Acara KUPI sungguh menggetarkan hati. Bagaimana tidak, perjuangan babak awal saja antara realita dan cita-cita bertolak belakang. Tapi karena saya sudah terlanjur brainwash suami agar saya bisa ikut KUPI, dengan segala macam alasan mulai dari ini belum pernah terjadi di dunia, aku mau jadi saksi sejarah, aku harus ikut KUPI sebelum Indonesia berubah menjadi Afganistan dan perempuan benar-benar terpinggirkan, akhirnya dibolehkan. Hamdalah... tinggal daftar.

Ternyata proses ndaftar yang pakai sistem online sungguh bikin pening kepala. Dari gagal registrasi berhari-hari sampai mepet deadline. Begitu bisa masuk berharap dengan sangat bisa lolos seleksi. Tapi mengingat kapasitas saya sebagai rakyat jelita a.k.a. butiran debu. Wajar lah jika saya tidak lolos seleksi. Tapi niat sudah bulat. Persiapan sudah ditata 1 bulan sebelumnya karena aku kudu mengevakuasi ibu ke rumah kakak. Mosok udah diboyong aku tidak jadi ikut KUPi, aku merasa sangat jahat.

Berkali nego dengan Mbak Dani. Nyatanya, tetap mental jadi peserta. Di sini aku tidak bilang ke suami kalo aku tidak lolos. Jadilah aku berangkat ke Cirebon, berbekal semen buat menembok muka biar pede sebagai romli (rombongan liar). Masuk ke kompleks Pondok Pesantren Kebon Jambu dini hari disambut santriwan-santriwati. Aduh….aku malu sekali. Apalagi ditanya apakah sudah registrasi?

Pagi hari sebelum pembukaaan ketemu Mbak Alfi, aku bilang padanya kalo aku tuh cuma penggembira alias romli. “Ya sudah ketemu sama Mbak Dani saja siapa tahu dibolehkan jadi peserta.” Saran Mbak Alfi.

Setelah ketemu ternyata Mbak Dani tetap tidak bisa membantu. Ya, sudah pasrah saja. Karena saya romli dan di website sudah diberitahu jika bukan peserta tidak mendapat fasilitas, tapi boleh ikut mengikuti kegiatan. Maka aku siap untuk makan di luar. Kenapa aku tidak nginap di luar? Karena aku tahu pondok pasti muat. Kalo makanan itu masuk ke dalam tubuh jika statusnya haram akan berbahaya bagi badanku. Begitu pikiran simpel saja. Maka di hari pertama aku jadi juga makan di luar meski dibujuk terus sama Mbak Alfi agar makan di dalam.

Aku sudah membayangkan bahwa acara yang dipersiapkan lama dengan detail teknis tertata rapi. Sungguh aku terkagum-kagum dengan kekompakan panitia lokal (panitia dari pondok) dan nasional (Rahima, Alimat, Fahmina).

Saat pembukaan, aku dibuat terpukau oleh Ibu Badriyah Fayumi. Semangat yang luar biasa untuk menunjukkan bahwa perempuan itu ada dan berwujud juga bisa membuat perubahan. Keren sekali. Apalagi saat akhirnya aku mendapat ID Card peserta. Hiks…. aku terharu. Siang itu aku ditemui saudara yang bekerja sebagai guru MAN 2, namanya Hilyatul Auliya, -namanya sama dengan putrinya Kyai Husein, juga sama dengan nama salah satu santri PP. Kebon Jambu yang kebetulan menjadi mahasiswanya dek Liya (begitu aku biasa memanggil saudaraku itu) di STAIMA.

Aku cerita pada dek Liya bahwa aku tetap tidak bisa mendapat kartu peserta. Kebetulan dia banyak kenal dengan panitia lokal. Jadilah dia maju biar bisa dapat ID Card. Sebelumnya dek Liya juga mendaftar, tapi gagal. Akhirnya dia diminta mewakili Mbaknya dari PP. Pandanaran Yogyakarta karena mbak Ema tidak bisa hadir.

Di hari pertama ini aku sungguh galau sekali. Mau dimana posisiku tanpa ID Card. Tidak bisa ikut jadi peserta seminar internasional juga. Beruntung ada acara sima’an al-Qur’an. Akhirnya saya masuk di masjid, bersama warga lokal. Ketika ada pembagian snack aku masih mikir ini snack boleh dimakan gak yaa… kan aku bukan peserta. Tapi ini banyak tamu bukan peserta jadilah saya percaya diri makan. Apalagi saat makan siang. Saya ikut rombongan ibu-ibu sima’an saja. Sebagai tamu umum. Tidak ikut di bagian catering belakang panggung. Barulah sore hari saya makan di luar.

Karena Mbak Ema tidak bisa hadir. Dek Liya mencoba negosiasi ke panitia, tetapi kata panitia kudu bawa surat rekomendasi dari orangnya yang ternyata juga tidak bisa terwujud. Entah bagaimana negosiasinya akhirnya dek Liya bisa mendaftar malah dengan namanya sendiri. Karena usaha dek Liya untuk mendapatkan ID Card buat aku tetap gagal, akhirnya dek Liya merelakan tas KUPI dan ID Card-nya buat aku. Duhhh ….aku senang sekali….. bagaimana pun saat itu sungguh ID Card, tiba-tiba menjadi benda tersakti bagi ku.

Jadilah ID Card itu aku pakai dengan posisi dibalik karena bukan namaku yang tertera. Aku malu jika ketemu Mbak Dani dan lainnya yang tahu namaku. Karena aku sudah punya ID Card maka aku menganggap aku sudah sah menjadi peserta. Berarti aku sudah boleh makan di dalam beserta peserta yang lain. Horeeee……

Begitulah aku mikirnya. Berjalan pun aku sudah sangat jauh percaya diri. Hihihihi…. beruntung Mbak Dani tidak bertanya kok bisa dapat ID Card. Tapi ketika bertemu, aku lihat ada tanda tanya besar di wajah Mbak Dani. Maafkan aku ya mbak! Aku sudah sah sebagai peserta. Bisa masuk kelas mana saja yang aku inginkan. Alhamdulillah…..

Saat aku membaca buku manual KUPI, aku baru tahu bahwa acara ini benar-benar dipersiapkan dengan sangat matang sejak awal. Luar biasa sekali. Pengalaman yang luar biasa bahwa aku bisa ikut menjadi saksi saat perempuan membuat fatwa. Apalagi aku bisa ikut kelas bahtsul masa’ail di kelas lingkungan. Moderatornya keren sekali. Aku jadi malu sekali, kemana saja aku selama ini. Kok tidak mudeng apa-apa. Mendengarkan perwakilan negara sahabat, bahwa mereka punya masalah yang sama dengan orang Indonesia. Wow…. ternyata kerusakan lingkungan malah berhubungan langsung dengan perempuan sebagai korban ya. Akses air bersih sebagai sumber kehidupan yang terganggu misalnya.

Masalah muncul saat aku akan meminta sertifikat. Karena harus menunjukkan ID Card dan dicocokkan dengan nomor daftar hadir. Aku cuma sedikit saja kecewa karena tidak mendapatkan sertifikat. Tetapi yang penting adalah aku bisa mendapatkan banyak ilmu dari semua acara yang ada. Jadi, aku tetap bahagia.

Saatnya berkemas tiba. Tiba tiba saya menemukan 1 tas KUPI utuh beserta isinya tertinggal dekat kasur saya. Selain ID Card, tas ini ikut menjadi berharga juga. Tas yang aku temukan ini akan aku berikan kepada dek Liya sebagai pemiliknya, karena aku sudah mendapatkannya dengan menggunakan nama dek Liya. Alhamdulillah……….

Berminggu-minggu kemudian baru aku sadari. Meskipun aku sudah mendapat ID Card tetaplah aku tidak terdaftar sebagai peserta karena pakai ID Card orang lain. Jadi aku minta dihalalkan untuk semua makanan yang masuk dalam tubuhku. Walau terlambat semoga menjadi sah.

Terimakasih Rahima… sudah membuat acara yang sangat spektakuler dan bersejarah. Senang sekali bisa bertemu dengan banyak perempuan Indonesia yang luar biasa. Mendengar kisah inspiratif ibu-ibu mendampingi korban kekerasan seksual, ada juga ibu-ibu yang menggerakkan ekonomi masyarakat, menyimak ulang kisah mbak Farha Ciciek membangun Desa Ledokombo melalui pemberdayaan anak anak. Sangat menggugah jiwa. Aku harus bergerak seperti mereka.

Yang paling seru adalah saat panel di venue utama dengan pembicara Kyai Husein Muhammad, Ibu Dr. Nur Rofiah, Ibu Siti ‘Aisyah dan Pak Machasin. Aku duduk dengan peserta dari Indonesia Timur. Semangatnya luar biasa tak hanya hati dan otak yang bersemangat, aku kira seluruh anggota badan juga ikut bersemangat. Berkali-kali beliau mengacungkan tangan seperti laskar sebelah sedang berucap Allahu Akbar, tapi dia memekik NKRI HARGA MATI, merdeka, hidup Pancasila dan seterusnya. Beruntung dia tidak buket (bau ketek, red) jadi saya tidak pingsan. Hihihi………………..