Efek KUPI I masih terasa. Indonesia masih menghadapi krisis kepemimpinan perempuan juga ulama perempuan. Namun ini bukan berarti di Indonesia tidak ada perempuan yang memiliki kapasitas serta berpotensi untuk menjadi pemimpin dan ulama. Namun mereka masih menghadapi hambatan agar bisa eksis dan diakui keberadaannya. Perkawinan anak, perjodohan sejak dini, domestikasi sebagai pembatasan ruang gerak perempuan, kemiskinan, stigma, kekerasan, dan lain-lain, masih menghantui perempuan di Indonesia dan seluruh belahan dunia. KUPI diselenggarakan salah satunya untuk memperjuangkan kaum perempuan, dari segala bentuk diskriminasi yang menghambat serta mengembalikan marwah ulama perempuan.

Secara pribadi saya ucapkan selamat dan sukses kepada teman-teman Rahima Rumah Bersama. Semoga ke depan KUPI II bisa terselenggara kembali dan lebih baik.

Terimakasih Mbak AD Eridani yang sudah “menjapri” saya untuk ikut kegiatan ini. Bangga bisa menjadi bagian dari sejarah penyelenggaraan KUPI pertama. Banyak share dan pembelajaran, kenangan yang lain adalah berjumpa para Bu Nyai muda dari berbagai pesantren, berkumpul teman-teman lawas yang tentunya ketika mereka datang memiliki visi yang sama dengan kita.

Mohon maaf jika suami saya, Mas Imam Mbah Dukuh tidak bisa hadir, karena beliau sedang berada di Cina.