dianggap kesalahan. Benar-benar mubadalah. Nilai yang sungguh tidak saja islami, tetapi juga ilahi (sakral dan transendental). Masha Allah.

*****

Di hari penutupan Kongres. Kamis 27 April 2017. Aku juga menyaksikan tangan-tanganNya bekerja hingga membuat banyak orang menitikkan air mata haru dan bahagia. Spiritual, emosional, sekaligus intelektual. Semua terkumpul. Benar-benar monumental. Tiada duanya. Padahal semua tetap dengan kesederhanaan yang semula. Kursi-kursi plastik yang berjajar. Beberapa basah terkena tempias hujan. Karena tenda yang kami sewa tidak mampu menahan rintik hujan padahal kecil. Untung rintik itu segera berhenti. Kursi yang basah pun penuh peserta kembali.

Jika bukan tangan-tangan Allah SWT yang bekerja, lalu siapakah yang bisa membuat sebuah perhelatan sosial dan intelektual dibanjiri air mata haru dan bahagia? Siapa? Semoga Allah SWT., terus mengawal dan membantu KUPI agar bisa memberi manfaat bagi umat, bangsa, publik dunia. Juga kelestarian lingkungan dan alam semesta.

Meniru doa Bu Nyai di atas, aku ingin mengakhiri refleksi ini dengan doa juga. “Ya Allah, jadikanlah KUPI sebagai tanda-tanda kebesaran-Mu, dan teruslah tangan-tangan-Mu bekerja untuk-nya, sehingga manusia di dunia ini akan melihat-Mu ketika memandangnya, akan bersyukur pada-Mu ketika merasakan kiprahnya.” Amin.