Pada Selasa-Kamis, 25-27 April 2017 kemarin, saya berkesempatan mengikuti Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) di Pondok Pesantren Kebon Jambu al-Islamy Babakan Ciwaringin Cirebon. I’m really honored bisa mengikuti perhelatan ini. Saya bertemu dengan teman lama, teman baru dan beberapa tokoh ulama perempuan yang biasanya saya baca karya-karyanya.

Hari pertama saya berkesempatan mengikuti international seminar on women ulama di IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Saya yang awalnya tidak masuk list peserta karena peserta sudah penuh, tiba-tiba mendapatkan email undangan dari panitia beberapa hari sebelum keberangkatan. Di seminar ini saya banyak belajar tentang keulamaan perempuan dari beberapa pembicara yang didatangkan dari berbagai negara yaitu Pakistan, Malaysia, Nigeria, Kenya, Afghanistan, Saudi Arabia, dan Indonesia.

Hari kedua di kelas pararel saya berkesempatan masuk di kelas upaya ulama perempuan dalam menangani radikalisme agama. Di kelas ini, saya menyaksikan seorang ummi atau isteri dari seorang jihadis yang dipenjara seumur hidup memberikan testimoni. Ada beberapa teman dari aktivis yang bercerita tentang pengalamannya mendampingi para isteri terdakwa teroris. Mereka dirangkul, ditemani dan anak-anaknya juga didampingi. Tidak lupa Kyai Husein juga mengatakan bahwa menafsirkan teks agama jangan hanya tekstual saja, tapi harus kontekstual.

Pada saat penutupan rasanya saya masih kurang. Iya kurang untuk menimba ilmu pada teman-teman baru, teman-teman lama dan orang-orang hebat yang saya temui di KUPI. Tapi ada yang lebih penting lagi dilakukan, yaitu pulang dan mengabdi kepada masayaarakat.

Terima kasih Rahima Rumah Bersama. Saya sudah diberikan kesempatan ikut acara ini. Terima kasih Mbakyu Nihayatul Wafiroh, yang kemana-mana saya rasanya distempel menjadi adiknya Nihayah hahahaha…… Terima kasih Ayah Muhammad Alaika sudah memberikan izin ke saya untuk ikut dan meninggalkan anak-anak selama lima hari.

“Siapa yang berbuat baik kepada perempuan maka dia adalah orang baik, siapa yang menghina perempuan, maka dia adalah orang yang hina.”