Sepanjang 2001-2011, rata-rata setiap 2 jam ada 3 perempuan menjadi korban kekerasan seksual yang berarti ada 35 perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual setiap harinya (Komnas Perempuan, 2012). Sementara itu, 1 dari 3 perempuan usia antara 15 dan 64 tahun di Indonesia mengalami kekerasaan oleh pasangan dan selain pasangan selama hidup mereka. Sekitar 2 dari 11 perempuan yang pernah/sedang menikah mengalami kekerasan fisik dan/atau kekerasan seksual oleh pasangannya selama hidup mereka. Sekitar 1 dari 4 perempuan mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual oleh selain pasangan selama hidup mereka (BPS-SPHPN, 2016).

Sepanjang tahun 2016, data kekerasan seksual di ranah KDRT/personal, perkosaan menempati posisi tertinggi sebanyak 1.389 kasus, lalu pencabulan sebanyak 1.266 kasus. Data perkosaan dalam perkawinan sebanyak 135 kasus dan menemukan bahwa pelaku kekerasan seksual tertinggi di ranah KDRT/personal adalah pacar sebanyak 2.017 orang. Kekerasan di ranah komunitas mencapai angka 3.092 kasus (22%), di mana kekerasan seksual menempati peringkat pertama sebanyak 2.290 kasus (74%), diikuti kekerasan fisik 490 kasus (16%) dan kekerasan lain di bawah angka 10%; yaitu kekerasan psikis 83 kasus (3%), buruh migran 90 kasus (3%); dan trafiking 139 kasus (4%). Jenis kekerasan yang paling banyak pada kekerasan seksual di ranah komunitas adalah perkosaan, yakni 1.036 kasus dan pencabulan  dengan 838 kasus (Komnas Perempuan, 2017).

Kekerasan adalah ekspresi dominatif dalam hubungan yang tidak setara, baik di dalam maupun di luar rumah tangga. Kekerasan bukan sebuah tindakan khilaf atau ketidaksengajaan pelaku yang bersifat spontan. Kekerasan terhadap perempuan, sebagaimana kekerasan terhadap kelompok minoritas, kelompok difable dan atau anak-anak, selalu berangkat dari cara pandang dan anggapan bahwa perempuan layak menerima tindakan kekerasan karena kesalahan mereka sendiri yang tak mengikuti kehendak patronnya. Patron itu bisa berupa pasangan,  atau orang yang punya otoritas atas korban, atau norma-norma yang dianggap sebagai kebenaran. Kekerasan seksual adalah bentuk ekspresi penindasan yang paling brutal. Tujuannya untuk menundukkan, menaklukkan, atau menunjukkan dominasi  dan kekuasaan pelaku atas korban.

Adapun 15 bentuk kekerasan seksual sepanjang tahun 1998-2013, mulai dari data korban yang tertinggi, yakni perkosaan, intimidasi seksual, termasuk ancaman atau percobaan perkosaan, pelecehan seksual, eksploitasi seksual, perdagangan perempuan untuk tujuan seksual, prostitusi paksa, perbudakan seksual, pemaksaan perkawinan, pemaksaan kehamilan, pemaksaan aborsi, penyiksaan seksual, penghukuman tidak manusiawi, dan bernuansa seksual, praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasikan perempuan, pemaksaan alat konstrasepsi dan sterilisasi, dan lain-lain (Komnas Perempuan, 2013).

Kekerasan seksual yang dialami oleh perempuan ini telah berdampak pada keterpurukan perempuan, baik secara fisik maupun mental dalam berbagai aspek, seperti: (1) kesehatan, baik berupa fisik seperti luka ringan, luka berat, kehamilan, pengguguran kandungan, pembuhunan anak, dan kematian, baik dibunuh maupun bunuh diri karena frustasi dan depresi; psikis seperti depresi, ketakutan, dan trauma; maupun seksual seperti rusaknya organ seksual, tidak berfungsinya organ seksual, terjangkit penyakit menular seksual, dan pelacuran diri; (2) pendidikan, seperti kehilangan kesempatan melanjutkan sekolah; (3) ekonomi, seperti kehilangan pekerjaan dan kehilangan mata pencaharian; (4) sosial, seperti dikucilkan masyarakat sekitar, mendapatkan pelabelan buruk (stigma), dan diusir. Keluarga juga cenderung menyalahkan dan tidak mendukung pemulihan korban; (5) kriminalisasi, yaitu memperlakukan korban perkosaan sebagai pelaku tindakan kriminal.

Dalam kasus perkosaan, tidak sedikit korban malah dianggap sebagai pihak yang mengundang atau mengkondisikan terjadikan kekerasan seksual. Misalnya, cara pandang atas korban sebagai penggoda atau penyebab terjadinya perkosaan sehingga mereka pun disalahkan. Ketika korban tak dapat menunjukkan bukti kekerasan, perkosaan sering dialihkan menjadi perkara suka sama suka, kriminalisasi atas nama pencemaran nama baik, dan perkara perbuatan zina bagi perempuan yang bersuami. Korban perkosaan bahkan ada yang dinikahkan dengan pelaku, dikeluarkan dari sekolah, dikucilkan, diusir, dan diminta taubat karena dianggap berdosa.

Indonesia telah memiliki seperangkat aturan dalam upaya mengatasi kekerasan seksual atau kekerasan terhadap perempuan. Akan tetapi, cara aparat hukum menangani kasus ini seringkali membuat hak-hak korban sulit dipenuhi. Lebih-lebih jika korban dan pelaku terikat perkawinan karena adanya anggapan kuat bahwa lelaki berhak atas keseluruhan tubuh lahir batin istrinya yang berangkat dari cara pandang budaya dan agama. Sebab lainnya adalah aparat abai dalam menggunakan analisis yang dapat memetakan secara adil dan benar serta objektif dalam memosisikan korban. Akibatnya, korban mengalami tindakan diskriminasi yang berulang kali sejak mereka mengalami kekerasan hingga penanganan ketika melapor.

Data dari penyedia layanan menunjukkan bahwa 85% perempuan korban kekerasan yang mengakses lembaga penyedia layanan mengalami diskriminasi. Misalnya, laporan korban tidak dipercaya atau laporan tak segera ditindaklanjuti. Bentuk diskriminasi lain adalah pembebanan korban terhadap pembuktian kasus, tidak adanya sistem jaminan keamanan yang baik untuk menghindarkan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak, terbatasnya akses Rumah Aman, dan terbatasnya tenaga psikiater. Keterbatasan-keterbatasan infrastuktur dan sistem ini menyebabkan korban kekerasan seksual justru seringkali dikucilkan masyarakat.

Pertanyaan:

  1. Apa hukum kekerasan seksual?
  2. Apakah perkosaan sama dengan perzinahan, baik dari aspek definisi, hukuman maupun pembuktikan?
  3. Bagaimana pandangan Islam tentang aparatur negara dan pihak-pihak yang berkewajiban melindungi korban kekerasan seksual, namun tidak menjalankan kewajibannya dalam melindungi korban, atau bahkan menjadi pelakunya? Apakah Islam mengenal konsep pemberatan hukuman terhadap pelaku seperti itu?

Baca selengkapnya Klik di sini