Berbagai elemen masyarakat di Tanah Air, bahkan di luar negeri, antusias menyambut Kongres Ulama Perempuan Indonesia yang akan digelar di Pondok Pesantren Kebon Jambu, Babakan, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, 25-27 April 2017. Kongres yang diklaim sebagai yang pertama di dunia tidak hanya menjadi ajang silaturahmi para perempuan ulama, tetapi juga akan membahas berbagai isu terkait perempuan di sejumlah negara.

Menurut Wakil Ketua Panitia Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) Faqihuddin AK, hingga Senin (10/4) yang merupakan batas akhir pendaftaran, 800 orang mendaftar untuk mengikuti acara tersebut. “Padahal, kuota peserta hanya 500 perempuan ulama. Nanti, kami lihat mana yang menjadi peserta dan pemantau,” ujar Faqihuddin kepada Kompas, Senin, di kota Cirebon, Jabar.

Para pendaftar tersebut antara lain berasal dari Pulau Jawa, Sulawesi, bahkan Kalimantan. Tidak hanya perempuan ulama yang mendaftar, sejumlah aktivis perempuan dan akademisi juga ingin mengikuti kongres itu. Sementara peserta luar negeri tercatat 28 orang yang berasal antara lain dari Malaysia, India, Pakistan, dan Singapura.

Selain itu, silaturahim antar perempuan ulama juga dinilai lebih terasa karena dilakukan di pondok pesantren. Pengasuh Pondok Pesantren kebon Jambu, Hj Masriyah Amva, menyambut baik kongres tersebut. “Ini berkah luar biasa. Kami bisa saling belajar tentang bagaimana perempuan membuktikan bahwa kami tidak lemah,” ujarnya.

Masriyah yang merupakan satu-satunya perempuan yang menjadi pimpinan tertinggi pondok pesantren di Cirebon. “Semoga KUPI menjadi ruang menyelesaikan berbagai masalah perempuan dan bangsa yang kompleks,” ujarnya. (IKI)

 

Sumber: Harian KOMPAS, 11 April 2017