Ibu-ibu Serikat PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga) di Desa Mekar Sari, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat pada kuartal akhir tahun 2016 beramai-ramai mengusulkan peraturan desa pencegahan kawin anak yang telah sejak lama menjadi keprihatinan mereka.  Usulan ini disampaikan ke dua pihak yaitu pemerintah desa (Pemdes) dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Salah seorang anggota BPD yang berpengaruh adalah Ustadz Sahuri.  Dahulu kala Ustadz Sahuri termasuk salah seorang ustadz yang dengan kuasa dan pengaruhnya kerap menjadi penghulu pernikahan anak khususnya anak perempuan, yang di dalam komunitasnya merupakan hal biasa. Pada kurun waktu 2014-2015 Ustadz Sahuri pernah dilatih oleh para Kyai dan Nyai Alimat tentang Keadilan dalam Keluarga Islam, sebagai bagian dari strategi PEKKA bekerja dengan ulama dalam program penguatan hukum keluarga. Proses interaksi dengan Kyai dan Nyai Alimat telah membuka matahati Ustadz Sahuri akan bahaya perkawinan anak.  Sejak itu, beliau menjadi mitra strategis utama Serikat PEKKA dalam kerja-kerja advokasi di wilayahnya.

Berdasarkan usulan Serikat PEKKA, Ustadz Sahuri membentuk tim kecil untuk menganalisa dan mendiskusikan pembuatan Perdes pencegahan pernikahan anak. Tim terdiri atas BPD, Kades, kader dan perwakilan serikat PEKKA serta perwakilan kader perempuan lainnya. Pak Ustadz memimpin rangkaian proses pembuatan perdes termasuk melakukan pendekatan personal pada tokoh-tokoh formal dan non-formal berpengaruh yang sebagian tidak sepenuhnya setuju dengan usulan ini. Serikat PEKKA mengumpulkan berbagai kasus dari lapangan kehidupan nyata (live reality) terkait perkawinan anak yang menjadi bahan pendukung bagi Ustadz Sahuri melakukan lobi dan penyadaran akan bahaya kawin anak pada jamaahnya dan masyarakat luas. Kasus-kasus tersebut juga menjadi salah satu argumentasi untuk pembuatan Perdes pencegahan kawin anak.

Setelah semua dirasakan siap, Ustadz Sahuri selaku BPD bersama Kepala Desa kemudian mengadakan musyawarah desa (musdes) dengan agenda tunggal membahas draft Perdes yang telah disiapkan.  Seluruh elemen pemangku kepentingan hadir dalam Musdes termasuk BPD, Kades dan seluruh aparatnya, ketua RT dan RW, Kepala Dusun, tokoh agama dan tokoh masyarakat serta perwakilan kelompok perempuan seperti Serikat PEKKA.  Tanpa perdebatan panjang, Musdes menyetujui sepenuhnya draft Perdes yang diusulkan Serikat PEKKA bersama BPD dan Kades. Saat ini Perdes telah masuk di biro hukum pemerintah Kabupaten kubu Raya sebagai tahapan lanjutan.

Kisah di atas, merupakan salah satu alasan kenapa aku menitikan airmata bahagia dan haru ketika mendengarkan Ikrar KUPI yang dibacakan dengan penuh keyakinan secara bergantian oleh Nyai Umdatul Choirat dari Pesantren Jombang Jawa Timur, Nyai Mariatul Asiah dari Banjarmasin, dan Nyai Raudlatun dari Madura.  Aku tergetar mendengarkan Nyai Hj. Fatmawati Hilal dari Makasar membacakan rekomendasi KUPI, yang memberikan optimisme untuk perubahan yang mendasar dalam kehidupan perempuan.  Pembacaan sikap keagamaan yang dibingkai dalam tiga tema besar yang dilakukan oleh Nyai Habibah Junaedi dari Banjarmasin untuk isu pernikahan anak, Nyai Hj. Khadijah Amiri dari Batam untuk isu kerusakan alam dan ketimpangan sosial, serta Nyai Hj Priyati dari Jakarta untuk isu kekerasan seksual, memberikan keyakinan kuat untuk melanjutkan berbagai kerja yang telah dirintis selama ini.  Seperti menemukan oase, akhirnya titik sangat kecil yang kami kerjakan bersama komunitas PEKKA selama ini dapat terhubung dengan garis panjang yang telah di rintis oleh guru, teman, sahabat seperjalanan yang secara konsisten memperjuangkan keadilan dalam keluarga Islam selama lebih dari dua dekade terakhir seperti P3M, Rahima, Fahmina serta Alimat.  Aku meyakini ratusan ulama perempuan yang hadir di KUPI dapat menjadi teman seperti Ustadz Sahuri di lapangan nanti.

Kehadiranku dalam KUPI sejak dari rapat perdana untuk mematangkan gagasan di Fahmina Cirebon, membawa “bendera” PEKKA yang selama lebih dari 15 tahun mengorganisir perempuan kepala keluarga miskin di berbagai wilayah Indonesia.  Kami di PEKKA menyadari betul peran penting ulama dan tokoh Islam dalam mendorong tercapainya keadilan bagi perempuan dalam kehidupan berkeluarga khususnya keluarga muslim. Tiga dimensi kekuasaan -terlihat, tersembunyi dan tak terlihat-, yang menjadi alat analisa PEKKA dalam pengorganisasian dan pengembangan strategi, memang menempatkan ulama, tokoh agama dan tokoh adat dalam kelompok kuasa tersembunyi yang sekaligus kuasa tak terlihat. Dalam konteks Indonesia, hampir tidak mungkin berhasil jika mengorganisir masyarakat untuk perubahan sosial berkeadilan tanpa melibatkan lini kuasa ini. Masih kuatnya pengaruh ulama dan tokoh non formal di masyarakat, membuat PEKKA memutuskan untuk membangun hubungan strategis dengan ulama dan tokoh adat di wilayah-wilayah kerja PEKKA sebagai salah satu pilar dalam kegiatan advokasi kami.

Selama ini sangat sulit menemukan ulama perempuan di lapangan, khususnya yang memiliki cara pandang dan pemahaman yang hampir sama dengan PEKKA dalam melihat persoalan ketidakadilan yang dihadapi oleh perempuan kepala keluarga khususnya dan perempuan pada umumnya.  Bahkan di suatu daerah pernah terjadi seorang ulama perempuan melarang seorang ibu PEKKA mempimpin doa pembuka acara ketika di acara tersebut hadir pula Ustadz laki-laki meskipun sang Ustadz memperkenankannya.  Karena itu, bertemu ratusan ulama perempuan dan mendengarkan suara serta pemikiran mereka merupakan pengalaman spiritual dan emosional yang tak dapat dituangkan dalam kata-kata.  Apalagi dalam pidato pembukanya Nyai Badriyah telah menguraikan dengan rinci peran penting ulama perempuan di seluruh dunia sejak zaman nabi, termasuk ulama perempuan di Indonesia dalam membangun sejarah panjang peradaban Islam. Aku merasa selama ini telah abai tidak menggali dan menggunakan hal ini sebagai salah satu basis pengetahuan untuk menghadapi tantangan pengorganisasian di lapangan.  Kekuatan ulama perempuan sebagai harapan untuk Indonesia yang lebih adil dan beradab tercermin nyata ketika mendengarkan Nyai Masriah selaku pimpinan pondok pesantren yang menjadi ibu rumah acara ini menyampaikan pidatonya secara bersahaja namun penuh makna.

Kerjasama PEKKA-ALIMAT yang dilakukan sejak tahun 2014  dengan cara mengajak lebih dari 600 ulama  (90% laki-laki) di berbagai wilayah kerja PEKKA untuk berlokakarya, memberikan pelajaran penting bahwa sebagian ulama sesungguhnya juga menyadari ketidakadilan yang kerap dialami oleh perempuan dalam kehidupan termasuk dalam keluarga akibat tradisi yang dilegitimasi dengan interpretasi agama. Namun demikian mereka memiliki keterbatasan “wawasan” dan “metodologi” studi Islam sehingga kurang berani keluar dari pakem mainstream ulama dalam merespon ketidakadilan yang ada. Resistensi yang selama ini mengemuka sesungguhnya membutuhkan ruang dialog yang efektif guna membicarakan realita kehidupan dan interpretasi teks yang mereka kuasai untuk mencari kemaslahatan sebagaimana pesan mendasar kehadiran Islam. Oleh karena itu sejak awal PEKKA memang menaruh harapan tinggi pada KUPI, yang akan menjadi arena pertemuan kajian keagamaan dengan realita kehidupan dengan pendekatan dan metodologi yang lebih progresif.

Meskipun hanya berkontribusi sangat sedikit dan tidak terlalu signifikan dalam pengorganisasian KUPI, aku belajar banyak dalam hal konten, cara kerja dan jejaring dalam kerja luar biasa ini.  Aku ikut larut dan merasakan kebahagiaan, kebanggaan, dan rasa syukur yang tak habis-habisnya sebagaimana banyak kawan lain dan peserta KUPI yang telah menuliskan refleksinya. Apa yang telah mereka tulis cukup merepresentasikan apa yang kurasakan pula.  Oleh karena itu, dalam tulisan refleksiku ini aku ingin fokus pada langkah berikutnya memanfaatkan momentum sebelum lewat begitu saja.

  • Pertama; aku dan kawan-kawan di PEKKA ingin mengidentifikasi di wilayah terdekat mana saja yang ada ulama perempuan yang hadir di KUPI. Kami ingin mulai menjajaki membangun arena belajar bersama ibu-ibu PEKKA di tingkat desa. Topiknya bisa dimulai dengan mencermati teks ikrar, rekomendasi dan sikap keagamaan yang merupakan hasil resmi KUPI. Dari proses ini, diharapkan terbangun kekuatan dan sinerji sehingga dapat bersama merespon berbagai konteks yang terjadi di lapangan.  Dengan demikian, kerjasama seperti layaknya dengan Ustadz Sahuri di atas dapat terus digulirkan.
  • Kedua; aku dan kawan-kawan di PEKKA akan membangun komunikasi dengan beberapa ulama perempuan yang telah dengan sengaja mendekati dan meminta PEKKA untuk membantu mereka mengorganisir perempuan kepala keluarga yang telah jadi jamaah mereka selama ini. Sebagian wilayah memang belum ada komunitas PEKKA, sehingga akan dikembangkan strategi khusus untuk kepentingan ini.
  • Ketiga; aku akan berusaha untuk terlibat aktif jika ada upaya menterjemahkan hasil-hasil KUPI ke dalam bentuk kegiatan rutin berbentuk kajian, diskusi, dan kelas belajar yang akan menambah wawasan, pemahaman, dan kekuatan untuk terus memperjuangkan keadilan dengan cara dan jalan yang telah aku pilih.
  • Keempat; aku berkomitmen untuk tetap terlibat meskipun dengan skala dan frekuensi terbatas menjaga semangat KUPI tetap menyala sehingga akan ada KUPI lanjutan ke Untuk itu rintisan harus sudah dimulai lagi sejak sekarang.
  • Kelima; melalui Musawah aku berusaha membawa gaung KUPI agar dapat menginspirasi kawan-kawan di negeri lain yang juga berjuang di tempatnya masing-masing. Untuk itu, akan mengajak ALIMAT menuliskan proses dan pembelajaran KUPI menjadi produk pengetahuan yang dapat dibaca dan dimengerti oleh bangsa lain. Terselenggaranya seminar Internasional dalam rangkaian KUPI tentunya telah membuka jendela mata dunia melihat Indonesia terkait hal ini. Harapan besar secara jelas telah disandarkan oleh kawan-kawan Internasional pada kita di Indonesia untuk menggulirkan gerakan yang dahsyat ini.

Aku ingin menutup refleksiku dengan penghargaan dan terima kasih yang tentunya tak pernah cukup dituliskan dengan kata-kata, kepada setiap individu yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan. Semua telah bekerja keras, ikhlas dan penuh dedikasi sehingga KUPI dapat terselenggara dan memberikan hasil bahkan melebihi yang terbayangkan.  Doa terbaik dan tulus untuk kebahagiaan semua. Tak mampu menyebutkan satu persatu nama, namun semua wajah terbayang mulai dari yang terdekat dalam keluarga besar Alimat, Rahima dan Fahmina, yang dahinya terus berkerenyit dalam diskusi kritis dan pengambilan keputusan di titik genting sehingga semua terlihat indah dan lancar.

Kemudian para santri yang dengan tekun mengatur sepatu tamu di rumah Bu Nyai Hj. Masriyah Amva, yang dengan rajin menyapa setiap orang di depan gerbang, yang memberi arahan dan informasi, yang melayani makan dan minum dengan riang gembira, yang mengumandangkan suara-suara merdu mereka melalui lantunan ayat suci dan narasi lagu, yang membersihkan dengan cepat setiap kotor yang tercipta dari berkumpulnya banyak orang, dan yang duduk tekun mendengarkan dengan mata berbinar, serta puluhan peran-peran penting lainnya memastikan acara berjalan baik dan para tamu terperhatikan. Terima kasih untuk kesabaran yang terus menerus disiramkan oleh tim kerja sehingga mendinginkan suhu yang kadang menghangat tertekan cuaca dan dinamika.  Terima kasih telah memberikan kesempatan padaku untuk tetap berada dalam tim kerja sehingga dapat belajar secara utuh proses ini. Terima kasih untuk telah menjadi penghubung garis panjang yang telah dibuat oleh banyak pihak dengan titik kecil yang kami buat bagi keadilan dan martabat perempuan dalam keluarga Islam.

13 Mei 2017