Ibarat sebuah rencana pertunjukan sebuah konser, pertunjukan harus berlangsung. Urusan penonton berteriak ha-hu atau lemparin botol, itu mah soal lain. Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) ini, bagi keluarga besar Rahima; terutama wadyabala (para staf Badan Pelaksana-nya) adalah ‘mimpi wajib’ untuk merefleksikan mimpi Rahima sebagai sebuah gerakan yang mengusung ‘brand’ Ulama Perempuan untuk Kemaslahatan Manusia, sejak ulang tahun ke sepuluhnya, dan sejak ia ditetapkan menjadi Perhimpunan Rahima. Pengkaderan Ulama Perempuan atau lebih tepatnya Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP), awalnya hanyalah sebuah gagasan yang berkembang menjadi sebuah program dan kini telah berjalan 4 angkatan regular dan 2 angkatan pendek. Dengan coverage area meliputi Jawa, Madura dan Aceh.

Namun, persoalan rekognisi terhadap kiprah dan peran ulama perempuan serta otoritas mereka di berbagai institusi keagamaan terutama Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) tetap jadi Pekerjaan Rumah (PR) besar. Mengapa? karena selama ini institusi keagamaan bak ranah kekuasaan yang didominasi oleh laki-laki yang implikasinya menghasilkan fatwa keagamaan yang penuh bias gender dan nilai-nilai patriarkhi. Belum lagi, sejarah sering dipandang sebagai ‘his story‘ (ceritanya dia laki-laki) dan bukan ‘her story‘ (ceritanya dia perempuan), yang kerap membuat eksistensi perempuan termasuk ulama perempuan menjadi ‘invisible‘. Maka, KUPI sesungguhnya merupakan sebuah kesempatan untuk membuka secara massif realitas akan kesadaran ini. Realitas bahwa keberadaan ulama perempuan ini ada dalam sejarah, ada di tengah masyarakat, dan ada keberpihakan mereka pada kelompok yang terzalimi, diabaikan, dan dimarginalkan keberadaannya.

Membantu menyusun gagasan ini, mulai dari mempertemukan pihak-pihak yang se-visi dan memiliki mimpi yang sama, merencanakan kegiatan, menggalang dukungan dari berbagai pihak baik para calon donor ataupun non donor, juga termasuk pihak yang cukup diharapkan jadi ‘pembuka pintu’ (pave the way), bagi saya adalah sebuah kehormatan untuk merealisasikan mimpi besar ini. Kerja konsep atau kerja teknis, di depan atau di belakang layar, terlihat atau tak terlihat, bagi saya sama saja. Semua sama terhormatnya. Dan ketika akhirnya KUPI terlaksana, ibarat firman Allah “kun fayakun” (Jadilah, maka ia “fa yakuun“), berproses untuk terus menjadi, ia bukanlah sebuah proses instan. Namun, sebuah proses yang membutuhkan energi panjang dan partisipatif dari semua pihak, yang perlu kita jaga senantiasa agar benar-benar membuahkan rahmat bagi semesta. Aamiin.