Suguhan happening art sederhana membuka Kongres Ulama Perempuan Indonesia di Pondok Pesantren Kebon Jambu Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Selasa (25/4). Tujuh perempuan masing-masing membawa Al Quran, kumpulan hadis, kitab kuning, teks UUD 1945, kumpulan Konvensi Hak Asasi Manusia Internasional, tanaman segar, serta air dan tanah.

Masing-masing berseru, “Nama saya Rahmatan dari Papua. Di tangan saya tergenggam Al Quran, hidayah Allah yang maha pengasih dan penyayang …. ” KUPI diselenggarakan dengan merujuk tujuh hal itu. Tanaman, air, dan tanah menjadi simbol alam raya dan kehidupan nyata sebagaimana Islam hadir sebagai rahmat seluruh alam. Suguhan itu tidak hanya menggugah rasa, tetapi juga meneguhkan komitmen keislaman dan kebangsaan. Perempuan ulama yang berkongres di Kebon Jambu berikhtiar menyelesaikan dan menggaungkan berbagai persoalan yang kerap menempatkan perempuan sebagai korban. Tujuannya adalah kemaslahatan umat. Mengapa Kebon Jambu? Pesantren itu didirikan pada 1993 oleh Masriyah Amva dan suaminya, Muhammad, ulama yang masyhur sebagai pendidik andal sejak mengasuh Pesantren Kebon Melati. Pesantren Kebon Jambu dibangun di lahan perkebunan jambu biji milik ayah Masriyah. Ketika Muhammad meninggal pada 2007, banyak orangtua meminta anaknya pulang dan itu sungguh memukul mental Masriyah. Namun, Masriyah yakin, pesantrennya akan kembali bersinar. Kepercayaan dan keimanan penuh pada Allah membuatnya mampu memperjuangkan kesetaraan. Baginya, perempuan diharamkan bersandar kepada kekuatan laki-laki. Para perempuan harus hanya bersandar pada Allah SWT agar mereka memiliki kesetaraan. Pesantrennya kembali didatangi santri seiring nama Masriyah yang semakin dikenal luas sebagai feminis. Kini, Pesantren Kebon Jambu memiliki lembaga formal tsanawiyah dan aliyah dengan jumlah santri mencapai 1.400 orang. ”Kesetaraan gender bukan untuk merusak agama, melainkan justru menguatkan. Laki-laki tidak perlu khawatir,” kata Masriyah. Pesantren Kebon Jambu pun menjadi simbol perjuangan perempuan ulama. Tepat jika selama tiga hari berbagai persoalan perempuan dibahas di pesantren ini, dihadiri lebih dari 500 peserta dari 15 negara, di antaranya Malaysia, Pakistan, Afganistan, Arab Saudi, Nigeria, dan Kenya. Sembilan tema dikaji dengan intensif, yakni tema pendidikan keulamaan perempuan, respons pesantren terhadap keulamaan perempuan, kekerasan seksual, pernikahan anak, dan buruh migran. Tema lain adalah pembangunan keadilan berbasis desa, radikalisme agama, krisis dan konflik kemanusiaan, ketimpangan sosial, serta kerusakan lingkungan.

 

Peran Perempuan Ulama

Pengasuh Pesantren Arjawinangun, Cirebon, Husein Muhammad, mengutip Umar Ridha Kahalah yang menulis buku Ulama Perempuan di Dunia Islam dan Arab. Banyak tokoh perempuan yang berkontribusi besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan, cerdas, baik, zuhud, dan bersih. Sukainah binti al-Husain, cicit Nabi Muhammad, adalah ulama terkemuka pada zamannya, guru penyair Arab Jarir al-Tamimy dan Farazdaq. Ayahnya, Imam Husain bin Ali, menyebut putrinya itu ”seseorang yang hari-harinya sering berkontemplasi”. Sayang, sejarah kaum Muslimin lantas memasukkan kembali perempuan ke dalam kerangkeng rumah. Aktivitas intelektual dibatasi. Perempuan Islam tenggelam dalam timbunan pergumulan sejarah. Mereka dilupakan dan sistem sosial patriarkis menjadi dominan. Fajar baru datang pada awal abad ke-20 ketika banyak perempuan Islam menggugat. Indonesia memiliki sejumlah perempuan ulama, di antaranya Rahmah el-Yunusiyah, pendiri Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang. Lalu, ada Nyai Khoiriyah Hasyim dari Jombang yang menguasai kitab kuning dan piawai dalam manajemen pendidikan. Ada pula Tengku Fakinah dan Sultanah Safiatudin dari Aceh yang menguasai beberapa bahasa asing. Ketua PP Aisyiah, Siti Aisyah, mengatakan, para perempuan Indonesia berdakwah dengan caranya masing-masing. Ia menyebut nama Siti Aisyah Wetin We Tenrille dari Sulawesi Selatan, penulis epos La-Galigo. Raden Ajeng Kartini adalah murid Kiai Sholeh Darat dari Semarang yang menafsirkan Al Quran Surat Al-Baqoroh Ayat 257 menjadi habis gelap terbitlah terang. ”Dunia pesantren juga menempati peran strategis dalam transformasi ilmu-ilmu Islam, pemelihara tradisi Islam, dan reproduksi perempuan ulama,” katanya. KUPI menjadi wadah berjejaring perempuan ulama serta aktivis dan perempuan cendekiawan. Pengajar Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran, Nur Rofiah, mengatakan, perempuan ulama memahami nash atau teks (seperti Al Quran dan hadis), sedangkan perempuan aktivis memahami realitas. Pemahaman nash dan realitas itu bisa diintegrasikan dalam menegakkan keadilan hakiki bagi perempuan.

 


Melibatkan santri

Apresiasi pada KUPI tidak hanya tertuju pada pengkajian tema yang bermuara pada perumusan ikrar perempuan ulama, rekomendasi, dan pandangan keagamaan atau semacam fatwa (Kompas, 28/4). Apresiasi juga tertuju pada penyelenggaraan KUPI yang melibatkan ratusan santri Pesantren Kebon Jambu. Anak-anak muda itu tidak hanya membantu kepanitiaan dengan ikhlas, tetapi juga turut mendengarkan dan belajar untuk kemudian memetik hikmah. Para santri membantu hingga hal yang sangat detail, seperti menata sandal dan sepatu peserta KUPI yang berkunjung ke rumah Nyai Masriyah, mengambil piring-piring bekas makan peserta, serta memunguti sampah yang tercecer. Sebagian santri yang tidak terlibat kepanitiaan ”diungsikan” ke pesantren lain di kawasan Babakan Ciwaringin. Sebab, banyak peserta memilih tidur di pesantren. Tidak ada yang lebih hebat dari kepanitiaan yang didasari keikhlasan dan ketulusan tanpa dibayar. Barisan santri sigap menata tempat parkir, membagikan makalah seminar, hingga mencuci piring dan gelas kotor yang menumpuk. Detail-detail tampak misalnya pada pilihan konsumsi yang variatif dan sangat enak selama tiga hari. ”Kami menyediakan 1.500 porsi (setiap kali makan) untuk konsumsi, jaga-jaga kalau kurang,” kata seorang panitia. Di Pesantren Kebon Jambu, peserta KUPI merasakan suasana desa yang asri. Seminar dan diskusi dilakukan di ruang terbuka dan ruang-ruang kelas yang panas. Suasana ini membuat KUPI terasa merakyat sekaligus membuktikan bahwa seminar tidak selalu elitis di hotel-hotel seperti kritik-kritik yang kerap muncul. Kata Islam berakar dari salama. Selain Islam, bentukan kata lain bisa salamah yang berarti ’keselamatan’ dan assalam yang bermakna ’kedamaian’. Salam damai dari perempuan ulama di Kebon Jambu.(Susi Ivvaty/Abdullah Fikri Ashari)

 

Sumber: Harian Kompas, 05 Mei 2017