Kongres Ulama Perempuan Indonesia memunculkan harapan hadirnya peran yang lebih strategis bagi mereka dalam berbangsa dan bernegara. Penyelenggaraan kongres menyadarkan kembali bahwa perempuan dalam Islam tidak hanya dapat berperan di sektor domestik rumah tangga.

Perempuan Islam, seperti telah ditulis dalam sejarah Indonesia, bisa memimpin pasukan saat melawan penjajah dan menjadi pahlawan nasional seperti ditunjukkan Cut Nyak Dhien. Di tengah situasi kebangsaan yang menonjolkan identitas keagamaan dan kecenderungan budaya yang patrilineal, penyelenggaraan kongres itu seperti sebuah oase.

Banyak yang bertanya, apa yang bisa diperbuat perempuan bagi bangsa dan negara kalaupun mereka menguasai secara fasih ilmu agama? Melihat masalah aktual yang dibahas, kongres ulama perempuan ini seolah ingin menjawab pertanyaan di atas. Apalagi mereka yakin bahwa selama ini persoalan itu telah banyak dibahas di antara mereka dan bahkan diselesaikan. Namun, selama ini jauh dari publikasi.

Ketua Tim Pengarah KUPI Badriyah Fayumi menyatakan, kongres bertujuan melakukan konsolidasi untuk makin menguatkan peran dan kiprah mereka di tengah masyarakat. Kongres membahas tiga isu utama yang biasa dihadapi perempuan dan anak-anak: perkawinan anak, kekerasan seksual, serta perusakan alam dalam konteks keadilan sosial, migrasi, dan radikalisme.

Dalam soal perkawinan anak, Indonesia berada di urutan kedua terbesar di Asia Tenggara setelah Kamboja. Kongres yang juga dihadiri sejumlah perempuan ulama dari beberapa negara dan perempuan aktivis ini akan mengeluarkan rekomendasi meliputi tingkat keluarga, masyarakat, tokoh agama, perempuan ulama, pemerintah, dan negara. ”Masalah di negeri ini tak mungkin diselesaikan oleh hanya satu pihak,” ujar Badriyah.

Kita menjunjung tinggi peran perempuan, baik di sektor domestik maupun publik, yang sangat menentukan masa depan negeri ini. Bukankah mereka yang pertama kali mendidik anak-anak kita sejak dalam kandungan! Dalam sejarah Islam, perempuanlah yang pertama kali beriman dan yang mati membela agamanya (syuhada). Ini menunjukkan betapa perempuan yang sering dianggap lemah dan kurang akal, kenyataannya lebih berani bersikap meski nyawa sebagai taruhannya.

Kita berharap kongres melahirkan rekomendasi yang aplikatif dalam menyelesaikan masalah berbangsa dan bernegara, seperti ditunjukkan perempuan ulama selama ini. Namun, peran itu harus semakin diperluas selaras dengan makin kompleksnya persoalan yang akan dihadapi masyarakat, baik di tingkat keluarga maupun negara.

 

Sumber: https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170427/281616715259140