Inayah Rohmaniyah* (Dosen dan peneliti, ketua Program Studi Pascasarjana Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Modernitas dan Tantangan Global Ulama Perempuan

Banyak teori dan pandangan tokoh mengatakan bahwa modernitas sebagai sebuah keniscayaan mensyaratkan adanya peminggiran peran dan fungsi agama dalam kehidupan masyarakat. Rasionalisasi menjadi ukuran dan substansi modernitas dan sekularisasi sebagai salah satu aspek penting serta tatanan ilahiyah tidak lagi berkuasa (Bruce Lawrence: 1995, 57). Marginalisasi agama dalam pandangan ini menjadi prasyarat yang diperlukan bagi sebuah modernitas (Roxanne L. Euben: 1999, 21).” Dengan kata lain, modernitas dipandang tidak sejalan dengan agama dan religiusitas.

Modernisasi telah melahirkan globalisasi dengan berbagai capaian kemajuan yang semakin menyejahterakan umat manusia. Namun demikian modernisasi dan globalisasi juga melahirkan setumpuk persoalan, salah satunya terkait dengan keberadaan agama dan penganut agama. Globalisasi diartikan sebagai proses intensifikasi hubungan sosial di seluruh dunia yang menghubungkan daerah-daerah atau tempat yang jauh sedemikian rupa sehingga kejadian di satu lokasi dibentuk atau dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi di tempat yang jauhnya bermil-mil, dan sebaliknya (Inayah Rohmaniyah: 2014, 2). Globalisasi ditandai salah satunya dengan adanya interkoneksi yaitu meluasnya keterkaitan global dan hubungan antar budaya, identitas, ideologi, pemikiran, modal dan berbagai aspek lainnya (Firmanzah: 2007, 41). Globalisasi juga ditandai dengan dunia tanpa batas, baik dalam pengertian fisik maupun imajiner.

Gagasan baru, pemikiran, kepercayaan, budaya, ekonomi, bahkan kerjasama menembus batas Negara atau lokalitas tertentu (Inda, Jonathan Xavier, and Renato Rosaldo: 2002, 1-34). Globalisasi yang tidak mengenal batas memunculkan pemaknaan baru tentang ruang dan waktu. Dunia yang saling terkoneksi dan tanpa batas merubah pemahaman orang tentang ruang dan waktu: dunia dialami dan dirasakan menjadi sempit, mengecil dan jarak menjadi dekat.

Ulama perempuan dalam era globalisasi menghadapi berbagai tuntutan dan tantangan untuk dapat diakui keberadaannya. Tantangan interkoneksitas menuntut perempuan untuk memiliki kemampuan, kemauan dan kesiapan untuk ber-interkoneksi secara global. Interkoneksi secara global menuntut seseorang untuk memiliki pemikiran yang terbuka (open minded) dan kesiapan menghadapi segala perbedaan yang ada. Selain itu, untuk dapat berinteraksi dengan dunia global maka perempuan dituntut untuk memiliki kemampuan bahasa dan kemampuan berkomunikasi serta soft skills lainnya. Kemajuan teknologi juga menuntut perempuan untuk menguasai teknologi. Kenyataan dunia tanpa batas juga menuntut perempuan untuk memiliki komitmen perjuangan kuat, kesiapan menerima dan menyebarkan nilai-nilai yang dipegang ke dunia global, berkompetisi dengan ragam ideologi, masyarakat dan model Pemerintahan, serta berkompetisi dalam mempertahankan/ membangun identitas, mempengaruhi kolektif, atau mendapatkan power. Selain itu, konsep baru ruang dan waktu menuntut kesiapan untuk mengubah cara pandang tentang dunia, bahwa dunia bukan hanya “saya,” dan baik menurut “saya” belum tentu “baik menurut “orang lain, banyak “membaca” karena perkembangan dunia sangat pesat dan menolak Pemutlakan dan tidak berpretensi menjadi MICRO THEOS (tuhan tuhan kecil). Tantangan kompleks ini tentu tidak dapat dipisahkan dari tujuan diselenggarakannya kongres ulama perempuan di Cirebon.

Urgensi Kongres Ulama Perempuan Sebagai Narasi Tandingan

Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Panitia, Dr. Badriyah Fayumi, Kongres Ulama Perempuan Indonesia diselenggarakan dengan tujuanMengakui dan mengukuhkan keberadaan ulama perempuan dalam sejarah Islam Indonesia.” Pengakuan dan pengukuhan dalam konteks menghadapi dunia global tentu menjadi urgen karena kompetisi dan kontestasi membutuhkan power baik dalam bentuk knowledge yang bersifat simbolik maupun solidaritas sosial sebagai bentuk kekuatan sebuah komunitas. Pengakuan dan pengukuhan keberadaan ulama perempuan dalam sejarah Islam Indonesia merupakan modal sosial penting dalam memperjuangkan keadilan sosial dan kesetaraan dalam segala bidang, termasuk agama.

Pengakuan tersebut juga menjadi titik awal perjuangan berat ulama perempuan Indonesia menghadapi dunia global. Di satu sisi perempuan harus mempertahankan nilai nilai lokalitas sebagai perempuan Timur dengan tradisi khasnya, sementara di sisi lain menunjukkan relijiusitas yang sejalan dengan nilai-nilai modernitas.

Fenomena Kongres Ulama Perempuan menunjukkan langkah revolutif kaum perempuan baik dalam ranah paradigmatik, sosial maupun politik, dan dari wacana menuju aksi nyata yang lebih kongrit dan komprehensif. Revolusi paradigmatik ditunjukkan dengan disseminasi secara lebih luas dan mengglobal peran penting agama dalam membangun masyarakat, dan terutama konstruksi agama yang egaliter, non-patriarkhi dan berkeadilan. Jumlah peserta yang begitu banyak dan mewakili perempuan dari seluruh Indonesia bahkan beberapa negara lain memberikan pesan pada dunia global bahwa paradigma baru tafsir agama yang inklusif gender, non patriarkhi dan kontekstual tersosialisasikan secara massif dan sejalan dengan nilai-nilai modernitas. Diseminasi secara meluas menunjukkan adanya narasi baru sebagai wacana alternatif dari narasi pemahaman agama mainstream yang bias gender, androsentris dan patriarkhi dan dipandang tidak relevan dengan prinsip hak azasi manusia dan prinsip-prinsip modernitas lainnya.

Revolusi sosial juga terlihat dalam Kongres Ulama Perempuan dengan terbangunnya network perempuan yang luas dan kuat, merangkul berbagai kalangan baik pemangku kepentingan di pesantren, akademisi, peneliti, LSM, pekerja sosial, praktisi sosial-keagamaan dan politik, dan bahkan buruh dan kelompok-kelompok marginal. Kongres juga dihadiri dan didukung oleh perempuan lintas aliran, golongan, etnis, dan agama. Solidaritas mekanik yang terbangun akan menjadi modal sosial yang diperhitungan tidak hanya di level nasional tetapi juga internasional.

Kongres juga menunjukkan adanya revolusi politik karena kekuatan solidaritas perempuan yang begitu massif telah mendorong pemerintah memberikan dukungan yang lebih konkrit. Sambutan Menteri Agama yang hadir dalam penutupan acara tersebut menjadi sebuah simbol dukungan yang serius. Janji Menteri Agama untuk membuka Ma’had ‘Aly khusus untuk perempuan menunjukkan keberpihakan pemerintah untuk mendukung lahirnya generasi dan regenerasi ulama-ulama perempuan dengan misi utama menciptakan keadilan sosial bagi masyarakat Indonesia dan dunia, terlebih perempuan. Selain Kementerian Agama, kehadiran Majlis Ulama Indonesia (MUI) juga menjadi momentum bagi kemantapan perjuangan ulama perempuan. MUI yang selama ini dikenal dengan fatwa-fatwa yang bias gender, termasuk melarang feminism, pada akhirnya memberikan dukungan terhadap pergerakan dan perjuangan ulama perempuan Indonesia.

Kongres Sebagai Penguatan Modalitas Perempuan

Kongres ulama perempuan merupakan sebuah perhelatan yang spektakuler dan mengundang perhatian berbagai pihak baik secara nasional maupun internasional. Acara ini tidak saja menjadi media mengirimkan pesan pada dunia tentang keberadaan ulama perempuan dan kekuatan solidaritas yang terbangun. Secara internal, kongres juga memberikan kontribusi signifikan terhadap penguatan agensi perempuan. Pada level agensi individual, kongres menumbuhkan rasa bangga dan percaya diri sebagai ulama perempuan. Banyak peserta mengakui kebanggaan dan keberuntungannya dapat terpilih sebagai peserta, karena banyak peserta yang tidak diterima dengan alasan keterbatasan tempat. Kongres secara sosial psikologis menguatkan atau setidaknya menumbuhkan rasa bangga dan percaya diri sebagai ulama perempuan. Meskipun dalam kenyataannya masih banyak peserta yang merasa belum layak disebut sebagai ulama perempuan, namun keterlibatan dalam kongres membangun rasa koneksitas dengan komunitas ulama perempuan.

Selain itu, kongres juga menumbuhkan rasa mendapatkan pengakuan publik dan politik atas keulamaan peserta. Hal yang tidak kalah penting adalah bahwa event tersebut menumbuhkan rasa solidaritas dan kekuatan perempuan karena mereka mengetahui bahwa mereka “tidak sendirian.” Dengan modali sosial tersebut, kongres akan mendorong perempuan untuk meningkatkan modal kulturalnya, yaitu kapasitas keilmuan, wacana dan keahlian untuk memperkuat keulamaannya.

Mengukur Kekuatan dan Kelemahan Ulama Perempuan

Di balik kehadirannya yang fenomenal, kongres ulama perempuan mengungkap adanya kenyataan bahwa masih banyak kelemahan yang harus diperhatikan oleh kaum perempuan. Di antara kelemahan yang dapat diobservasi selama pelaksanaan adalah ketidaksamaan titik berangkat dalam level pengetahuan dan aksi nyata. Masih banyak perempuan yang belum memiliki pengetahuan memadai tentang isu kontemporer dan analisis terhadapnya. Sebagai ilustrasi masih ada peserta yang mempersoalkan masalah jilbab dan tidak berjilbab, pekerjaan domestik sebagai kewajiban perempuan saja, dan bahkan poligami. Persoalan lain yang muncul dengan demikian adalah peran ganda ulama perempuan yang lebih berat dibanding ulama laki-laki, disamping tuntutan yang juga lebih besar. Rasa percaya diri yang kurang dan terbatasnya kreatifitas produktif perempuan serta rendahnya kesadaran lingkungan juga menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Dalam kapasitas pengetahuan, kongres juga menunjukkan masih rendahnya jumlah perempuan dengan pendidikan tinggi (S2 dan S3).

Namun demikian, berbagai kelemahan akan dapat diatasi secara bertahap, terutama dengan dukungan adanya berbagai kekuatan yang signifikan. Sebagaimana diuraikan di bagian sebelumnya, kongres ini memiliki kekuatan yang cukup konprehensif, di  antaranya: a) merupakan gerakan perempuan lintas aliran dan organisasi massa, tradisi, etnis dan dsb; b) menunjukkan adanya keseimbangan aktifisme dan intelektualisme; c) keseimbangan Ilmu dan Seni; d) kemampuan menciptakan suasana damai, kekeluargaan, kebersamaan dan kesetaraan (anti kekerasan dan diskriminasi) sebagaimana tercermin dalam congress; e) adanya dukungan dan keterlibatan Laki-laki; f) menunjukkan wajah Islam Rahmatan Lil Alamin.****

*(Penulis juga dari Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah (PPMWI) Kebarongan, Kemranjen, Banyumas)