Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), benar-benar mengagumkan banyak pihak. Tidak saja pada respon ribuan peserta yang berminat hadir, termasuk dari 15 negara sahabat, tetapi betul-betul strategis dan monumental. KUPI telah mengukir sejarah baru bagi gerakan perempuan di Indonesia bahkan di dunia Islam. Dari sisi waktu, meskipun tanpa disadari diselenggarakan di saat publik tengah mengalami kejenuhan dengan situasi politik dan politisasi agama untuk berbagai kepentingan politik cenderung radikal dan intoleran.

Bahkan dalam beberapa kali rapat terakhir, khususnya ketika memverifikasi ribuan peserta dan pengamat, saya sangat khawatir di antara mereka ada yang ‘menyelusup’ dari kelompok garis keras, karena banyak di antara mereka yang mendaftar tidak menyertakan pemberi rekomendasi sebagaimana diminta panitia, sehingga sulit dikenali asal lembaganya. Kekhawatiran lain yang kadang pesimis meskipun tidak pernah saya katakan kepada teman-teman, adalah keterbatasan waktu karena hampir seluruh panitia memiliki pekerjaan lain sehingga untuk konsentrasi menyiapkan KUPI terbatas. Untungnya panitia inti tetap solid, masing-masing bekerja sesuai dengan tugasnya dan saling berkoordinasi baik dalam rapat maupun melalui grup WA. Setiap saat saling meng-update, bahkan WA nyaris interaktif selama 24 jam. Sungguh… dedikasi yang sangat luar biasa dari panitia KUPI yang tidak pernah saya temukan dalam kepanitiaan manapun.

Menuju hari H, semua panitia termasuk saya bersuka cita berangkat ke Cirebon sendiri-sendiri, namun dalam perjalanan menuju Cirebon, mendapat konfirmasi dari protokol Wapres bahwa tanggal 25 pagi Pak Wapres berkenan direkam ‘ucapan selamat kepada KUPI’. Padahal tanggal 25 itu hari pertama KUPI digelar diawali Konferensi Internasional. Semua panitia sudah di Cirebon, untung hari itu masih ada Bang Helmi Ali di Jakarta, sehingga saya dari Cirebon langsung ke Jakarta dan bersama beliau dan kru TV Aswaja bertemu Wapres di kantornya. Meskipun cukup menyesal saya tidak bisa mengikuti Seminar Internasional tapi bersyukur Wapres akhirnya memberikan greeting untuk KUPI.

Malam hari saat pembukaan, meskipun beberapa ‘nama besar’ yang sedianya dijadwalkan memberikan sambutan/keynote speak berhalangan hadir, namun sahabat Badriyah Fayumi menyampaikan pidato sambutannya sangat luar biasa memukau. Substansinya sangat komprehensif menceritakan peran ulama perempuan sejak masa Rasululllah hingga sejumlah ulama perempuan Indonesia, disampaikan dengan tutur kata yang khas beliau, sejuk. Sepanjang pidato tersebut, batin saya bergolak antara haru, bangga, senang bercampur khawatir membayangkan kalau-kalau ada pihak yang resisten terhadap KUPI. Namun Alhamdulillah, proses kongres berjalan sangat lancar dan memuaskan, dari pembukaan hingga hari-hari berikutnya, agenda demi agenda berjalan dengan lancar.

Begitu juga ketika pembahasan Musyawarah Keagamaan, kebetulan saya ditugasi memimpin sidang Perkawinan Anak, itu pun prosesnya sangat alami dan mengalir lancar, tidak ada penolakan sedikit pun dari peserta, baik substansinya maupun metodologinya. Meskipun di awal, ada salah satu peserta yang cukup keras dengan mengatakan, “Saya tidak setuju jika forum ini akan membuat hukum baru karena bertentangan dengan bla..bla…,” tetapi kemudian melunak dan menyetujui setelah saya jelaskan alur pengambilan keputusan terkait perkawinan anak dalam Musyawarah Keagamaan KUPI tersebut. Keputusan Musyawarah keagamaan pun diterima peserta sesuai dengan apa yang dimusyawarahkan oleh peserta yang hadir.

Acara penutupan dengan seremoni unik yang dirancang Sahabat Tati Krisnawaty, melambangkan gagasan besar KUPI sedang dilandingkan. Saat perwakilan dari berbagai daerah membacakan hasil Musayawarah Keagamaan KUPI yang sangat hebat, kemudian direspon oleh Menteri Agama yang juga mengharukan dan mengagumkan. Respon beliau adalah puncak pengakuan terhadap keberadaan ulama perempuan oleh negara, beliau secara eksplisit dengan suara yang lantang menyebutkan bahwa “Kongres ini luar biasa tidak hanya subsatansinya, tetapi tidak kalah penting adalah prosesnya dari kaum perempuan sendiri, yang untuk pertama kalinya diselenggarakan di Cirebon ini sebagai Kongres Ulama Perempuan Pertama tidak saja di Indonesia tetapi di dunia..”. Subhanallah… saya merinding mendengarnya tanpa terasa menitikkan air mata, bahagia dan bersyukur bahwa kekhawatiran yang dibayangkan sebelumnya tidak terjadi. Semoga keputusan-keputusan KUPI segera ditindaklanjuti oleh berbagai pihak dengan aksi nyata dalam mewujudkan keislaman, kebangsaan dan kemanusiaan yang adil terhadap perempuan.