Menjelang burung-burung dara dilepas, mataku terus menatap panggung bersahaja tetapi begitu anggun. Di sana aku melihat banyak ulama Perempuan berdiri berjejer dengan wajah sumringah. Mereka baru saja mengambil tugas penting: membaca Ikrar, membaca hasil-hasil Musyawarah. Mereka tampak bangga menjadi bagian dalam momen sejarah dunia, yang mungkin tak akan terulang lagi. Boleh jadi mereka akan mengenangnya sampai akhir. Sebuah kenangan yang indah dan tak akan terlupakan.

Di depan mereka berdiri empat orang terkemuka Indonesia: Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, berbaju warna ungu, Ketua DPD yang cantik nan anggun Ibu GKR Hemas, mengenakan baju warna putih semu ungu, Ninik Rahayu, Sekretaris Umum KUPI yang jelita dan lincah luar biasa, dan Badriyah Fayumi, Ketua SC yang ayu dan lembut. Keduanya mengenakan baju seragam (panitia KUPI), warna hitam bergaris batik Mega mendung.

Mereka berdua mendampingi Pak Menteri Agama dan Ibu GKR Hemas yang akan melakukan sesuatu. Aku menatap pemandangan yang indah di atas panggung itu. Mataku tak berkedip. Tiba-tiba MC (saudari Lolly Suhenti) mengatakan: “Kepada yang terhormat Bapak Menteri Agama diminta untuk melepaskan “Burung” nya. Senyap sejenak. Lalu meledak lah tawa hadirin. Ha ha ha. Kedua orang petinggi di negeri ini tersipu-sipu. Aku juga tersenyum saja. Kata “Burung” telah membentuk pikiran publik dan mengarahkannya ke “sesuatu”. Semua orang mafhum makna “sesuatu” itu. Teman di sebelah aku bergumam, “Maklum sudah tiga hari meninggalkan rumah. Pikirannya ke sana. Ngeres.” He he he.

Pelepasan Burung Dara usai. Kata penutup oleh Menteri Agama itu, sungguh mengagetkanku. Aku tak mendengar rencana cerdas ini. ” Ini gagasan genius dan “gila”, kataku dalam hati. Biasanya aku mendengar atau dikabari teman untuk banyak hal. Siapakah dia yang punya ide cemerlang ini? Aku menduga-duga dalam hati. Ini pasti Mbak Tati Krisnawati. Aku mengenalnya lama dan bertahun. Aku bertanya kepada teman-teman, melalui WA. Ada yang menyebut nama seperti yang aku duga itu. Lagi-lagi menakjubkan. Dan mataku kembali berderai-derai.