Saya agak telat tiba di pondok Pesantren Kebon Jambu, Babakan, Ciwaringin (lokasi Kongres Ulama Perempuan Indonesia); karena siangnya menemani Maria Ulfah Anshor, menemui Bapak Yusuf Kalla (JK).  Saya tiba sore hari (25 April) menjelang Maghrib. Ketinggalan satu acara (seminar internasional). Beruntung saya bisa mengikuti acara pembukaan; seterusnya, ikut terus sampai acara penutupan.

Senang bisa bertemu banyak orang, kawan-kawan lama, para alumni Pendidikan Ulama Perempuan (PUP), delegasi dari berbagai daerah (dari Papua sampai Aceh). Umumnya tampak berbahagia. Senyum dan tawa selalu menyertai sapaan dan pembicaraan.

Saya bertemu dengan orang-orang yang tidak saya duga bertemu di tempat itu; seperti Dul/Dulloh (yang setahu saya lagi merantau ke Riau) atau Mustika (mantan staf Rahima) atau Hamzah (NU online), Neng Ida dan Neng Nung (yang jarang meninggalkan Cipasung), dan lain-lain.

Saya merasakan kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah kawan-kawan yang terlibat acara ini. Terutama para inisitor dan panitia. Meskipun juga terselip rasa cemas dan khawatir.

Perasaan seperti itu bisa dipahami, karena ini peristiwa besar, bersejarah, yang entah kapan bisa lagi terjadi dengan suasana seperti itu. Sedangkan jalan yang dilalui untuk sampai ke situ berliku, penuh rintangan dan tantangan; sehingga kadang-kadang terpikirkan bahwa itu tidak mungkin terjadi.  Tetapi toh pada akhirnya terlaksana juga.

Perasaan khawatir, cemas juga tetap menggelayut, menyelip dalam proses karena ada (upaya, bukan) rumor yang berseliweran; mulai dari para pejabat yang minta jatah mengambil bagian pada acara tertentu, sampai kepada para penyusup yang mencoba memberi warna atau bahkan membelokkan arah.

Tetapi semua bisa diatasi karena mereka bekerja sebagai team yang kompak, solid. Mungkin karena kawan-kawan ini diikat oleh visi yang jelas, serta komitmen yang kuat; yang dibangun bersama sejak lama. Uniknya mereka datang dari berbagai latar belakang, wilayah dan tempat yang berbeda. Entah apa yang menyatukan mereka; mungkin karena mereka dibentuk oleh pengalaman yang sama, mengalami realitas yang sama, yang memunculkan kerisauan yang sama dan respon terhadap situasi yang dihadapi itu (peminggiran dan keterpinggiran; ketimpangan relasi dan ekploitasi). Perjalanan panjang tampaknya memungkin mereka berada pada sudut pandang yang sama, sehingga terbangun kerangka pandang yang juga sama (yang bertumpu pada rasa keadilan, kesetaraan, keseimbangan dan keberagaman).

Efeknya, sangat menakjubkan. Mereka bekerja dalam sebuah team yang solid; tidak banyak terganggu oleh rumor dan upaya-upaya yang melemahkan. Padahal di situ ada beragam karakter, berbagai latar belakang dan tradisi; yang secara logika sangat rentan untuk dilemahkan sebagai sebuah kelompok. Menakjubkan mereka bisa meredam egoisme, saling menerima, saling memberi, saling mendahulukan, saling memberi jalan, dan yang paling penting saling mengisi. Maka terjalin kerjasama yang sangat efektif. Banyak kejutan yang terjadi, tetapi tidak ada yang mengganggu alur acara. Semua berada dalam kerangka rancangan dasar acara. Banyak inprovisasi tetapi tidak mengganggu, bahkan mempermulus dan mempercantik acara. Dalam situasi seperti itu (penuh tekanan, karena harapan sendiri dan intervensi pihak lain) memang tidak lagi menggunakan pendekatan yang kaku. Dibutuhkan kemampuan improvisasi tinggi, dibutuhkan spontanitas, keluwesan; itu hanya bisa dengan jam terbang tinggi; dan itulah yang dimiliki oleh kawan-kawan ini.

Melihat mereka bekerja, seperti melihat jam session dalam sebuah pagelaran musik jazz; yang menghimpun banyak pemusik yang memiliki karakter berbeda.  Dimana para pemusik bisa berimprovisasi, secara leluasa. Mempesona, menyaksikan mereka, saling menunjukkan kemampuan terbaiknya, tanpa mengecilkan atau menutupi yang lain. Mereka saling memberi kesempatan, dan uniknya saling mengisi.  Irama musik tetap terjaga, harmonis, utuh, enak didengar dan juga enak ditonton. Itu dimungkinkan karena mereka memiliki kerangka pandang yang sama, saling menghargai dan menghormati. Kadang-kadang aneh melihat para pemusik itu, yang memiliki karakter berbeda dan menonjol di kelompoknya masing-masing bisa memainkan musik bersama-sama, dengan harmoni tinggi.

Saya merasa beruntung bisa ikut acara ini. Sebab ini adalah sebuah peristiwa besar (sama ketika para aktivis dan Organisasi perempuan pada masa sebelum kemerdekaan menyelenggarakan kongres; merespon penjajahan bangsa dan ketidakadilan tehadap Perempuan). Ini adalah peristiwa bersejarah; yang entah kapan lagi bisa terjadi, dengan format dan situasi yang sama. Mungkin seumur hidup saya tidak akan menemui lagi peristiwa seperti ini.

Tetapi apapun–karena situasi, karena sistem hegemonik, karena struktur timpang dan budaya dominan–bagi saya, ini bukan sebuah akhir, bahkan awal dari sebuah perjalanan panjang ke depan. Atau paling tidak ini adalah sebuah halte, atau sebuah stasiun. Tentu ini memiliki posisi dan peran sangat penting untuk langkah berikutnya. Karena dari tempat ini komunitas, kelompok masyarakat yang selama ini dipinggirkan, tidak dihitung, direndahkan, tidak diakui keberadaannya memproklamirkan diri; bahwa ia ada, dan adanya itu tidak bersifat kebetulan. Ia memiliki sejarah, yang merupakan bagian dari sejarah agama, sejarah ilmu pengetahuan, sejarah manusia dan kemanusiaan, sejarah kemerdekaan, sejarah masyarakat bangsa. Ia ada karena memang sungguh-sungguh ada, sebuah kenyataan yang tidak ditolak. Ia ada karena memiliki kerja nyata yang terasakan manfaatnya bagi kaumnya, masyarakat manusia pada umumnya yang terpinggirkan dan bangsa yang tercabik-cabik. Ia ada dengan dan karena buah pikirannya yang mendasar merespon persoalan perempuan, kemanusiaan, bangsa dan lingkungan hidup.

Tentu tidak bisa hanya berhenti pada stasiun yang ada sekarang.  Betul bahwa stasiun sekarang ini dicapai dengan perjuangan panjang dan pengorbanan besar. Penting keberadaannya. Sudah ada bendera yang ditancapkan di situ, yang berkibar dengan megahnya. Tetapi itu tidak cukup, masih ada stasiun di depan sana, yang tidak kalah pentingnya, yang bahkan mungkin lebih berat tantangannya, yang perlu dicapai. Tentu stasiun dan bendera itu, sebagai momen dan monumen, perlu di jaga agar tidak direbut para petualang yang hanya mencari keuntungan. Tetapi perlu juga kembali memikirkan langkah dan strategi untuk mencapai atau membangun atau merebut stasiun-stasiun berikutnya.

Saya percaya itu bisa diwujudkan, sepanjang semangat dan kebersamaan peserta kongres terjaga. Mungkin yang perlu dilakukan adalah menyambung komunikasi antar mereka; menguatkan posisi mereka sebagai titik simpul dalam sebuah jaringan (agar bisa saling menguatkan); memperkuat peran mereka (untuk memproduksi dan menyebarkan gagasan, mendesakkannya kepada pengambil kebijakan; memperkuat kemampuan kaderisasi agar regenerasi berjalan, kemampuan mengorganisir jamaah, dll) dengan pendekatan dan metode yang berdayaguna yang tidak merusak keseimbangan alam. Saya percaya itu bisa dilakukan, melihat team—aktor-aktor dan Organisasi–yang selama ini menggagas, merancang dan mengorganisir KUPI; yang selama ini memfasilitasi dan mengantar peserta (para ulama perempuan) sampai ke Kebon Jambu untuk ber-kongres, melalui berbagai cara.