Acara Penutupan KUPI, Kamis 27 April 2017: siang jelang sore

Duduk di bagian tengah tenda utama segaris lurus dengan panggung, di kelilingi beberapa mitra Rahima: di belakang saya Istianah Ghazali (beserta dua balita dan suaminya) peserta Pendidikan Ulama Perempuan (PUP) 1 Jawa Timur yang sekarang tinggal di Pekalongan, di samping kanan saya Ratna Ulfah peserta PUP 4 dari Purworejo, di depan saya ada Anis Fachrotul Fuadah (Staf Rahima 2011–2012),  Anis Su’adah peserta program Madrasah Rahima dari Lamongan, Zulfi Zumala peserta program Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS) untuk Ustad/ustadzah dari Banyuwangi, Mia Faizah Imran peserta Madrasah Rahima dari Tasikmalaya, Istianah peserta PUP 2 dari Tasikmalaya, dan di sebelah kiri saya Mbak Farha Ciciek (Direktur Rahima 2000–2007), pikiran saya melayang pada perjalanan Pendidikan Ulama Perempuan (PUP) Rahima.

Ketika itu sekitar tahun 2004, Rahima yang baru berusia 3 tahun[1] masih berjuang mencari identitas diri. Diskusi intensif terus dilakukan baik oleh kepemimpian kolektif Rahima ketika itu: KH Husein Muhammad (Direktur Pengembangan Wacana), Farha Ciciek (Direktur Eksternal merangkap Direktur Internal (karena Syafiq Hasyim, Direktur Internal, masih sekolah S2 di Belanda) dan beberapa Anggota Badan Pengurus Rahima di bawah kepemimpinan KH Muhyidin Abdusshomad (Pengasuh PP Nurul Islam, Jember, Jawa Timur).

Diskusi menghasilkan sebuah kegiatan forum kajian bernama Madrasah Rahima, yang berlangsung di sebuah mushola mungil di Jalan Pancoran Timur 2, selisih satu rumah dengan rumah kontrakan Rahima waktu itu.

Madrasah Rahima yang difasilitasi oleh KH. Husein Muhammad itu, melibatkan beberapa peserta dari kalangan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, di antaranya Umdah el Baroroh (sekarang menjadi Pengasuh pondok pesantren di Pati), Yati Andariati (sekarang Direktur Kontras), Dhea Dahlia (sekarang Badan Pekerja Komnas Perempuan) dan Ervan (yang ini ‘titipan’ peserta dari mbak Ciciek). Selain sebagai keterwakilan laki laki, Ervan yang memiliki bacaan dan pemahaman kitab kuning yang sangat bagus dimaksudkan untuk memantik diskusi usai pembelajaran model bandongan di sesi-sesi Madrasah Rahima tersebut. “Kami langsung mengaji kitab ‘tinggi’ yang jika di pesantren hanya diajarkan kepada santri laki-laki,” kata Daan Dini Khairunida, penjab Madrasah Rahima ketika itu.

Benih Madrasah Rahima lalu di-workshop-kan pada Januari 2005 dengan nama ‘Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP)’. Workshop terbatas itu hanya mengundang 18 peserta di antaranya almarhumah ibu Djudju Zubaedah, Bang Helmi Ali, Nyai Hj. Ruqoyyah Ma’shum, Mbak Kamala Chandrakirana, Faqihuddin AK, Nur Rofiah, Mbak Lies Marcoes, Mbak Tatik Hartimah, Jadul Maula, Yasir Alimi, Mas Farid Wadjdi, dan lain-lain. Tujuannya untuk merumuskan bentuk pembelajaran, metode, modul, materi, serta kriteria peserta PUP. Diskusi hangat sudah dimulai sejak sesi awal workshop tentang istilah yang akan digunakan, apakah ‘ulama perempuan’ atau ‘perempuan ulama’. Yang lain menyangkut kepesertaan, apakah pesertanya ulama yang sudah ‘jadi’ atau ‘mencetak ulama baru’. Beruntungnya ketika workshop sedang berlangsung, Prof. Dr. Ustad Abdullah Ahmad An-Naim sedang berada di Jakarta. Melalui Mbak Kamala, beliau akhirnya bisa hadir dan membekali peserta dalam diskusi yang berlangsung selama kurang lebih 2,5 jam. Di antara yang disampaikan beliau adalah,”Ulama yang diakui adalah ulama yang benar benar tinggal bersama masyarakat dan mempunyai komitmen terhadap mereka.”

Lalu dimulailah program PUP Angkatan 1 Jawa Barat dan Jawa Timur pada 2006–2008, PUP Angkatan 2 Jawa Barat (2009–2010), PUP Angkatan 3 Jawa Tengah bagian utara (2012-2014), PUP Angkatan 4 (2014–2016) dengan segala dinamikanya. Peserta pada keempat angkatan PUP itu, mendapatkan tambahan pengetahuan tentang gender, analisis sosial, studi keagamaan (tafsir Alquran, dirasah hadits, dan ushul fiqh), metode penentuan hukum Islam, HAM/HAP, pengorganisasian, globalisasi, dan lain-lain yang pembahasannya menggunakan perspektif perempuan melalui model pendidikan kritis di dalam kelas (5–8 kali pelatihan- Rahima menyebut pelatihan dengan istilah tadarus) dan di luar kelas (amanah/RTL) selama kurang lebih satu–dua tahun. Ada lagi PUP Aceh 1 (wilayah bagian barat Aceh) dan PUP Aceh 2 (wilayah bagian timur Aceh) yang berlangsung jelang akhir 2015 hingga awal 2016 di Aceh yang juga menggunakan model pendidikan kritis dengan durasi tadarus yang lebih pendek. Intinya, melalui PUP Rahima ingin agar ulama perempuan itu setia pada nilai universal, kritis pada ketidakadilan gender, mau mendengarkan dan berpihak pada korban, kritis dalam membaca teks keagamaan, aktif terlibat dan turut mewarnai forum forum keagamaan, menggunakan budaya lokal, inovatif dan kaya akan ide, dan melakukan aksi refleksi.

Pada salah satu tadarus PUP, seorang peserta menyampaikan harapannya, bahwa semoga di suatu saat ulama perempuan Rahima bisa berkumpul dan berkongres. Sayangnya saya lupa kapan persisnya hal itu disampaikan, dan oleh siapa. Tetapi Bu Nyai Afwah Mumtazah, peserta PUP 1 Jawa Barat yang berasal dari Ponpes Kempek Cirebon, mengingat dengan baik peristiwa itu, dan diungkapkannya ketika kami bertemu usai acara penutupan KUPI, “Ingat harapan itu kan Mbak? Alhamdulillah ya, ternyata bisa terealisir.”

***

Selasa pagi menjelang siang, 25 April 2017: hari pertama Kongres.

Suasana di ponpes Kebon Jambu makin ramai dengan lalu lalang peserta yang mulai berdatangan, kendaraan yang mengantar tamu ataupun catering, persiapan pembukaan, santri seksi kebersihan yang lincah, membersihkan sampah, santri putri yang sigap membawakan tas/koper lalu mengantar peserta ke tempat penginapan, dan lain-lain. Di tenda utama terdengar pengumuman akan segera dilangsungkan sosialisasi kesehatan reproduksi perempuan mengenai pencegahan kanker serviks oleh BPJS Kesehatan[2]. Di WA grup KUPI bertubi tubi masuk laporan pandangan mata dari beberapa panitia KUPI yang hadir di seminar internasional kerjasama KUPI-AMAN Indonesia-IAIN Syech Nurjati Cirebon. Saya ikut terharu ketika beberapa teman berbagi tentang pengalaman batin mereka saat Shalawat Musawah[3] dilantunkan di arena seminar internasional yang membuat air mata teman-teman yang hadir di lokasi luruh. Ya Allah…, atas izinmu KUPI terlaksana…

Saya memilih duduk di areal registrasi peserta yang berlokasi di ruang Makbaroh lantai bawah, tepat di pintu masuk Ponpes Kebon Jambu. Karena menurut pendapat saya di areal itulah saya bisa berjumpa dengan berbagai kalangan. Benar saja, disana Saya bisa menyapa santri-santri putri bagian registrasi, menyapa peserta yang baru datang dari berbagai daerah, bercanda dengan beberapa panitia (bumil Alif Slatri, Roziqoh, Duloh, Imbi, Fitri dan Masfufah); menghampiri ‘santri’ Rahima (Aida, Mustika dan Fran) yang sedang memasukan data pilihan kelas diskusi paralel peserta berdasarkan pada CV yang telah diisi ketika registrasi; berdiskusi mengenai forum konsolidasi yang akan berlangsung siang hari itu ditingkahi canda (juga pijatan, dan kipasan ilir) dengan fasilitator tim konsolidasi (Uni Yefri, Lolly, Dian, Nadia, Sely, dan Muyasaroh) yang sedang mendampingi peserta mengisi CV; dan tentu saja foto bersama dengan mitra-mitra Rahima dari perwakilan angkatan 1 hingga 4, mitra Rahima dari program selain PUP, alumni Fiqhun Nisa P3M, teman teman aktivis, akademisi dan lain sebagainya.

Rasa haru menyeruak, takjub pada niat kuat peserta yang jauh-jauh datang dari Aceh hingga Papua untuk KUPI. Pikiran pun melayang pada Pebruari 2015, ketika Rahima mengadakan halaqah himpun gagasan Pra Kongres Ulama Perempuan di Wisma Hijau Cimanggis Depok. Workshop yang difasilitatori oleh Nur Rofiah dan Bang Helmi Ali ini, berlangsung selama 3 hari, dihadiri mitra-mitra Rahima dari berbagai wilayah, dan mengundang beberapa ormas keagamaan seperti Fatayat dan Nasyiatul Aisyiyah (NA). Dua narasumber dihadirkan, Mbak Badriyah Fayumi yang berbagi tentang historiografi ulama perempuan, dan Mbak Kamala Chandrakirana yang berbagi mengenai pentingnya pengakuan pada pengalaman hidup perempuan. Halaqah ini menghasilkan Rencana Tindak Lanjut: Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) yang (diharapkan) akan berlangsung pada Desember 2016.

Bagi Rahima, KUPI menjadi sebuah amanah besar. Untuk itu perlu didukung oleh berbagai pihak. Diskusi di tingkat internal Rahima bersama Mbak Masruchah, Ketua Badan Pengurus beserta anggotanya, dan Bang Helmi Ali, Anggota Badan Pengawas, kemudian menyepakati untuk menggandeng Alimat dan Fahmina. Pada April 2015 di kantor Fahmina di Cirebon silaturahmi tiga lembaga dilakukan. Hasilnya, disepakati KUPI akan didukung oleh 3 lembaga: Rahima, Fahmina dan Alimat. Usai acara tersebut agenda pertama KUPI langsung dilakukan, silaturahmi ke beberapa pondok pesantren di sekitar Cirebon untuk memperkenalkan KUPI, di antaranya kepada ibu Nyai Hj. Masriyah Amva pengasuh PP Kebon Jambu Al Islamy, sekaligus meminta kesediaan beliau menjadi salah satu penasihat KUPI.

Selanjutnya, dibentuklah panitia yang melibatkan 3 lembaga ARAFAH (Alimat, Rahima, Fahmina). Dan karena harapannya KUPI berdiri di atas berbagai golongan maka dibentuklah Tim Penasihat yang terdiri dari para tokoh dari berbagai latar belakang kultur keagamaan Islam. Kerja kerja lintas propinsi (Jabar dan DKI Jakarta) lalu dilakukan: mematangkan proposal, membuat budget, melakukan audiensi dan memperkenalkan KUPI ke berbagai pihak mulai dari Badan Dunia, beberapa kedutaan besar, berbagai lembaga dana, hingga pemerintah & kementerian, ormas Islam dan sektor swasta. Beruntungnya ada media sosial yang bisa dimanfaatkan, hingga koordinasi lebih sering dilakukan melalui grup WhatsApp (WA), atau email meskipun sesekali temu muka tetap dilakoni. Agenda yang tak kalah penting adalah silaturahmi dengan berbagai tokoh agama yang dilakukan KUPI baik secara individu anggota KUPI maupun secara berkelompok.

Meski KUPI telah mulai dikenal, dan komitmen dukungan mulai berdatangan tetapi perkembangan persiapan KUPI tidak seperti yang diharapkan panitia. Dana menjadi isu utama yang membuat kegiatan-kegiatan pra kongres belum satu pun terlaksana. Modal awal pendanaan memang sudah ada, tetapi itu untuk penyelenggaraan kongres dan lomba menulis juga cetak buku profil dan essay ulama dan keulamaan perempuan. Setelah diskusi mendalam di internal panitia KUPI, terdapat usulan agar pelaksanaan KUPI dipindahkan dari Asrama Haji Pondok Gede Jakarta ke Ponpes Kebon Jambu Babakan Ciwaringin Cirebon pada April 2017. Alhamdulillah ibu Nyai Masriyah menyatakan kesediaannya KUPI berlangsung di ponpes Kebon Jambu.

***

Begitu burung merpati dilepas oleh Menteri Agama, Ibu GKR Hemas dan beberapa panitia KUPI yang berdiri di atas panggung, rasa hati saya lega sekali. Ucapan alhamdulillah meluncur dari bibir saya tak henti-henti (tentu saja bersama air mata yang nyelonong keluar sendiri). Segala puji bagi Allah, KUPI yang berlangsung selama 3 hari berjalan lancar dan baik (teringat Surat Tanda Terima Pemberitahuan dari Kepolisian Negara RI Daerah Jawa Barat Resor Cirebon yang menyebut saya sebagai penanggung jawab kegiatan KUPI ini. Teringat juga satu hari sebelum penyelenggaran KUPI perwakilan Danramil menemui Rosidin, Direktur Fahmina, dan saya untuk ‘sedikit interview’). Lalu, ucapan selamat atas kesuksesan penyelenggaraan KUPI datang bertubi-tubi dari teman-teman di sekitar saya duduk maupun yang datang menemui saya. Kepada mereka berkali-kali saya sampaikan bahwa sukses ini karena kerja keras dari semua pihak.

Pelukan Mbak Ciciek membuat saya kembali menangis, selain karena menjadi teringat pada almarhumah Ibu Djudju Zubaedah (Ketua Badan Pengurus Rahima yang masih menjabat ketika beliau harus ‘menyerah’ pada penyakit kanker payudara), juga teringat pada pesan-pesan singkat Mbak Ciciek melalui WA yang datang di saat saya sangat membutuhkannya, dikala rasa lelah bahkan nyaris putus asa menghampiri. Entah dari mana Mbak Ciciek bisa tahu pada saat-saat seperti itu saya sedang butuh suntikan semangat. Kami berdua bahkan bertangisan antara lain mengenang almarhumah Lia Aliyah al Himmah (peserta PUP 1 yang berasal dari PP. Dar al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon). Pelukan Listia Suprobo membuat saya terkenang pada perjumpaan kami di program Fiqhun Nissa P3M, program yang dikomandani oleh Mbak Lies Marcoes ini merupakan arena belajar pertama kali saya dalam dunia gerakan perempuan.

Setelah itu saya pergi menemui Kang Rosidin di ruang sekretariat, kepadanya dan Tim Fahmina saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas kerja keras berbilang bulan baik yang terkait langsung dengan agenda KUPI maupun yang tidak seperti urusan lahan parkir hingga silaturahim ke pesantren-pesantren sekitar Cirebon, Indramayu dan Majalengka. Permohonan maaf dan terima kasih saya sampaikan dalam pelukan dan air mata kepada Mbak Mimin Mu’minah, atas pengorbanannya mengikhlaskan belahan hatinya, Faqihuddin Abdul Kodir, untuk all out pada KUPI. Saya juga mendatangi Bang Helmi Ali dan Kyai Husein untuk salim dan cium tangan. Mendatangai Yu Mas, Faqih, Marzuki Wahid, Marzuqi Rais, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Pelukan mbak Nana, mbak Maria, mbak Nani, mbak Bad, Ruby, Nining, mbak Rita, mbak Ninik, mbak Tati, Ala’i, Nur, Rozana, kak Zai, Eena dan banyak lagi makin membuat mata saya njendul.

Ucapan terima kasih, tentu saja juga kepada teman-teman (yang karena keterbatasan ruang refleksi ini tidak disebutkan satu persatu disini) panitia KUPI[4] dari berbagai lembaga yang ada di WAG Tim Inti, Tim Pokja, Tim Diskusi Parael, Tim Fasilitator Konsolidasi, Tim Perumusan Musyawarah dan KUPI (banyak banget grup WA-nya ya, untungnya HP saya tak pernah protes…he he). Dari mereka semua saya banyak sekali belajar akan kelebihan yang teman-teman miliki yang digunakan untuk suksesnya acara KUPI (kok malah kayak sambutan ucapan terima kasih ya, padahal ini refleksi…he he).

Perhelatan telah usai (baru seminggu sih…), gema KUPI (melalui media) masih cukup nyaring terdengar (yang terbaru hasil musyawarah keagamaan tentang nikah anak bahkan disinggung perwakilan pemerintah RI pada sidang UPR di Geneva). Rasa suka cita memang masih bersemayam di dada, tetapi rasanya harus segera kembali ke dunia nyata karena masih banyak hal yang harus ditindaklanjuti: mensosialisasikan shalawat musawah yang sarat pesan keadilan dan kesetaraan adalah hal pertama, sosialisasi Ikrar Kebon Jambu itu selanjutnya. Dan yang utama adalah mengawal komitmen yang telah dinyatakan oleh pemerintah melalui Menteri Agama tentang menaikkan usia menikah anak perempuan. Juga mengawal tindak lanjut dari dua isu lainnya: penghentian kekerasan seksual, dan perusakan alam dalam konteks ketimpangan sosial. Agenda jangka panjangnya adalah mendorong berbagai institusi keagamaan untuk mengeluarkan hasil musyawarah keagamaan atas isu-isu perempuan lainnya. Jadi mari kita makin merapatkan barisan.

Jakarta, 4 Mei 2017

[1] Lihat sejarah berdirinya Rahima dalam buku ‘the Rahima Story’ yang diterbitkan oleh Rahima pada perayaan ulang tahunnya yang ke 10, pada 2010

[2] Sehari sebelumnya saya turut berpartisipasi pada kegiatan bakti sosial sunatan masal yang diikuti oleh 19 anak laki-laki.

[3] Awalnya bernama Shalawat Keadilan, ditulis oleh Faqihuddin AK pada salah satu pelatihan Rahima di 2003 yang berlangsung di Ponpes Nurul Islam (NURIS) Jember yang diasuh oleh KH Muhyidin Abdusshomad. Ketika itu peserta pelatihan meminta dibuatkan lagu berbahasa Arab untuk dinyanyikan di sela-sela pelatihan untuk mengimbangi lagu berbahasa Inggris seperti We Shall Over Come dan tentu saja lagu lagu berbahasa Indonesia. Naskah shalawat yang dibuat Faqih ini kemudian ‘ditashih’ oleh KH. Husein Muhammad dan KH. Muhyiddin Abdush-shomad, lalu Nyai Ruqoyyah Ma’shum menyanyikannya untuk pertama kalinya sebelum diperkenalkan kepada peserta pelatihan. Di kemudian hari Shalawat ini lalu dikembangkan dalam berbagai versi lagu baik oleh Rahima maupun Fahmina.

[4] Di internal Badan Pelaksana Rahima, saya beruntung memiliki tim yang solid: Nining, Fran dan Adi. Ketika pelaksanaan KUPI personil Rahima ketambahan ‘santri’ Rahima: Nur Hayati Aida, Anis Fachrotul Fuadah dan Mustika Adawiyah: Love you all…