Awalnya ada keraguan yang membuncah di dada. Gelar “ulama perempuan” dalam perhelatan akbar ini menjadi momok tersendiri bagiku. Namun, kucoba menepis semuanya. Aku harus ikut mewarnai sejarah perempuan yang untuk pertama kalinya dilakukan di dunia ini.  Aku harus ikut dalam sejarah besar itu.

Kegundahan itu semakin menggelora melihat keberadaan dan penampilan para perempuan yang hadir di arena KUPI. Pertentangan batin akan kebenaran FirmanMu Rabb, terus menggelayut di alam pikirku. Diskusi-diskusi lepas di arena Seminar International Ulama Perempuan mengajarkan kepadaku betapa setiap manusia punya kepala dan alam pikiran yang berbeda. Setiap manusia “memiliki” otoritas membuat interpretasi terhadap ayat-ayat kebenaranMU. Aku yakin Rabb… bahwa interpretasi-interpretasi itu sangat tergantung pada secercah cahaya hidayah yang Engkau hujamkan di dada orang-orang yang Engkau kehendaki. Aku yakin… ini adalah otoritasMu Rabb. Istiqamah-kan aku dalam menjaga “CahayaMU”.

Pembukaan KUPI memberikan sedikit pencerahan atas beberapa keraguan yang terus membatin. Uraian tajam, jelas dan tegas yang disampaikan oleh Nyai Badariyah Fayumi dan Nyai Masriyah Amva memberikan udara segar di alam pikirku. Paparan tentang mengapa harus ada KUPI? Penjelasan tentang tidak perlunya para laki-laki khawatir atas gerakan para perempuan melalui KUPI, karena KUPI hadir BUKAN untuk melibas dan melawan laki-laki, tapi semata-mata sebagai kawan seperjuangan dalam melakoni skenario kehidupan yang ditata sedemikian apiknya oleh Allah. Ketegasan bahwa tujuan akhir dari KUPI adalah untuk taqarrub ila Llaah, mengenal Allah dengan segala Kemaha adilanNya, dan mengimplementasikan nilai-nilai suci ajaran syari’at untuk kebangsaan dan kemanusiaan.

Alhamdulillah, melalui KUPI aku belajar banyak tentang problematika perempuan. Sharing bersama kawan-kawan. Di KUPI, aku dipertemukan dengan perempuan-perempuan hebat. Perempuan-perempuan yang tak pernah lelah berbagi kasih dengan sesama dalam komunitas masing-masing.

Kyai Husein Muhammad, Nyai Nur Rofi’ah yang mengulas secara matang dan dalam tentang kesetaraan. Mengurai secara sistematis betapa Al-Qur’an banyak dikaji secara sepihak. Tentang kesetaraan dalam kesaksian, kewarisan, wali dan sebagainya. Kata demi kata terangkai menjadi sebuah kalimat yang tertata rapi, meluncur dari bibir mungil Nyai Nur Rofi’ah disertai dengan tatapan mata tajam, dan raut wajah yang demikian meyakinkan tentang kedalaman kajian yang disampaikan. Dalam hati aku bergumam… thanks my Allah… Engkau utus aku untuk bersama perempuan-perempuan ‘abidaat di KUPI, mengkaji kedalaman IlmuMU dari berbagai sudut pandang. Dan…semakin kutemukan…Betapa Engkau Maha Segalanya Rabb, dan kami sangat kerdil.

KUPI berakhir dengan berbagai rekomendasi yang ditujukkan kepada beberapa elemen masyarakat. Harapan besar dari para perempuan untuk perempuan dan untuk agama dan bangsaku. Tugasku kini adalah menyebarkan Rahmat Allah kepada semua dan menjadi perpanjangan tangan para penggagas KUPI untuk tak pernah berhenti berjuang untuk kesetaraan…yach kesetaraan profesional, BUKAN kesetaraan yang kebablasan.

Satu kebahagiaan yang menjadi kenangan berharga untukku karena diberi kesempatan untuk ikut serta menjadi wakil Sulawesi Selatan dari 8 propinsi di acara pembukaan dan diamanahi membacakan rekomendasi umum hasil KUPI di acara penutupan. Pengalaman berharga telah ikut mewarnai perjalanan KUPI.

Kini, Semakin kuyakini…  ALLAH.. KAU TAK BERBATAS APA