Pada 20 September 2016 yang lalu, Kota Garut dihantam Banjir Bandang yang dahsyat, 34 orang tercatat meninggal dunia dan puluhan orang tercatat hilang sampai saat ini. Sekitar 6.000 lebih orang mengungsi, kehilangan harta, rumah, sanak dan saudara.

Garut adalah pemasok sayuran bagi Pasar Pasar Induk di Jawa Barat dan Jakarta. Pertanian dan perkebunan monokultur dengan pemakaian pestisida yang sangat tinggi, karena harus menghadapi perubahan iklim, situasi ini membuat panik petani, sehingga pemakaian pestisida tidak terkendali. Kepanikan ini telah merusak struktur setiap jengkal tanah, bila hujan air lari, bila kemarau tanah kering. Curah hujan yang sangat tinggi, sudah tidak mampu lagi diserap oleh tanah, karena tanah sudah terpapar pestisida. Di sisi lain sawah sawah beralih fungsi tadinya sebagai terminal air, kini diganti oleh industri, pemukiman, dan infrastruktur.

Pada belahan pulau yang lain, Minti Makmur adalah sebuah desa di Lalundu (berarti Subur) di Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah, pada awal program transmigrasi tahun 1990, masih ditemukan berbagai macam keanekaragaman hayati dan tanaman pangan lokal baik buah maupun sayur dan ikan ikan, udang dan kepiting sungai, hutan rawa mendominasi, sagu selain sebagai makanan pokok, juga sebagai sumber mata air yang sangat jernih dan sangat dingin. Pada saat ini sesuai dengan kebijakan pemerintah yang mengharuskan masyarakat menanam “sawit”, hanya dalam sekejap berubah menjadi sebuah desa yang kering kerontang. Air sumur yang sangat keruh dan sangat sedikit (untuk mandi dengan air satu jolang besar, saya harus berbagi dengan tiga kawan saya), begitupun sumber mata air, pada tahun 2015 yang lalu masih sekepalan tangan, kini pada saat saya berkunjung (tiga hari yang lalu, 16 April 2017) air hanya sekelingking jari. Yang paling mengerikan lagi adalah, untuk pemenuhan air minum masyarakat terpaksa harus membeli. Di Desa Minti Makmur juga telah terjadi kehancuran ekologis akibat dari kerusakan pada ekosistem utama pada tanah. Tanah sudah tidak mampu lagi menyerap bila hujan. Banjir bisa terjadi kapan saja. Bila diberi saja tiga hari kering di musim hujan, tanah kering menghantam rumah rumah menjadi kotor dan berdebu, setiap detik dihirup para keluarga yang ada didalamnya,  bayangkan bila situasi ini terjadi pada musim kemarau. Perubahan jenis tumbuhan merubah keadaan alam termasuk tanah, air dan udara di dalamnya.

Desa desa di Kabupaten Garut dan Lalundu beserta sumber daya (ekologi) yang dimilikinya mengalami masa keterancaman dan kegentingan dimana idiologi globalisasi yang merupakan dasar dari kapitalisme yang selama hidupnya di tunjang oleh idiologi pasar bebas tidak bisa bisa dihentikan. Keterancaman ini akan melahirkan bencana ekologi yang lebih besar lagi dari tahun ini serta kemiskinan absolute yang di derita masyarakat desa utama perempuan, anak anak, orang tua, buruh tani, petani miskin, kelompok urban yang kehilangan lahan hidupnya (tanah) menjamurnya bayi-bayi kurang giji, anak anak yang tidak sekolah, pengangguran, serta rumah rumah tangga yang tercerai berai akibat.

Ini akibat dari memisahkan pendidikan formal dengan kondisi ekologi, dipisahkannya empati keluarga dan sosial dari kondisi ekologi di tunjang oleh sikap pemerintahan yang tidak mengintegralkan dengan konsep ekologi dalam program pembanguannya semakin memambah carut marutnya kondisi ekologi diatas

Dari kedua kasus diatas, semua masalah berasal dari perilaku manusia atas tanah yang menjadi kehidupannya, padahal tanah memberikan kehidupan yang sempurna dan nyaman tanpa harus merusaknya. Perlakuan manusia yang dominan yang tidak menjadikan tanah sebagai subjek yang harus dilindungi, kebiasaan hidup instan telah dominan menguasai kehidupan manusia. Kita cenderung mengelola lingkungan dan sumberdaya bumi dengan menindas (ET Paripurno).

Di Pesantren Ath Thaariq Garut, setiap hari adalah memperbaiki tanah, dengannya, hidup kami teramat sangat nyaman, mampu beristirahat dengan cukup, bisa mendampingi anak anak belajar dan jalan jalan kemana saja sambil menunggu panen.

Tanah/Lingkungan/Ekologi di Pesantren Ath Thaariq dikelola melalui pendekatan spiritual yaitu mendudukkannya sebagai ladang untuk beramal (memperoleh keberkahan/semakin menguatkan keimanan dan ketakwaan). Dari tanah tiap detik memberikan manfaat besar bagi bagi manusia, dari kesehatan ia nutrisi bagi keseimbangan tubuh, dari iklim menjadi pelindung dari panas dan hujun, dari tanah memberikan kekayaan ekosistem yang tentu menghasilkan beraneka ragam pangan. Alam telah menyediakan carbon, nitrogen, kalium, kalsium, potasium dari flora dan fauna yang diciptakan Allah SWT.  Sabar, ikhlas, jujur, adil dan ridho adalah sikap yang pantas dalam mengelola, menjaga, memperbaiki dan memanfaatkan ekologi. Dari sikap yang luhur itu kita akan memperoleh keberkahan. Kami mendudukkan kami sendiri sebagai bagian dari ekosistem, bagian dari rantai makan, dan tidak mendudukkan diri sebagai pengambil keputusan atas alam/tanah. Alam tidak membutuhkan kita, tapi kita membutuhkan alam.

Pada 8.500m2 dengan tanah yang tidak pernah dicangkul, penuh microba berasal dari jerami, cacahan bonggol dan batang pisang, serasah daun, sisa sisa sampah dapur, disimpan dengan sangat rapih, dijajarkan pada tanah tanah yang bergantian satu bidang ditanam dan bidang lainnya dibiarkan menjadi semak sebagai rumah ular, burung dan serangga serta binatang lain yang sama sama menguntungkan sebagai rantai makan, saling melindungi, saling menguatkan dan saling memberi keuntungan.

Tanah kami menghadirkan kehidupan yang begitu bergairah, tanah yang bisa menghadirkan berbagai pengetahuan, Pengetahuan berbasis pada berbagai tumbuhan yang membuat terang benderang dalam ilmu pemenuhan gizi, nutrisi, pangan lokal, sampai pada keanekaragaman hayati kami mampu mengembangkan kurikulum berbasis pada anak anak berkebutuhan khusus dan penyembuhan bagi anak anak terkena effect Electronic Over Dosis dengan cukup cepat.

Pengetahuan itu sangat sederhana berasal dari menanam memelihara mengolah dan memakan berbagai pohon pohonan, sayur sayuran, empon emponan, umbi umbian, padi padian, serta berbagai karbohidrat bila pagi sarapan Pisang Rebus Muda, Siang makan Singkong dengan Sayur kuah bersantan dan makan malam dengan sagu (Garut yang diaci) dicampur sayur bening.

Berdasarkan pengalaman yang teramat berharga. pada 2008 yang lalu, di awal Pesantren Ath Thaariq menjalankan kegiatannya, tanaman di kawasan pesantren hanya satu jenis/monokultur, yakni padi.   Dari musim ke musim, dari tahun ke tahun, hasil padi semakin menurun, bulir bulir padi diserang ratusan tikus, tidak ada satupun yang berhasil. Setelah dipelajari dengan serius, bahwa hasil panen padi terus turun drastis, baru teringat bahwa tanaman monokultur akan memunculkan sebuah kekacauan, kekacauan itu terjadi karena terputusnya rantai makan. Dibuatlah semak semak dengan bergantian khusus diperuntukkan untuk mengundang ular dan burung hantu, akhirnya keberadaan ular dan burung hantu mampu menyeimbangkan populasi tikus. Panenpun berhasil bahkan berlebih karena tanah diperbaiki dengan tidak mencangkul namun tersu terusan diberikan kompos dan tebaran jerami, sehingga pori pori tanah lebih banyak sehingga akar leluasa mencari makan.

Pertanian berbasis pemulihan ekologi, telah mengajarkan pada kami kemandirian pangan yang kuat, sehat, tidak merusak namun memulihkan ekologi setempat, serta mengenalkan model model pertanian yang menjadi keberlanjutan dan keamanan masa depan.

Kemandirian pangan yaitu sebuah pekerjaan yang berhubungan erat dengan memproduksi pangan sendiri, benih sendiri, pupuk yang dibuat sendiri hanya dari lingkungan sendiri, semua dikerjakan oleh kita, dimakan oleh kita, dan bila ada sisa dengan kwalitas yang sama bisa dinikmati oleh tetangga dan teman kita. Kemandirian pangan tidak bisa berdiri sendiri tanpa didukung oleh elemen elemen lainnya. Tumbuhan yang kita tanam harus bermacam macam jenisnya, tidak monokultur, tidak satu jenis, tetapi beraneka rupa atau polykultur.

Keanekarupaan//keanekaragaman tanaman kita (Polykultur) memberikan keuntungan sangat maksimal, sistem ini sangat menjaga ekosistem setempat, ibarat manusia serta makhluk lainnya saling membutuhkan satu sama lain sebagai “rantai makan”, begitupun tanaman bila berjenis jenis mereka akan saling melindungi, saling menguatkan, saling memberi pupuk yang nutrisinya berbeda beda baik dari akar, batang maupun daun. Juga dengan kehidupan hewan yang tidak bisa dipisahkan dalam siklus ini. Kita akan mendapatkan benih yang sangat baik, karena burung memilih makanan terbaik yang akan dimakannya, begitupun kupu kupu banyak membantu proses penyerbukan pada tumbuhan, sebuah proses yang sangat bermanfaat bagi manusia., keberadaan capung adalah tanda bahwa air masih bersih, karena capung hanya bisa hidup di air bersih, dia tidak akan bisa bertahan hidup di air yang sudah terpapar zat kimia atau yang ekosistem airnya terganggu. Jika di suatu sumber air banyak terdapat capung, itu mengindikasikan sumber air tersebut bersih, tidak tercemar.

Kebaikan bertani berbasis polykultur akan memberikan gizi dan nutrisi alami yang kaya, beraneka ragam asupan vitamin,  memperbaiki keseimbangan gizi keluarga, mencegah dan mengurangi pengangguran musim tanam karena tiap hari panen dan menanam, tanah tidak mengenal pestisida dan pupuk urea, sehingga tanah tidak kering pada musim kemarau, tanah senantiasa lembab karena diberi pupuk alami (kotoran domba, serasah, kayu kayu lapuk, batang pisang yang dicacah, rumput yang tidak dibakar tapi dikumpulkan pada satu tempat sehingga tanah menjadi lembab,  situasi ini mengarah pada pengolahan tanah yang minimal, Jika sisyem bertani polykultur berhasil semua, masih dapat diperoleh nilai tambah, memelihara ekosistem serta mengurangi erosi. Bila salah satu tanaman gagal panen, dapat diperoleh tanaman yang satu lagi. Yang terbaik dari segala benih adaah benih benih warisan (benih lokal) yang telah mampu beradaftasi dengan iklim setempat.

Pesantren Ekologi, pilihan yang begitu cerdas bagi kami, dia menjadikannya sebagai pintu masuk dari arah/jalan manapun. Isu Ekologi mampu menerima perbedaan, karena ekologi menghargai ekosistem yang berbeda beda, namun saling menyelamatkan dan saling meghormati. Keberadaan makluk lain saja seperti tumbuhan dan binatang sangat dihargai, dan manusia ada didalam ekosistem tersebut, yang masuk sebagai sebuah rantai makan yang tidak boleh terputus. Situasi ini mengharuskan manusia menghargainya. Ekosistem memberikan keuntungan bagi semua yang ada di lingkarannya, karena bila terputus atau hilang satu didalam rantai makan tersebut, maka akan terjadi kekacauan.

Pemulihan ekologi, telah disepakati bersama  adalah kajian saintifik dan amalan bagi memperbaharui dan memulihkan ekosistem dan habitat semula. Ini dikarenakan telah terjadinya kerusakan, kemusnahan akibat campur tangan dan tindakan tindakan manusia yang tidak memperhitungan keselamatan ekologi, dia menjadi panglima tertinggi bagi bertemunya berbagai lapisan masyarakat, perbedaan perbedaan itu, baik usia, ras, golongan, suku, agama, ketika berkumpul hanya satu yang dibicarakan adalah pemulihan ekologi. Sekeras apapun agamamu, bila sudah bertemu kalimat ekologi, kamu harus menerima semua perbedaan tersebut, dan hanya satu pembaasannya adalah ekologi. Ekosistem dijaga, hubungan manusia juga harus dijaga tanpa melihat latar belakangnya. Ekologi mampu menerima keberagaman/tidak inklusi.

Negara kita saat ini sedang menghadapi krisis ekologi yang bekepanjangan, Pemulihan Ekologi telah memberikan kecerahan dalam sistem pendidikan bagi anak anak dan orang dewasa. Utama anak – anak.  Anak – anak kita yang terjebak dalam sistem pendidikan dalam satu buah ruangan yang berbentuk kubus, dengan dinding yang begitu tebal, dan jendela diatas kepala, hanya satu pintu untuk jalan keluar. Masuk setiap pagi, padahal pagi hari adalah waktu yang tepat bagi anak anak (bahkan kita semua) untuk memanggang badan dan mendapatkan asupan cahaya ultraviolet. Sebuah nutrisi yang begitu alamiah, yang tidak bisa tergantikan oleh apapun. Perbaikan ekologi mempercepat kesembuhan anak anak berkebutuhan khusus dan effect electronik over dosis, mereka setiap hari ke kebun dengan tekun dan sabar, bergerak dan berkeringat setiap waktu, belajar berbagai tanaman, dari mulai membenihkan, menanam, memelihara, sampai mengolahnya dan memakannya. Mereka langsung bersentuhan dengan tanah, dimana didalam tanah teerdapat sebuah microba yang bisa membuat orang bahagia, senang dan gembira.

Dengan pemulihan ekologi, kedaulatan pangan akan benar benar terwujud, kita bisa mencipta berbagai kebutuhan pangan tanpa harus tergantung pada pangan yang dihasilkan oleh perusahaan perusahaan multi nasional. Karena pangan yang terbaik adalah pangan lokal yang diproduksi sangat dekat dan tentunya akan sangat segar. Pangan lokal makanan terbaik untuk keluarga kita.

Semoga bermanfaat.

Garut, 24 April 2017

(Persembahan untuk Paralel Halaqah Sessi Ketimpangan Sosial dan Kerusakan Alam, Kongres Ulama Perempuan Indonesia – KUPI, Cirebon Jawa Barat, 25-26 April 2017)