Kongres ulama perempuan yang baru pertama kali digelar di Indonesia, bahkan di dunia, di buka kemarin malam. Kongres mengangkat tema “Peran Ulama Perempuan dalam meneguhkan nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan”.

Sebanyak 780 ulama perempuan, terdiri atas 580 orang peserta dan 200 pengamat hadir dalam acara tersebut. Mereka datang ke Cirebon dari berbagai daerah di Indonesia dan Negara.

Ketua panitia pengarah (Steering Commite) Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) Badriyah Fayumi mengungkapkan, pelaksanaan Kongres Ulama Perempuan Indonesia diharapkan memberikan kontribusi untuk kemajuan para perempuan dalam mencapai kemanusiaan yang adil dan beradab.

Itu karena, kata Badriyah, ulama perempuan adalah mereka yang memiliki perhatian pada perespektif untuk kesetaraan perempuan dalam memajukan peradaban islam dan pengetahuan masyarakat madani.

“Dengan demikian, kongres ini diharapkan memberikan kontribusi untuk kemajuan para perempuan dalam pencapaian kemanusiaan yang adil dan beradab,” kata Badriyah Fayumi, dalam konferensi pers se-usai menjadi keynote speech Seminar Internasional Ulama Perempuan di IAIN Syekh Nurjati, Selasa (25/4/2017).

Seminar Internasional yang dibuka Kepala Balitbang dan Diklat Kementrian Agama Abdurahman Mas’ud, merupakan rangkaian dari Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI).

Selain ulama perempuan Indonesia, sejumlah ulama perempuan dari Negara lain seperti Mossarat Qadeem (Pakistan), Zainah Anwar (Malaysia), Hatoon Al-Fasi (Arab Saudi), Sureya Roble-Hersi (Kenya), Fatimah Akilu (Nigeria), dan Roya Rahmani, Duta Besar Afghanistan untuk Indonesia, juga menjadi narasumber.

Islam Moderat

Sementara itu, ulama perempuan sekaligus feminis Malaysia Zaenah Anwar menilai, Indonesia sebetulnya sudah cukup baik dalam soal kesetaraan gender. “Hanya Indonesia kurang menjual hal tersebut ke publik,” kata Zaenah.

Zaenah mengakui, tantangan kesetaraan perempuan memang besar, “Bagi kami, peran ulama perempuan di tengah hubungan antara komunitas muslim dan Negara, adalah membangun pengalaman yang baik bagaimana menginterpretasi ayat-ayat Al-Qur’an dan menyelaraskannya dengan semangat kesetaraan,” katanya.

Menurut Zaenah, dalam Islam tidak ada diskriminasi. Justru Islam menjunjung tinggi peran perempuan.

Sementara itu, Hatoon Al-Fasi, ulama dari Arab Saudi dalam penyampaian tema “facing resistance: Personal Insight and Strategies of Women Ulama” mengungkapkan, ulama perempuan bertanggung jawab menyampaikan Islam moderat, kesetaraan, dan kemanusiaan.

“Menjadi seorang alimat di kawasan kami (Arab Saudi) bukanlah tugas yang mudah. Walaupun ada ribuan perempuan lulusan pendidikan Islam, penghafal Al-Qur’an, tetapi kita tidak punya alimat yang diakui sebagai imam yang bisa melakukan ijtihad dan diakui,” katanya.

Sumber:  Harian Pikiran Rakyat, 26 April 2017