Turun dari mimbar penutupan KUPI, banyak peserta yang kemudian memeluk saya dan menangis seperti yang saya lakukan bahkan ketika masih di atas mimbar. Ingin sekali tangisan itu saya bendung, tapi nyatanya terus mengalir. Entah kenapa, tapi kalau boleh jujur, yang terbayang adalah; pertama, adanya kebahagiaan saya melihat kemungkinan ke depan. Melihat akan adanya peluang kemudahan bagi ibu-ibu Ulama Perempuan di akar rumput untuk tidak ragu lagi kalau menjawab pertanyaan korban bahwa kekerasan seksual yang dilakukan suami adalah haram. Tidak ada keraguan lagi kalau ada isteri yang menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan suaminya, akan dengan tegas mengatakan bahwa suaminya telah melakukan perbuatan kejahatan dan keji, dan itu dilarang.

Yang kedua, terbayang di pelupuk saya anak-anak yang saat ini menjadi korban perkawinan anak, akan menjadi kuat dan semakin meyakini bahwa dirinya adalah korban. Akan berani melarang keluarganya untuk tidak melakukan hal yang sama ke depan. Para orang tua yang akan mengawinkan perkawinan anak, akan menunda sampai anak mereka dewasa.

Ketiga, meski saya sangat optimis, yang saya letakkan pada masyarakat dan korban, namun sebenarnya ada keraguan, apakah otoritas pemerintah melakukan hal yang sama. Sebab setelah tangisan saya usai bersama kawan-kawan, keraguan muncul kembali. Hal ini karena situasi dan kondisi yang saya lihat sampai saat ini, bahwa proses advokasi tentang posisi dan kondisi perempuan Indonesia dalam pemenuhan hak-haknya, cuma berputar-putar di situ saja, naik turun dan berputar lagi seperti Cokromenggilingan.

Tapi, sesaat tambahan pelukan kawan-kawan yang saya terima dan berikan, memberi saya energi, bahwa ada doa ribuan orang yang terus dipanjatkan. Bukan hanya oleh peserta, tapi oleh semua manusia yang ingin kehidupan yang lebih baik. Dan, saya percaya Allah selalu melindungi kita semua hambaNya, mahlukNya.

Dalam hati saya, terus membunyikan kebahagiaan. Karena menurut saya, KUPI telah memberi ruang berefleksi atas apa yang sudah saya lakukan selama ini. KUPI juga menjadi ruang perjumpaan dengan insan-insan hebat yang selama ini tidak mudah saya temui, para Nyai yang memiliki modal kehidupan yang sangat banyak. KUPI bagi saya menjadi perjumpaan antara masalah dan solusi.  Semoga Allah terus membimbing kami.