Hal lain yang dipikirkan oleh panitia dalam mempersiapkan KUPI adalah bagaimana agar tokoh agama dan kyai pesantren menerima kegiatan KUPI yang dilaksanakan di Pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringin Cirebon pada 25-27 April 2017 nanti. Sebab muncul kekhawatiran dari beberapa panitia jangan sampai kyai-kyai pesantren menolak kegiatan tersebut, yang pada akhirnya berdampak pada mundurnya para peserta dalam mengikuti kegiatan KUPI dan gagalnya acara yang sudah diancang sejak tahun 2015 tersebut. Di samping itu, silaturahim ke kyai pesantren juga menjadi penguat jika dalam pelaksanaan nanti, terjadi penolakan dari kelompok lain, terutama kelompok yang selama ini menolak gerakan perempuan.

Oleh karena itu, setiap sore hingga malam hari bahkan sampai dini hari, panitia Cirebon melakukan silaturahim ke kyai-kyai pesantren di wilayah Cirebon. Sungguh di luar dugaan, para kyai pesantren yang didatangi menerima kegiatan KUPI tersebut. Banyak di antaranya yang mendukung dan siap hadir pada acara KUPI bahkan meminta isterinya (ibu nyai) untuk ikut dalam kegiatan tersebut. Apresiasi luar biasa datang dari Kyai-kyai Pesantren Babakan Ciwaringin. Para kyai menyampaikan bahwa ibu nyai mereka akan ikut sebagai panitia, bahkan pesantren mereka juga siap menjadi tempat menginap peserta, jika di Pesantren Kebon Jambu penuh. Bagi kyai Babakan, kegiatan KUPI di Babakan Ciwaringin Cirebon, harus sukses tanpa ekses karena merupakan kehormatan besar bagi pesantren Babakan yang akan berdampak pada dikenalnya Pesantren Babakan oleh masyarakat Indonesia bahkan dunia. Oleh karena itu sejak awal KH. Zamzami Amin misalnya menyampaikan bahwa peserta KUPI yang notabene ibu-ibu nyai pesantren harus dilayani dengan baik, ditempatkan pada penginapan yang layak dan tidak boleh dipungut biaya. Karena mereka orang-orang terhormat di pesantren dan lingkungannya.

Apresiasi juga disampaikan oleh KH. Marzuki Ahal, KH. Nurhadi, KH. Hamam Syaerozi dan KH. Syarif Abu Bakar Yahya, KH. Azis Hakim Syaerozi sesepuh Pesantren Babakan Ciwaringin. Secara khusus para kyai menyampaikan terima kasih karena mempercayakan Pesantren Babakan sebagai tempat acara KUPI. Bahkan KH. Nurhadi menyampaikan bahwa anaknya yang sarjana kedokteran, akan membantu panitia lokal untuk seksi kesehatan dan nanti akan terlibat dalam sidang-sidang komisi terutama terkait soal kesehatan reproduksi perempuan. Sementara itu KH. Marzuki Ahal menyampaikan pada hal yang bersifat subtansi. Beliau menyampaikan bahwa kesetaraan laki-laki dan perempuan di lingkungan pesantren, sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Beliau menyampaikan bagaimana dulu dididik sama orang tuanya, dalam banyak hal tidak pernah membedakan antara anak laki-laki dan perempuan. Bahkan ketika anak perempuannya main bola juga tidak dimarahi. Demikian juga dirinya sejak kecil sudah terbiasa diminta oleh orang tuanya untuk mencuci piring atau memasak. Dalam bidang pendidikan pun demikian ungkapnya. Bahwa orang tuanya tidak pernah membatasi atau membedakan pendidikan antara anak perempuan dengan anak laki-laki di antara anak-anaknya. Semua memiliki kesempatan yang sama.

Dukungan luar biasa datang dari sesepuh Pesantren Buntet KH. Nahdudin Abbas (Mbah Din). Ulama kharismatik yang tinggal di London Inggris ini, menyampaikan apresiasi terhadap panitia juga kepada Pesantren Kebon Jambu yang akan melaksanakan kegiatan KUPI untuk yang pertama kalinya di Indonesia bahkan di dunia. Menurut beliau, pemerintah Indonesia pada dasarnya sudah memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat juga kepada perempuan. Meskipun menurut beliau, harus diakui budaya kita masih banyak yang memarjinalkan posisi perempuan. Namun, katanya bila di bandingkan dengan Timur Tengah bahkan di Eropa sekali pun, gerakan perempuan Indonesia jauh lebih maju dan berkembang. Beliau yakin bahwa kegiatan KUPI ini akan didengar oleh perempuan-perempuan seluruh dunia tak terkecuali Eropa. Sebab, menurut beliau, gerakan perempuan di Eropa maupun Timur Tengah, tidak seperti di Indonesia. Maka dari itu Mbah Din, memprediksi bahwa saatnya sekarang ini, gerakan perempuan Indonesia menjadi contoh bagi gerakan perempuan di dunia.

Syakur Yasin, Pengasuh Pondok Pesantren Cadangpinggan Indramayu juga mengapresiasi gerakan perempuan Indonesia yangg melaksanakan Kongres di Kebon Jambu Babakan Ciwaringin Cirebon. Menurut beliau memang sudah saatnya perempuan mengorganisasikan diri, dan menyuarakan aspirasinya ke publik melalui jalur-jalur kultural maupun struktural. Meskipun secara pribadi beliau tidak terlalu setuju dengan afirmasi kuota 30% untuk perempuan dalam partai politik. Menurutnya hal ini justru membatasi kuantitas perempuan ketika ingin berkiprah di publik. Meskipun disadari bahwa budaya kita masih sangat patriarkhal. Dimana peminggiran peran perempuan dalam ruang publik masih sangat kuat. Sementara secara kultural perempuan saat ini sudah mulai masuk ke ruang-ruang yang ada, seperti menjadi pengurus MUI, ormas atau lainnya. Ini harus terus didorong dan dikuatkan.

Akibat dari budaya patriarkhi yang berabad tersebut, tergambar dari ungkapan salah satu ibu nyai ketika kami sowan ke pesantren beliau. Yang kami tuju adalah suaminya yang selain sebagai pengasuh pesantren juga sebagai salah satu petinggi pengurus ormas keagamaan di Jawa Barat. Di bawah guyuran hujan yang sangat lebat ditambah aliran listrik yang padam, dan beberapa bagian jalan juga terendam banjir, kami datang menyampaikan rencana kegiatan KUPI yang dilaksanakan di Pesantren Kebon Jambu. Jawaban tak terduga disampaikan oleh ibu nyai yang spontan menyampaikan, “Emang ada ya ulama perempuan? Apa memang sudah zaman akhir, sehingga ada ulama perempuan.” Sungguh kami tak menyangka mendapat tanggapan seperti itu. Pada awalnya secara pribadi saya berpikir, bahwa apa yang kami lakukan, akan mendapat apresiasi dari para nyai pesantren sebagai usaha membangkitkan dan mensejajarkan posisi ulama perempuan dengan ulama laki-laki. Namun kami sadar bahwa selama ini, dalam pikiran kita sudah terpatri pemahaman bahwa yang namanya ulama selalu didominasi oleh laki-laki. Bisa dilihat dalam kepengurusan MUI, dimana posisi ketua selalu dipegang oleh ulama laki-laki. Maka sangat wajar kalau ibu nyai juga masih berpikir demikian.

Di Pesantren Gedongan, Ender, Pangenan Cirebon, kami mendapat apresiasi dan dukungan juga masukan dari Ibu Nyai Raudlah terkait beberapa kegiatan sosial yang menjadi rangkaian kegiatan KUPI, khususnya pemeriksaan kanker servick. Bahwa kegiatan ini sangat bagus, namun para perempuan kita masih malu memeriksakan kesehatan organ intimnya, karena dianggap tabu. Maka harus ada sosialisasi yang massif juga kalau bisa jemput bola, bekerjasama dengan kepala desa agar menyediakan mobil untuk mengantarkan perempuan-perempuan dari desa yang akan memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan tersebut.

Tanggapan positif juga datang dari kyai yang juga politisi di Senayan. Saat kami menyampaikan rencana kegiatan KUPI, disamping mendorong isterinya untuk ikut sebagai peserta, beliau juga menawarkan untuk menjadi penghubung dengan Ibu Presiden jika ingin dihadirkan pada pembukaan KUPI. Namun setelah kami koordinasi dengan teman-teman panitia, akhirnya tawaran tersebut tidak dilanjutkan, karena khawatir panitia dan peserta hanya disibukkan dengan mempersiapkan dan menyambut kehadiran Ibu Presiden.

Dukungan para kyai yang kami sowani maupun dikirim lewat undangan terbukti adanya. Pada saat pelaksanaan, terutama pada acara pembukaan KUPI yang dilaksanakan malam hari, para kyai datang memenuhi undangan panitia. Beberapa kyai datang lebih awal dan menyampaikan tidak bisa hadir secara penuh karena sudah ada agenda acara lain yang sudah dijadwalkan jauh hari.

Melihat kehadiran para kyai pesantren, pejabat pemda dan propinsi, kami merasa senang dan optimis bahwa kegiatan KUPI akan berjalan dengan sukses dan tidak ada gerakan penolakan dari siapapun, sebagaimana yang kami khawatirkan sebelumnya. Dan benar saja, dari mulai pembukaan sampai penutupan, kegiatan KUPI berjalan dengan baik, bahkan mendapat apresiasi dari berbagai kalangan termasuk pemerintah dan senator.

Semoga sedikit upaya yang kami lakukan akan membawa manfaat bagi tatanan kemanusiaan yang adil, setara tanpa ada diskriminasi, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad sebagaimana spirit Islam yang dibawaNya sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin.