Ulama selama ini di kesadaran publik, identik dengan laki-laki. Terlalu kuat kesan itu menancap di bawah sadar kita. Makanya, ketika ada Konferensi Ulama Perempuan, nomenklatur ini bukan hanya menghentak kesadaran, tapi penyadaran bahwa peran perempuan tidak bisa dianggap remeh. Bukankah kita memiliki argumen dan preseden sejarah sejak Islam yang dipimpin Rasulullah SAW itu sudah melibatkan ‘perempuan utama’ di ranah publik?

Indonesia memiliki sejarahnya sendiri bagaimana perempuan mewakili kelompok strategis dalam penyebaran Islam dan menjadi pilar pembentukan NKRI. Bukan hanya sebagai ibu, pun tidak hanya ulama, perempuan Indonesia menempati ruang yang juga ditempati laki-laki. Jadi pemimpin bahkan Sulthanah dan Presiden, juga ada. Ulama? Jelas bisa dihitung. Pejuang kemerdekaan, banyak. Aktivis organisasi dan partai, gak usah diragukan.

Saat menutup KUPI di Cirebon, Menteri Agama Lukman Hakim Saefudin menyatakan siap memfasilitasi pendirian pesantren tinggi bagi kader ulama perempuan. Selama ini memang Ma’had Aly di beberapa pesantren didominasi (mahasantrinya) laki-laki. Jadi kalau ada Ma’had Aly khusus perempuan, semoga tidak eksklusif, tapi keberpihakan dan kesemestian.