Saat suami bersama teman-teman lainnya menyampaikan berniat menyelenggarakan KUPI dengan segala tantangannya, kami senang, bangga diiringi dengan pertanyaan dengan kesiapan, dukungan elemen dan hal lainnya.

Dari proses awal KUPI yang seperti “merindui matahari, dalam kegelapan mendung”, jiwkami merasa Insya Allah bisa terselenggara atas bantuan maksimal teman-teman dan pertolongan Allah. Atas nasehat suami, kami mulai  berdoa memohon kepada Allah dengan berdzikir bersama santri setiap ba’da Isya. Dalam perjalanan mempersiapkan KUPI, dedikasi dan kinerja sahabat terbaikku “Faqih” kesiapan Yu Masriyah dan Mbak Badriyah dan kawan-kawan menumbuhkan rasa optimis.

Hari demi hari melalui cerita yang disampaikan Suamiku, Adikku Affah, Kakakku Yu Maryam, Yu Masriyah, selalu kami diskusikan. Hal paling menarik dari diskusi tersebut adalah konten KUPI dari Panitia Jakarta, yang selalu kami bahas baik ketika di rumah, di mobil dan berbagai tempat lainnya. Kesimpulan yang kami tangkap adalah bahwa pada tahap awal ini, tema-tema yang dibahas dalam KUPI, bersifat universal, tidak melawan arus agar apa yang dibahas KUPI di diterima kalangan Pesantren.

Ketika bertemu Yu Masriyah, sebagai shohibul bait, kami membicarakan banyak hal. Karena kesiapan sarana dan prasarana yang belum memadai dan dukungan dana juga belum ada, membuat jantungku berdebar. Ikhtiar, doa, dengan dzikir bersama santri digelar setiap malam. Sementara sahabat Faqihuddin dan Panitia KUPI Pusat, secara lahiriyah, terus bekerja siang-malam mempersiapkan penyelenggaraan KUPI. Sehingga kemudian ada cahaya ketika sahabat Faqih menyampikan ada bantuan  dari donatur untuk kegiatan pembahasan sidang komisi sampai fatwa. Namun demikian, kabar baik ini belum membuat hatiku tenang, karena masih ada pertanyaan lanjutan dalam hatiku, bagaimana dengan pendanaan untuk sarana fisik dan lainnya. Berbagai upaya terus kami lkamikan, mengetuk pihak-pihak terkait untuk berpartisipasi agar kebutuhan KUPI bisa terpenuhi. Rasa kecewa juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kerja-kerja ini, ketika pihak yang kami datangi kurang merespon, walaupun kami sampaikan bahwa kegiatan KUPI ini sangat strategis dan berskala internasional. Sebagai mahlukNya tak lupa kami bertawakal, satu-satunya harapan adalah Allah sebagai penolong kami.

Di tengah kekhawatiran tidak bisa melayani dan menghormati peserta yang membludak dengan layak, tiba-tiba suamiku menelpon dari Padang bahwa temannya mengabarkan ada bantuan khusus untuk Buya (biasa suamiku dipanggil) dan tidak mau kepada yang lainnya. Mengingat tanggungjawab yang begitu besar atas acara KUPI, Buya kemudian menyodorkan bantuan untuk Pesantren Kebon Jambu kepada donator (Bank Mandiri Syariah), dan alhamdulillah disetujui untuk sarana sanitasi Pesantren Kebon Jambu. Kami bersyukur karena apa yang kami usahakan dan mohonkan melalui doa, pelan tapi pasti membawa hasil.

Disamping itu, untuk mensukseskan acara KUPI, kami mengumpulkan keluarga besar Bani KH. Amin, KH. Sanusi dan Bani lainnya di Babakan Ciwaringin dan sekitarnya. Alhamdulillah, keluarga merespon dengan sangat antusias dan menawarkan berbagai fasilitas yang dimiliki untuk kegiatan tersebut. Kami sekeluarga melkamikan pertemuan dan cek lapangan untuk acara KUPI.

Diawali pertemuan besar seluruh Pengasuh Pesantren Babakan, kemudian program sanitasi itu digelar. Namun demikian ternyata dilapangan masih banyak kekurangan yang harus dipenuhi. Bukan hanya sanitasi, kelengakapan kamar penginapan, dan kebutuhan lainnya juga masih banyak yang kurang, membuat kami harus berpikir keras. Untuk menghilangkan kepenatan dalam mempersiapkan KUPI, sesekali kami refreshing, menghibur diri, jalan-jalan ke Grage Mall. Disamping dzikir bersama santri memohon kepada Allah juga semakin intens dilkamikan.

Alhamdulillah, ada informasi akan ada bantuan dari donatur, namun tetap membuat hati belum tenang, karena bantuan tersebut baru disampaikan menjelang acara. Karena ingin tidak mengecewakan peserta, kami berlari kepada Kakanwil Kemenag Jawa Barat, untuk  meminta bantuan. Disisi lain Yu Mas dengan rasa panik juga meminta kami dan teman-teman mencari dan memesan kasur, tenda, dan lain-lain. Setelah mengadu kesana kemari, akhirnya bantuan itu kemudian turun.  Namun sarana untuk istirahat masih sangat jauh dari memadai. Karena itu kami mencari pinjaman dadakan untuk melengkapi sarana akomodasi tersebut.

Sampai tengah malam bahkan dini hari seringkali kami tidak bisa tidur. Kami saling curhat dan saling mengingatkan apa yang harus segera dipenuhi dalam waktu yang sudah sangat mepet, termasuk di dalamya adalah kegiatan bakti sosial seperti; pelayanan kesehatan, dan khitanan massal. Bersama semua komponen, kami saling bahu membahu menyiapkan semuanya. Dalam puncak acara kami masih berjibaku untuk melengkapi kekurangan yang ada. Sehingga harus kami akui bahwa kami tidak bisa menghormati tamu yang mayoritas tokoh agama terutama yang menginap di Arjawinangun, secara maksimal. Alhamdulillah selama proses berlangsungnya acara KUPI karena rasa tanggungjawab kami sekeluarga selalu memantau kegiatan-kegiatan KUPI dan tidak bisa menjadi peserta aktif atau peninjau aktif dalam pembahasan di diskusi paralel.

Acara KUPI telah selesai dengan sukses dan gaungnya masih terasa sampai hari ini sampai ke dunia internasional. Dengan penuh rasa haru dan bangga, meski masih menyisakan beban tanggungjawab yang harus kami selesaikan. Tapi kami yakin Allah SWT. pasti akan menolong perjuangan kaum perempuan khususnya ulama perempuan Indonesia.

Paska KUPI, kami juga mengumpulkan Pengasuh Perempuan Pesantren se-Kabupaten Cirebon dan sepakat membentuk sebuah Forum Perempuan Pesantren Kabupaten Cirebon yang fokus pada peningkatan kapasitas SDM Perempuan Pesantren. Kami juga mencoba untuk menghubungi juga Jawa Tengan dan Jawa Timur untuk membumikan pergerakan paska KUPI. Mereka semangat meski masih banyak tantangan dan kami akan selalu mensupport teman-teman pahlawan perempuan.