Kongres Ulama Perempuan Indonesia, KUPI, memang sudah berlaku sekitar satu setengah bulan yang lalu. Tetapi, sulit sekali menghilangkan kenangan indah tentang KUPI.

Catatan kecil ini adalah sebuah refleksi pribadi saya pada acara KUPI tersebut. Sebuah memori pribadi yang ingin saya bagi. Semoga berkenan.

Kala itu, menjadi bagian dari tim yang akan mengadakan KUPI adalah sebuah kehormatan bagi saya. Sekali pun saya datang agak terlamat, tepat saat pembukaan hampir dimulai. Karena dua hal yang harus saya penuhi, satu di antaranya untuk melobi proposal KUPI.

Saya merasakan kebesaran niat untuk terlibat dan hadir dalam acara KUPI tidak sia-sia, sekali pun dalam perjalanan di atas kereta api Jakarta – Cirebon, saya sempat menangis.

Ya, kepergian saya ke Cirebon ketika itu bertepatan dengan lomba tahfidz kakak di Bandung. Dan kata-kata yang masih terngiang darinya adalah ‘mama selalu urusin perempuan lain, padahal kakak juga perempuan’. Sebuah pilihan yang sulit bagi saya, apalagi memberikan pemahaman bagi anak seusia kakak.

Tapi, lagi-lagi pilihan saya di KUPI terbayar. Pertama, acara ini penuh kejutan dan ilmu pengetahuan yang melimpah. Misalnya saat pembukaan dengan cara yang unik, ada al-quran, al-hadist, UUD 1945, kebijakan internasional, air, tanah, dan tumbuhan. Begitu juga saat penutupan, kelantangan dan suara yang menggetarkan dari para Ulama Perempuan se-Indonesia ketika membacakan ikrar dan rekomendasi hasil musyawarah keagamaan, serta ada burung yang berterbangan membuat suasana sangat khidmat dan syahdu.

Limpahan pengetahuan KUPI sajikan melalui seminar internasional, seminar nasional, diskusi sembilan isu pararel, pagelaran seni dan budaya, serta belbagai layanan kesehatan, pengaduan. Pengetahuan dan pengalaman tersebut berhasil menunjukkan bahwa Islam sangatkan kompetible pada segala jaman, berhasil menjawab tantangan umat, sekaligus menghapus prasangka buruk tentang pesantren, teroris yang dilekatkan padanya. Apalagi KUPI diadakan dalam lingkungan pesantren maha nyaman dalam limpahan kasih sayang para nyai, kyai, dan santriwan santriwati.

Kedua, KUPI menjadi ajang silaturahmi bagi semua orang. Melepaskan skat-skat jabatan, golongan, pilihan politik, atau organisasi keagamaan. Semua duduk sama di kursi yang sama.

Ajang silaturahmi misalnya kala pertemuan saya dengan para alumni Seroja Ciputat paska pembukaan sungguh sangat menyenangkan hati. Pertemuan malam itu mengingatkan saya pada masa-masa kuliah dulu. Sungguh, temu kangen tak terduga yang membahagiakan.

Hal lain yang saya rasakan juga saat makan di rumah Bu Nyai. Perbedaan pilihan politik, utamanya Pilkada DKI, paling tidak saya rasakan sudah luntur saat makan bersama. Saya dan seorang sahabat berucap, “Kita paling muda ya disini, pokoknya tiap ada yang foto kita ikut, gak peduli group mana, hahaha”. Dan saya merasakan kehangatan suasana dari para aktivis disitu, walau beda pilihan politik.

Ketiga, acara KUPI ini luar biasa memiliki magnet untuk tidak saling marah atau menyalahahkan. Paling tidak saat acara diskusi pararel. Dimana saya menjadi salah satu penanggung jawab diskusi tentang “Pencegahan Konflik dan Tanggung Jawab Ulama Perempuan Menciptakan Perdamaian”.

Sebelum diskusi dimulai, sempat terdengar kabar bahwa LCD kurang satu. Saya bukan main kaget, apalagi mengingat tema yang saya pegang langsung di bawah KUPI, tidak ada satu lembaga yang mengambil. Deg-degan luar biasa. Mulai telephone dan WA sana sini berharap LCD muncul di depan mata. Apalagi lima hari sebelum hari H saya sempat tawarkan diri membawa LCD pribadi, tetapi panitia katakan LCD cukup. Ada rasa sedih dan menyesal mengapa saya tak sedia payung sebelum hujan. Hanya kekuatan Allah, tak lama panitia menjawab, jumlah LCD aman sesuai jumlah tema. Lega sekali. Dan yang melegakan pula, saya tak merasakan ada rasa saling salah di antara kami.

Saya juga sempat salah mengumumkan ruangan tempat diskusi, tapi toh, panitia lain tidak menyalahkan saya, langsung diperbaiki saja. Sama halnya ketika ada panitia lain yang menunjukkan ada salah dalam buku manual buku, yang menurut beberapa orang dinilai fatal, toh oleh panitia yang lain bisa segera diselesaikan dengan cara yang baik dan melegakan.

Lainnya, sebelum penutupan acara, saya lagi-lagi nyaris melakukan kesalahan yang bisa membuat kekacauan yakni tiba-tiba laptop saya hang, padahal data akhir hasil dari musyawarah keagamaan ada di laptop saya, mungkin karena selama dua hari itu, colok cabut antar USB ke laptop saya terjadi.

Memang ketika itu, membuat panik luar biasa bagi beberapa teman panitia, saya pun sampai menangis di ruang panitia, bingung, segala amalan zikir saya lafadz-kan. Tapi, lagi-lagi pertolongan Allah datang. Walau laptop tak berfungsi baik, tetapi data bisa diselamatkan. Saya lega. Dan memang tidak tampak kemarahan dari wajah panitia, kupikir kepanikan yang masih wajar.

Keempat, dan ini yang utama menurut saya. KUPI mengajarkan kami, saya, semua orang, agar tidak menjadi orang yang “one person show”. Misalnya saja saat malam hari persiapan untuk musyawarah keagamaan, seorang teman berkali-kali menolak untuk menjadi pimpinan sidang, dengan alasan memberikan kesempatan pada yang lain. Sikap itu pula yang membuat saya mantab menolak menjadi moderator launching website karena masih bertanggung jawab menjadi Tim Perumus di musyawarah keagamaan kawin anak.

Saya pikir, sebenarnya ada banyak orang yang bekerja dan berdedikasi luar biasa di belakang panggung kesuksesan KUPI, tapi tak sekalipun muncul di forum, tak sama sekali ada di panggung, kepada merekalah KUPI pantas berterima kasih.

Pertolongan Allah, kiranya tidak hanya pada pelaksanaan acara, tapi  juga sebelum acara. Misalnya saya mendapatkan kemudahah mencari dan menghubungi narasumber untuk diskusi pararel.

Terakhir, saya merasakan tangis pecah dalam relung jiwa, udara sejuk yang tiba-tiba masuk ke rongga-rongga tubuh kala penutupan acara selesai. Sebuah tangis haru. Hari itu, bagi saya dan bagi semua orang yang hadir, tangis kami adalah tangis bahagia.

KUPI, sebagai sebuah pembuktian eksistensi keulamaan perempuan di Indonesia dan dunia. KUPI menjawab kegelisahan umat. KUPI telah mengajarkan saya untuk menjadi pribadi yang tetap konsisten di bidang ini, tetap istiqomah, dan menumbuhkan rasa percaya diri bagi semua orang yang hadir, sebagai bagian dari seorang Ulama Perempuan. KUPI juga mengajarkan saya tentang managemen organisasi dari kumpulan banyak orang dan banyak kepentingan berbeda tetapi berhasil menggapai kesuksesan bersama. Dari KUPI ini juga, saya belajar tentang pengelolaan dan menahan kemarahan atau saling menyalahkan, belajar tentang ketenangan jiwa. Dan ketenangan itulah yang saya baca, lihat, dari wajah panitia secara keseluruhan. Wajah-wajah yang teduh, menyenangkan, dan selalu akan saya ingat. KUPI, memori hati tak terlupakan.