27 Juni 2017. Begitu burung-burung dara dilepas untuk menandai berakhirnya pesta intelektual para ulama perempuan di Pesantren Kebon Jambu, sontak air mataku tumpah ruah membasahi pipi. Ani Zooneveld dari Muslim of Progressive Values memeluk aku erat dan berbisik “You are guys great. You did really really great work. I have been twitting about what happening in Cirebon with KUPI and got alot of attention from our global partners”. Kemudian secara bergantian seluruh peserta Kongres saling bersalaman dan berpelukan sebagai rasa syukur dan sekaligus pamitan kembali ke tempat masing-masing.

Rasanya tertuntaskan satu misi yang selama ini saya pikirkan terus untuk menyebarkan tafsir ajaran Islam tentang hak-hak perempuan yang berperspektif gender kepada dunia, dimulai dari Indonesia. Ketika Ibu Musdah Mulia membuat statemen di salah satu forum AMAN Indonesia 2016 lalu, yaitu “Perempuan itu dekat dengan agama. Tapi agama tidak pernah ramah terhadap perempuan”. Saya tidak bisa mengiyakan atau menolaknya karena pada kenyataanya agama dipakai untuk mendiskriminasi perempuan. Tapi ini juga tidak sepenuhnya benar.

Melalui KUPI inilah saya rasa momentum yang tepat untuk membagi praktek terbaik tentang tafsir ajaran Islam yang ramah terhadap perempuan yang selama ini dipakai oleh para Nyai Kyai untuk melakukan advokasi terhadap korban kekerasan terhadap perempuan. KUPI juga akhirnya bisa menjadi media perjumpaan para ulama perempuan di tanah air dengan ulama dari negara-negara muslim yang lainnya. Di Seminar International KUPI yang diselenggarakan pada 25 April 2017, cerita tentang pengalaman perempuan menghadapi radikalisme di Pakistan, Malaysia, Kenya, Nigeria, Afghanistan dan Saudi Arabia, saya rasa sebuah cara untuk mematahkan asumsi “radikalisme itu tidak nyata”. Tapi dengan kehadiran para narasumber dari konteks konflik dan ancaman radikalisme yang berbeda, saya merasa komunikasi seperti ini menjadi lebih efektif karena menyuguhkan narasi kehidupan perempuan secara nyata, langsung dari orang yang mengalaminya. Saya senang begitu seminar selesai beberapa Nyai menyalamiku dan sharing perasaan mereka, “Terima kasih ya mbak, saya seumur hidup baru mendengar ada cerita mengerikan seperti Bukoharam dan terorisme yang mengerikan.”  Dalam hati saya bilang, “You are welcome Nyai”.

Panas Cirebon begitu menggigit. Kedua tanganku sudah mulai merah-merah dan gatal karena kena debu. Keringat terus mengucur gak ada hentinya, sehingga parfum tadi pagi yang saya semprotkan sudah tidak meninggalkan bekas. Saya juga lihat dari kejauhan, peserta internasional begitu antusias mengikuti acara inti Kongres di Pondok Kebon Jambu tanggal 26-27 April 2017, berbaur dengan para nyai, aktifis perempuan, santri dan juga pengamat dari berbagai instansi yang memiliki kepedulian terhadap masa depan hak-hak perempuan dalam Islam. Kulihat Bushra Qadeem dari Pakistan melintas di depan masjid dengan tergesa. Begitu melihatku, dia langsung berhenti “Sister Ruby, this is great. Thank you for bringing me here. I am really enjoying.” Aku peluk dia dan katakan “This is what i have been dreaming, the world should learn from Indonesia”.

Memang sejak lama saya memimpikan sebuah momen dimana pembelajaran terbaik Indonesia terkait dengan hak-hak perempuan dalam Islam bisa disuguhkan dalam rangkaian yang manis. Ini karena setiap kali saya diminta bicara di forum global tentang women, peace and security, saya selalu mendengar tentang agama menjadi halangan bagi pemberdayaan perempuan. Sejak itulah saya selalu menyisipkan dan sedikit “menjual” keberhasilan Indonesia dalam menciptakan ruang kondusif untuk tumbuh suburnya tafsir agama yang berperspektif Gender. Bahkan, saya rasa Zainah Anwar pun tidak percaya kalau forum seperti KUPI bisa didukung secara finansial oleh Kementerian Agama. Ini bukan simbolik. Tapi benar-benar menunjukkan bahwa negara mendukung Islam moderat.

Membawa sebagian kawan-kawan global ke perhelatan KUPI, akan membantu dakwah saya lebih ringan di tingkat global. Terutama menyakinkan pada negara-negara lain untuk mulai melirik Indonesia sebagai laboratorium Islam progresif bagi para pejuang hak-hak perempuan. Saya sangat optimis kalau para ekspert di KUPI sangat bisa menjadi duta-duta Islam Progresif untuk menyebarkan ilmu dan metode baru membaca Al-Quran dan Hadits yang lebih berperspektif gender.