Saat mendengar pertama kali, bahwa Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) akan diselenggarakan di Cirebon, responku, tentu saja, sangat antusias. Karena perhelatan akbar Kongres Ulama Perempuan Indonesia ini pasti akan dihadiri oleh para aktifis perempuan, pengamat, ‘alim ulama dan expert lainnya yang telah punya segudang pengetahuan serta pengalaman dalam konteks pemberdayaan perempuan, anak dan kaum terpinggirkan. Event besar tersebut pasti akan banyak menginspirasi dan menyirami rasa dahagaku akan isu-isu kesetaraan dan kemanusiaan yang teraktual. Namun di sisi yang lain, kekhawatiranku pun muncul saat ditegaskan ulang bahwa salah satu kegiatannya adalah seminar internasional yang akan diselenggarakan di IAIN Syekh Nurjati Cirebon. What? Otakku pun mulai dipaksa untuk lebih fokus, mungkinkah?

Ada banyak kekhawatiran hadir di sel-sel otakku tentang siapa yang akan mengelola kegiatan tersebut, karena eksistensi PSGA (Pusat Studi Gender dan Anak) di IAIN Cirebon selama 3 tahun ini laa yahyaa wa laa yamuut (ada tapi tidak hidup, alias tidak pernah ada kegiatan). Meskipun demikian, tetap saja, ada sebersit optimisme hadir di tengah kegalauanku, bahwa kegiatan ini bisa jadi dapat menstimulasi semua dosen di IAIN yang memiliki perspektif feminis untuk kembali menyatukan pandangan dan gerakan mereka untuk berjuang bersama dalam konteks pemberdayaan perempuan dan anak melalui ruang “PSGA,” setelah mereka terpecah-pecah, disibukkan dengan aktifitas dan jabatan mereka di luar struktur PSGA.

Berangkat dari secercah harapan tersebut, aku pun mulai tergerak membangun koordinasi dengan para pegiat PSGA periode terdahulu, karena personalia PSGA periode saat ini hanya 1 orang, itu pun telah mutasi ke Jakarta dan sudah lebih dari 1 (satu) tahun belum juga dilantik penggantinya. Hasil komunikasi dengan beberapa teman, akhirnya kami bermufakat untuk membantu kepanitiaan seminar internasional. Tim teknis adalah semua teman yang memang concern dengan isu kesetaraan, sementara para birokrat kampus menjadi pembinanya. Perencanaan kegiatan seminar pun dibuat, dikonsolidasikan dengan Tim Asian Muslim Action Network (AMAN) hingga pelaksanaan kegiatan mulai berjalan dengan lancar.

Ada satu peristiwa yang menarik dari kegiatan seminar tersebut yakni animo peserta Seminar Internasional yang begitu besar untuk mengikuti kegiatan dimaksud. Dari meja registrasi tampak banyaknya peserta yang tidak terdaftar, namun memaksa untuk mengikuti kegiatan. Beberapa bahkan ada yang terbawa emosi karena belum juga diperkenankan oleh panitia untuk memasuki ruang pertemuan. Tapi desakan demi desakan akhirnya membuat luluh pertahanan panitia. Wal-hasil, semua peserta akhirnya bisa masuk ke ruang pertemuan tanpa melalui prosedur registrasi sebagaimana yang direncanakan. Ada lebih dari 350 peserta hadir dalam ruang yang idealnya diperuntukan hanya untuk 250 peserta. Kondisi ruang ber AC yang awalnya appropriate, menyejukan suasana terik siang hari ruang Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon, menjadi agak menyesakan, sehingga banyak peserta yang mulai merasa ‘gerah’ dalam ruang tersebut. Tapi tetap saja, kondisi ini tidak menyurutkan semangat peserta untuk mendengarkan presentasi narasumber hingga akhir sessi.

Membludaknya peserta seminar yang tidak terregistrasi di satu sisi, menghadirkan satu pertanyaan kritis tentang keberadaan website pendaftaran KUPI yang tidak banyak membantu, namun di sisi lain, spirit besar para peserta dari luar Cirebon untuk mengikuti kegiatan Seminar Internasional menghadirkan satu magnet tersendiri bagi internal teman-teman di IAIN Cirebon untuk semakin sadar akan pentingnya event seminar tersebut. Para peserta yang datang dari tempat-tempat yang begitu jauh, mengeluarkan sejumlah dana, tenaga dan pikiran hanya untuk mengikuti kegiatan demi mencari ilmu, ternyata menjadi kekuatan besar bagi kami para pegiat kajian gender untuk bangun dari tidur panjang kami untuk kembali bergerak dan berjuang dalam program-program pemberdayaan perempuan dan anak.

Kondisi ini diperkuat lagi oleh informasi yang didapat oleh beberapa teman kami, pasca mengikuti pertemuan PSGA seluruh Indonesia di hotel Batiqa Cirebon, bahwa memang secara nasional ada penurunan aktifitas gerakan PSGA di beberapa PTAIN/S karena kebijakan pimpinan masing-masing institusi yang kurang sensitif gender. Banyak struktur PSGA dibiarkan kosong dengan waktu yang lama. Ini tentu saja memandulkan langkah pemberdayaan perempuan dan anak di beberapa tempat. Di samping, banyaknya ketua PSGA yang dipilih tanpa memiliki perspektif yang utuh tentang kesetaraan gender. Pemilihan pengelola PSGA cenderung politis, asal comot, tanpa mempertimbangkan perspektifnya tentang isu-isu kesetaraan gender.

Meresponi kondisi di atas, kami pun merasa tidak sendiri dan perlu menyusun ‘amunisi’ untuk kembali memahami dan menyuarakan pentingnya eksistensi PSGA di lingkungan kampus. Di antara tahapannya, tentu saja, (mumpung ada event besar ini) kami harus kembali ‘melek’ tentang isu-isu aktual mengenai perempuan dan anak. Dari kesadaran itu, beberapa teman perempuan pun diminta untuk hadir mengikuti kongres di Pondok Pesantren Kebon Jambu. Mereka disebar untuk hadir dalam berbagai sessi dengan kajian yang berbeda-beda. Harapannya, pemahaman tersebut bisa di-share nanti dalam menyusun suatu gerakan bersama dan berbagi peran di lapangan.

Dari berbagai ruang diskusi paralel didapat banyak sekali pengetahuan dan tawaran ide tentang peran apa yang harus kami lakukan ke depan. Di antara hasil komunikasi informal terbatas tampak beberapa rumusan dan langkah ke depan untuk kami ambil selaku pegiat kajian gender di IAIN Cirebon dengan menyesuaikan dengan TUSI (Tugas dan Fungsi) kami dalam Tridharma Perguruan Tinggi, yakni: (1) Penguatan kurikulum yang berperspektif gender dengan mengintegrasikan beberapa materi perkuliahan dengan standpoint perempuan di dalamnya, di samping me-redesain pola pembelajaran yang berkeadilan gender; (2) melakukan kerjasama dengan Pusat Penelitian (Puslit) dalam rangka penguatan model penelitian yang berperspektif gender, berbasis metodologi feminis dan berbagai tindakan afirmasi lainnya agar muncul varian penelitian dengan subjek kajian gender mainstreaming pada beragam ranah disiplin ilmu; dan (3) mendorong agar hasil research yang didapat dapat diimplementasikan dalam konteks pemberdayaan dan advokasi masyarakat di lapangan, baik itu dalam bentuk advokasi undang-udang yang pro perempuan dan anak, advokasi buruh migran, advokasi korban kekerasan, advokasi para guru agar memiliki pemahaman yang utuh tentang religious literacy serta isu-isu kebangsaan, keislaman dan kemanusiaan lainnya.

Langkah selanjutnya, pasca kegiatan KUPI, kami harus sudah mulai membangun komunikasi dengan teman-teman perempuan dan feminis laki-laki lainnya dalam skala yang lebih makro demi penguatan capacity building kelembagaan PSGA dan melakukan reorientasi kajian serta kegiatan yang lebih praktis, dengan harapan dapat mengambil peran nyata dalam memperkuat simpul-simpul jaringan keulamaan perempuan ke depan. Wallahu a’lam bi al-Shawaab.