Sejarah Islam mencatat bahwa ulama perempuan telah menjadi bagian dari setiap perkembangan peradaban Islam. Secara teologis, hal ini berawal dari sikap Nabi Muhammad SAW yang menghormati perempuan dan memberi jalan kebebasan bagi mereka. Akan tetapi, tradisi keulamaan perempuan di dunia Islam, termasuk Indonesia, tak hanya dipengaruhi oleh sikap penghormatan Nabi SAW kepada perempuan, melainkan juga dipengaruhi oleh konteks geo-politik, budaya, dan proses asimilasi Islam dengan budaya lokal. Islam Indonesia adalah Islam yang dalam kehidupan keagamaannya terbuka bagi perempuan untuk beraktivitas di manapun, termasuk ruang publik.

Dalam dinamika sosial dan kultural ini, Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) diselenggarakan untuk menegaskan eksistensi ulama perempuan dan mengapresiasi peran dan kiprahnya dalam mewujudkan nilai- nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Kongres yang digelar untuk yang pertama kali ini juga menjadi muara bagi perjumpaan visi, pemikiran, dan realitas di lapangan, yang menyimpulkan bahwa ulama perempuan itu ada dan nyata kontribusinya untuk agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan. Untuk visi ini, KUPI perlu menegaskan konsep “ulama perempuan” dan perspektif keadilan yang menjadi basis keulamaan perempuan sekaligus. Konsep dan perspektif ini menjadi pondasi bangunan pengetahuan KUPI, baik dalam kaitan dengan sikap dan pendangan keagamaan, maupun rekomendasi yang dikeluarkan.