Di tengah panas-meranggasnya politisasi agama, kerusakan alam, ketimpangan sosial,  dan kokohnya sistem patriarkhi, terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) seperti  “bermain” di tepian oase; tempat yang teduh untuk berkumpul, bersapa, bertanya, berbagi, dan bertukar pikiran tentang agama dari pengalaman perempuan dengan perspektif kebangsaan dan kemanusiaan. Kongres ini menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk menelaah perjalanan panjang ulama perempuan, mendengarkan suara-suara mereka yang terabaikan, dan mencermati tanda tanda zaman, termasuk membaca tantangan yang paling nyata dalam kehidupan beragama dan berbangsa kita saat ini.

KUPI berlangsung semarak, mulai dari seminar internasional di kampus IAIN Syekh Nurjati Cirebon, aksi-aksi sosial, hingga serangkaian diskusi tematik, pembacaan ikrar dan perumusan “fatwa” (musyawarah keagamaan) di Ponpes Kebon Jambu al-Islami Babakan Ciwaringin Cirebon, pada tanggal 25-27 April 2017. Perlahan tetapi pasti saya melihat oase itu telah menjelma menjadi laut. Laut biru yang bukan hanya menyediakan kesejukan air, tetapi juga membentangkan horizon, menyediakan keluasan, kedalaman, keindahan, kekayaan, dan referensi perjalanan ke segala arah dengan debar dan debur. Ikrar KUPI dan hasil musyawarah keagamaan di Kebon Jambu adalah tiang-tiang  pancang layar perjalanan bersama mencari nilai yang hakiki, yang sejati, dan yang otentik.

Banyak air mata yang meleleh ketika KUPI ditutup. Air mata itu membasahi wajah, menemani irama hati para peserta dan penyelenggara: yang tergetar saat mendengarkan doa tawasul oleh Nyai Hj. Masturoh Hannan, tokoh perempuan kharismatik dari Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon; yang tersentuh saat Sekretaris Umum KUPI, Ninik Rahayu mengucapkan terima kasih dengan membagikan setangkai bunga pada santri-santri yang selama kongres bekerja keras membersihkan sampah dari ruangan sidang, mengatur parkir, menyediakan makanan, dan menata sandal serta sepatu peserta-peserta kongres; juga hati kita yang terasa lapang saat  mendengarkan ikrar dan hasil-hasil musyawarah keagamaan KUPI; hati yang bahagia mendengarkan sambutan Menteri Agama RI Drs. H. Lukman Hakim Saefuddin  dan pimpinan DPD RI, GKR Hemas. Airmata pun tak terbendung saat peserta meledak dalam derai tawa menyaksikan episode pelepasan burung merpati sebagai bagian dari upacara penutupan.

Rasanya tidak berlebihan jika saya atau orang lain mengatakan bahwa KUPI adalah sebuah pertemuan yang luar biasa. Air mata dan derai tawa itu bagaikan stempel konfirmasi yang dibuat oleh hati. Pada air mata ada ikatan batin. Pada derai tawa ada kemampuan membuat jarak, kemampuan berbahagia dalam menyadari kekurangan dan sekaligus kemampuan menihilkan yang menjulang berlebihan. Dengan rangkaian diskusi tematik dan internasonal, dengan linangan air mata dan derai tawa, KUPI menjadi sebuah pertemuan yang lengkap: sarat cerita, sarat makna, sarat pemikiran, dan sarat rasa.

Tentu ada banyak elemen yang menjadi fondasi dari keistimewaan KUPI. Tulisan tulisan refleksi yang dibuat oleh peserta dan panitia memberi banyak gambaran. Saya ingin sertakan yang mengendap di hati saya yaitu soal kepemimpinan.

Dari Ponpes Kebon Jambu yang paling tidak bisa saya lupakan adalah  “keterbukaan dan layanan penuh kasih” dari  Nyai Hj. Masriyah Amva; pada salah satu rapat persiapan di bulan September 2016 kami panitia dari luar kota Cirebon dipersilahkan bermalam di kamar tidur pribadinya yang asri, disediakan selimut dan handuk yang halus; juga disediakan makanan hangat pagi siang dan malam. Kami bicara dan bicara banyak hal sambil bercanda ria, seperti sebuah keluarga bahagia. Tradisi keterbukaan dan kekeluargaan ini terus berlangsung saat KUPI belangsung dengan ratusan peserta yang datang dari berbagai penjuru di tanah air. Ponpes Kebon Jambu membuka pintu lebar-lebar bagi para peserta untuk bermalam. Semua peserta mendapatkan penghargaan yang sama, memiliki kemerdekaan bicara, berpakaian, dan memilih menu makanan yang tersedia beragam. Panggung utama kongres pun tidak hanya berisi orasi dan diskusi, tetapi juga musik, lantunan shalawat, dan alunan merdu lagu-lagu para penyanyi dari santri hingga Dewi Yull. Semua berlangsung organik. Kehangatan, kenyamanan, dan harmoni ini adalah elemen-elemen dari kepemimpinan Pondok Pesantren Kebon Jambu yang dijalankan oleh seorang ulama perempuan, Nyai Masriyah Amva. Beliau berujar, “Memimpin adalah meneruskan Kasih Sayang Tuhan, Tuhan sangat sayang kepada saya, memberi apa saja yang saya butuh, saya pun harus demikian pada sesama; Tuhanlah atasan saya, saya bukan apa-apa, bukan siapa-siapa”.

Dari  proses kepanitiaan, yang paling menetap di hati saya adalah dinamika kerja kolosal gotong royong yang berbasis gerakan dan persahabatan. Kepemimpinan penyelenggaran KUPI adalah kepemimpinan kolektif  dari  Rahima, Fahmina, dan Alimat. Tiga serangkai yang berdiri di garis depan: Eridani, Faqihuddin, dan Badriyah Fahyumi  selain pemikir dan pekerja keras, mereka juga mengedepankan sikap keterbukaan yang bukan tanpa resiko. Keterbukaan di satu sisi mengundang banyak kehadiran pemikiran kritis dan kreatif, atau bala bantuan partisipasi aktif dari orang-orang  yang terlibat. Di sisi lain keterbukaan juga menciptakan ruang-ruang yang sering menjanjikan tetapi kemudian ternyata hampa kerja nyata. Menyeimbangkan dua peluang ini adalah seni kerja yang besar.

Sampai beberapa hari menjelang pelaksanaan, persiapan KUPI terasa centang perenang, banyak hal yang harus dilakukan dalam waktu terbatas, dan pelaksana yang berhamburan. Repotnya seperti memainkan selusin bola ke udara dengan satu tangan saja, semua bola harus tertangkap dan pada saat yang tepat harus segera dilempar jauh ke udara secara bergantian.  Akrobatik tingkat tinggi.  Dan… berhasil!; seperti yang terlihat di Pesantren Kebon Jambu  saat KUPI berlangsung, tidak ada “bola” yang jatuh, apalagi menggelinding hilang. Saya lihat rahasia dibalik keberhasilan ini adalah kombinasi antara pengetahuan yang luas, keberanian menerima tantangan, kerendah-hatian untuk berbagi, kebersamaan, dan dedikasi yang tinggi, yang diorkestrakan oleh kawan kawan dari Rahima, Fahmina dan Alimat. Saya amat bersyukur dan berterima kasih berada di tengah tengah para pemain orkestra yang hebat ini, perkenankan saya menyebut beberapa nama selain tiga serangkai tadi: Nur Rofiah, Kamala Chandrakirana, Kyai Husein, Maria Ulfah,  Marzuki Wahid, Marzuki Rais, Rosidin, Ruby Khalifah, Neng Dara Affiah, (dan tentu masih banyak lagi). Saya memetik banyak pelajaran dari kepemimpinan penyelenggaraan KUPI.

KUPI di Ponpes Kebon Jambu adalah kerja bersama kita dalam membuat tiang-tiang pancang bagi perahu kebangsaan dan kemanusiaan yang akan berlayar di lautan amanah bahwa agama adalah rahmat untuk alam semesta.

Semoga pelayaran kemanusiaan kita kokoh, berhasil menembus awan pekat dan badai, baik yang telah kita kenali (bernama politisasi agama, kerusakan alam, ketimpangan sosial, dan patriarkhi) maupun yang belum kita kenali. Ponpes Kebon Jambu dan KUPI mendorong kita untuk terus bekerjasama membangun pengetahuan dan kepemimpinan dari pengalaman perempuan. Kepemimpinan bukanlah posisi dan status tetapi tindakan nyata: tanggung jawab sosial, keterlibatan, kepekaan, ketelitian, pengorbanan, dan ketulusan untuk melahirkan dan menguatkan nilai-nilai kasih sayang, merawat kehidupan.

Waddinxveen, 30 Mei 2017