KUPI adalah sebuah rantai perjalanan panjang yang berawal dari keinginan untuk membuktikan Islam adalah agama yang menawarkan keadilan relasi sosial dan gender. Berangkat dari tantangan kritis dari kalangan feminis sekular yang secara diametral berhadap-hadapan dengan para aktivis santri tentang kecurigaan bahwa tidak mungkin agama yang pada tampaknya begitu patriarkhal, misoginis bisa beriring dengan feminisme.

KUPI adalah jawaban, bahwa dari sisi pemikiran dan aksi dua paradigma (Islam dan feminisme) telah berkonvergensi berkat adanya dialog-dialog pemikiran dua pihak yang berangkat dari fakta buruknya situasi perempuan dan platform yang sama: tercapainya keadilan. Peran para pemikir akademia di satu pihak dan pelaku gerakan akar rumput di pihak lain, merupakan satu kesatuan dialektika yang sangat kokoh dan saling mengkonfirmasi tentang buruknya situasi perempuan dan ditemukannya metodologi pembacaan ulang teks yang berangkat dari dalam hazanah dan tradisi Islam sunni.

Karena berangkat dari fakta bukan dari teks, maka tema yang dipersoalkan seperti perusakan lingkungan, kawin anak, dan Kehamilan Tidak diinginkan (KTD), memberi sumbangan nyata baik bagi umat maupun negara. KUPI jelas merupakan sumbangan teoritis baru dalam khazanah pemikiran feminisme dan feminisme Islam di dunia.