Keberangkatan kami bertiga (Dra. Anin, Dra. Ulin dan saya Nuril) dari Jawa Timur bukanlah tanpa beban dan kegelisahan. Setumpuk persoalan kemanusiaan yang menggelayut di pundak, dari persoalan kekerasan dan ketimpangan gender sampai dengan peran perempuan dalam pengelolaan lingkungan dan pengurangan resiko bencana, kami usung ke Cirebon dengan harapan bahwa pada KUPI nanti, kami akan menemukan tempat dan kawan untuk mendiskusikannya secara berimbang dan mendalam.

Betapa takjub merambati hati sejak sesi FGD (focus group discussion) di Batiqa di mulai, ada paradigma baru yang selama ini serupa bayangan dan kemudian menjadi terang, adalah resiprokal (kesalingan) sebagai pendekatan dalam mengkaji dan menjalani kehidupan berlandaskan teks Qur’an dan Hadits yang selama ini seringkali dibaca dan dimaknai secara sepihak oleh kaum lelaki sebagai otoritas keilmuan. Apa yang disampaikan oleh Kyai Faqihuddin tersebut, menyulut diskusi panjang kami bertiga yang keesokan harinya disatukan dalam bilik Mekah di Kebon Jambu.

Pemikiran tentang apa yang seharusnya ada dan terjadi pada kehidupan di dunia ini, semakin benderang saat dalam seminar internasional dihamparkan oleh para narasumber wajah dunia yang berkelindan dengan eksistensi perempuan di dalamnya yang seringkali menjadi korban (maraknya cerai gugat, nafkah keluarga, poligami, pernikahan anak, agen bom bunuh diri, dan lain sebagainya). Meskipun di sisi lain potensi dan kiprahnya sudah tak terbantah dalam pembangunan peradaban Islam. Seminar tersebut menggoreskan catatan bahwa dalam banyak kasus dibutuhkan kesolidan dan persatuan para ulama dalam menyikapi persoalan-persoalan relasi gender tersebut.

Ada rasa yang menggetarkan jiwa ketika Ibu Badriyah Fayumi dan kemudian Nyai Masriyah Amva menuturkan pemikiran-pemikiran mereka tentang bagaimana sesungguhnya Islam sungguh-sungguh telah menunjukkan bahwa kehidupan yang indah tanpa penjajahan adalah bukan hal yang tidak mungkin. Jika hanya menyandarkan diri kepada Allah, baik lelaki maupun perempuan, maka tak ada lagi kesempatan untuk saling memperbudak.  Keduanya sama kuat dan hanya pantas patuh kepada Allah saja.

Beberapa hari di Kebon Jambu, Bilik Mekah menjadi saksi intensitas diskusi kecil kami tentang apa-apa yang hari itu kami kaji, hingga pada ujungnya kami sampai pada suatu pemikiran “perempuan dan laki-laki sebagai sesama manusia memiliki potensi untuk menegakkan keadilan maupun menjadi penindas. Sehingga harus sadar dan benar-benar menindakkan kesadaran bahwa keduanya adalah subyek dalam kehidupan. Keadilan tidak datang sebagai pemberian, namun merupakan jerih payah yang diusahakan. Tidak pantas lagi jika kekuatan disandangkan pada laki laki dan lemah pada perempuan. Dalam cahaya Allah, keduanya adalah sahabat dalam menciptakan indahnya perdamaian dunia”.