Sebagai salah satu panitia yang terlibat aktif dalam proses KUPI, pada awalnya saya ragu KUPI akan terselenggara karena berdasarkan pengamatan saya selama ini dari berbagai diskursus tentang isu perempuan selalu saja mendapati resistensi dari berbagai kalangan. Namun kemudian muncul keyakinan bahwa KUPI akan diterima, setelah mendatangi beberapa tokoh yang cukup berpengaruh di Indonesia dan kyai-kyai pesantren, yang memberi respon positif terhadap KUPI.

Penyebutan KUPI, memang masih terasa aneh bagi sebagian orang, karena istilahnya susah dipisahkan antara nama kegiatan dengan sebutan pada individu yaitu ulama perempuan. Bahkan ada kawan yang bercerita pada saya karena penasaran dengan istilah KUPI, ia lalu mencari di internet dengan mengetik “KUPI”, yang muncul adalah nama-nama kedai kopi yang menyajikan menu-menu minuman kopi dengan berbagai racikan. Itu satu cerita pada pertengahan 2016, ketika nama KUPI belum dipahami sebagai nama perhelatan besar seperti yang saat ini beredar luas.

Cerita lainya adalah pada saat saya dan panitia lain bersilaturrahmi ke beberapa orang. Ketika menjelaskan apa itu KUPI, ada salah satu ibu Nyai bertanya, “Memang ada ya ulama perempuan?, bukannya ulama itu laki-laki?, apa ini tanda-tanda zaman akhir?” tentu saya dan teman menjadi terdiam. Setelah itu kami menjawab, “Bukannya ada cerita perempuan dalam Islam yang menyampaikan pesan-pesan keagamaan? ada Siti ‘Aisyah yang banyak meriwayatkan hadist, Rabi’ah Al-Adawiyah, tokoh sufi yang berpengaruh dan sya’ir-syairnya dikagumi banyak orang baik laki-laki maupun perempuan.”

Selain cerita di atas, ada juga yang meragukan apakah KUPI bisa terlaksana. Ini karena ada cerita penerimaan Kyai dan Nyai pesantren yang kami temui tentang KUPI. Sebagian besar merespon dengan penasaran, apa yang akan dimunculkan dalam KUPI? Bagaimana KUPI merespon persoalan-persoalan sosial kebangsaan yang saat ini sedang dihadapi bangsa Indonesia? Tetapi ada juga yang berharap momen KUPI memberi harapan baru tentang pemahaman dan pandangan yang bisa menyelesaikan persoalan bangsa saat ini. Mereka juga mengapresiasi peran-peran ulama perempuan yang mereka ketahui, telah berkontribusi terhadap pengetahuan keagamaan dan peran sosial yang tidak kalah penting dari ulama laki-laki. Pernyataan ini melegakan saya untuk terus bergerak, dari satu pesantren ke pesantren lainnya untuk silaturahmi dan memperkenalkan KUPI.

Pengalaman lain saya adalah ketika mengikuti dialog pada workshop Pra KUPI di tiga tempat yaitu Yogyakarta, Padang dan Makasar. Tiga tempat ini berbeda respon terhadap istilah ulama perempuan. Di Yogyakarta istilah itu diterima dengan catatan harus banyak menunjukkan peran-peran ulama perempuan yang selama ini tidak dianggap, agar masyarakat menerima ulama perempuan. Sementara di Padang ragu, bahwa istilah ini justeru akan menyempitkan aktifitas perempuan yang saat ini sudah mulai dibuka. Sementara di Makasar istilah ulama perempuan menjadi kesempatan bagi perempuan-perempuan yang saat itu hadir, “Ini kesempatan bagi kita yang perempuan yang sudah berupaya untuk kebaikan hidup bersama, kita tunjukkan kepada masyarakat,” tegas salah satu peserta dialog di Makasar.

Berbeda dalam merespon istilah ulama perempuan. Respon terhadap penyelenggaraan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), cukup baik. Dari tiga tempat semua bersedia hadir untuk merumuskan lebih matang tentang keulamaan perempuan dan respon ulama perempuan terhadap isu-isu kontemporer yang akan dibahas.

Dari berbagai bentuk respon istilah keulamaan perempuan dan penyelenggaaraan KUPI, membuat saya yakin, bahwa momen KUPI ini penting untuk disukseskan. Karena itu segala kemampuan saya, baik atas nama pribadi maupun atas lembaga Fahmina akan berusaha keras untuk mencurahkan daya upaya agar KUPI ini terlaksana dengan baik. Dan setiap orang yang bertanya tentang KUPI saya jawab dengan tegas tanpa ragu bahwa KUPI adalah peneguhan dari peran-peran ulama perempuan yang selama ini terpinggirkan oleh catatan sejarah.

Saya meyakini, bahwa KUPI akan menggerakkan banyak orang. Karena ada harapan yang akan memberi pencerahan, pengalaman, tentang harapan dan cita-cita yang lebih baik untuk kehidupan bersama, bukan hanya sesama manusia, tetapi juga sesama mahluk Allah. Di KUPI ini yang saya amati dan rasakan, tidak ada nuansa politis, tidak ada nuansa kecurigaan satu sama lain, tidak ada nuansa merasa paling berjasa, tidak ada nuansa mendominasi, semua bekerjasama sesuai dengan porsi dan kemampuan dan kapasitasnya masing-masing. Semua meyakini dan bergerak untuk satu harapan KUPI terlaksana dan diterima masyarakat dengan baik.