PADANG, 28-30 Nopember 2016: Seseorang yang memahami secara mendalam ilmu pengetahuan agama dan realitas masyarakatnya, serta berperilaku mulia (akhlaq karimah), ini salah satu poin penting yang panjang diperdebatkan dalam Workshop pra Kongres diwilayah Indonesia Barat (Aceh, Sumut, Sumbar, Sumsel, Riau, dan Kepulauan Riau). Pertemuan yang difaslitatori oleh Nur Rof,iah, Marzuki Wahid dan Narasumber oleh K.H. Husein Muhammad dan Yefri dari WCC Padang, selama tiga hari memberi ruang bagi perempuan-perempuan yang hadir untuk menjawab masalah-masalah yang muncul terkait keulamaan perempuan, perempuan tidak mau disebut ulama, susah mencari ulama perempuan, tidak ada sebutan ulama perempuan di masyarakat, walaupun sudah ada peran yang sudah dilakukan, ulama perempuan tidak diberi ruang untuk berkiprah, serta kesan ulama itu hanya untuk laki-laki dan sebagainya.

Salah satu hasil diskusi kelompok peserta juga menyampaikan tantangan peran keulamaan perempuan, seperti ekstremisme (cara pandang), ada paham yang tidak mengakui perempuan sebagai ulama, stigma perempuan merasa tidak layak, dan ada budaya yang memisahkan definisi ulama dengan keahlian lain. Ditengah perdebatan keraguan mendefinisikan ulama perempuan, akhirnya menyepakati bahwa; ulama perempuan adalah mendalami ilmu-ilmu agama, memahami ilmu-ilmu umum, memiiki komitmen dan terlibat kemaslahatan umat, memahami syariat secara menyeluruh, dan ulama tempat bertanya masyarakat. Dan tambahan sebagai pembeda dengan ulama laki-laki, menurut Rofi atusa’adah salah peserta menambahkan, bahwa ulama perempuan harus mempunyai kesadaran gender, tidak melakukan kekerasan, diskriminasi pada perempuan, dan memperjuangkan keadilan gender sebagai tujuan dari Islam.

Sebagian peserta sepakat bahwa istilah ulama adalah sebutan penghormatan kepada seseorang yang dianggap memenuhi kualifikasi atas ilmu dan perannya pada bidang keislaman. Karena itu, Husein Muhammad menguatkan dengan mengutip kitab al Nashaih al Diniyah karya Abdullah al Haddad, bahwa ulama memiliki pembawaan tenang, rendah hati, takut kepada Allah, bersahaja (nerima), suka sedekah, membimbing umat dan menyayangi mereka, selalu mengajak kebaikan dan menghindari keburukan atau maksiat, bersegera dalam kebaikan, senang beribadah, lapang dada, lembut hati, tidak sombong, tidak berharap pada pemberian orang, tidak ambisi pada kekuasaan dan jabatan, tidak suka menumpuk-numpuk harta, tidak keras hati, tidak kasar, tidak suka pamer.

Kyai Husein juga menegaskan,”intinya ulama merupakan orang-orang yang berpengetahuan luas dan mendalam yang ilmu itu mengantarkannya kepada kasyatullah (takut kepada Allah), berbudi pekerti luhur dan beramal saleh juga menghindari akhlak dan amal yang tercela,” terangnya kyai Husein menambahkan, banyak perumpamaan baik dalam Al-Qur`an maupun Hadis yang menggambarkan sosok seorang ulama. Dalam Surat Al-Fatir ayat 28 di antaranya tertulis, innama yakhsyallaha min `ibadihil `ulama, sesungguhnya yang takut kepada Allah SWT di antara hamba-hamba Nya hanyalah ulama, beberapa ayat lain menyebutkan  ulul ilmi, ulul abshar, ulul albab dan ulul dzikir. “Sedangkan dalam hadis Nabi mengatakan, al ulama sirajul ummah, ulama merupakan lampu ummat,” paparnya. (RS)