Sebagai bagian dari gerakan sosial kemasyarakatan, KUPI juga menyelenggarakan berbagai kegiatan sosial dan kultural yang melibatkan berbagai komponen masyarakat untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Di antaranya adalah kegiatan bakti sosial, layanan bazar buku dan makanan, layanan informasi kebijakan publik, dan pentas seni budaya. Kegiatan-kegiatan ini menunjukkan keseharian model aktivitas sosial ulama perempuan peserta KUPI di satu sisi, juga menunjukkan karakter jaringan kelembagaan mereka di sisi yang lain. Kegiatan bakti sosial selama Kongres berupa khitanan masal, layanan pengobatan gratis, dan deteksi dini kanker serviks melalui test pap smear.

Khitanan masal dilaksanakan pada hari Senin 24 April 2017 di Pondok Pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringin Cirebon. Acara ini dimulai dengan sholawatan dari Grup Genjring Santri Putra Kebon Jambu bertempat di Musholla utama Pesantren. Kegiatan ini, yang didukung Pusat Kesehatan Umum (PKU) Muhammadiyah Cirebon, bertempat di halaman Pesantren, diikuti 21 anak dari sekitar Desa Babakan.

Sementara deteksi kanker serviks melalui test pap smear dilakukan selama kegiatan Kongres, 25-26 April 2017. Kegiatan ini terselenggara bekerjasama dengan BPJS Kesehatan dan Dinas Kesehatan Cirebon. Kegiatan ini diawali dengan sosialisasi mengenai bahaya kanker serviks pada hari pertama yang dihadiri 250 peserta. Sosialisasi mengambil tempat halaman depan Pesantren. Pelaksanaan pemeriksaan pap smear sendiri dilakukan oleh empat orang tenaga medis dari RS Jantung Hasna Medika Palimanan Timur Cirebon. Yaitu, dr. Desi Ratna Sari, dr. Kartika Sari Dewi, dr. Dede Muslikha, dan dr. Asri Maulidyna Aulia. Test ini telah diikuti 66 orang perempuan selama kegiatan Kongres.

Selama Kongres berlangsung juga disediakan layanan kesehatan gratis dan siaga mobil ambulans. Kegiatan ini merupakan kerjasama KUPI dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Puskesmas Ciwaringan, dan PKU Muhammadiyah. Tim medis yang bekerja secara bergiliran adalah Sumedi, Yuli Indriasari, Ida Royani, Uswatun Kasanah, Sumiarsih, Roimah, Luwiyati, Kaeriyah, dan Supami. Selama Kongres, layanan ini telah dimanfaatkan oleh 52 orang peserta. Termasuk peserta dari luar negeri, Nigeria, yang mengalami diare karena makanan yang tidak cocok.

Layanan bazar buku, bazar makanan, dan kerajinan lokal Cirebon, serta display informasi kebijakan publik dari Ombudsman RI juga dibuka selama Kongres dengan melibatkan berbagai komponen masyarakat, baik dari kalangan pesantren dan masyarakat sekitar, maupun perguruan tinggi dan instansi pemerintah. Dari 16 stand yang dibuka di pintu masuk Kongres, 4 stand untuk buku-buku dan karya ilmiah, 2 untuk batik dan kerajinan lokal Cirebon, 4 untuk pernak-pernaik KUPI, 4 untuk kuliner, 2 untuk informasi publik, yang diisi pihak BPJS Kesehatan dan Ombudsman Republik Indonesia. Stand Ombudsman termasuk yang banyak mendapat kunjungan peserta yang meminta layanan informasi dan aduan publik. Sebanyak 393 orang yang datang dan menerima informasi kerja-kerja Ombudsman. Melalui perhelatan publik seperti KUPI ini, Ombudsman berharap masyarakat tahu kiprahnya dan berani melaporkan persoalan kebijakan publik kepadanya.

Selama Kongres juga digelar pentas seni dan budaya di panggung utama. Pentas ini diisi seniman-seniman dari berbagai Pesantren Babakan Ciwaringin, terutama dari Pesantren Kebon Jambu, Assalafiy, Mu’allimin, dan Bapenpori. Yang dipentaskan adalah nyanyian shalawat, lagu pop Islami, tari zapin, tari indang, tari saman, hapalan Alfiyah dengan musik, alunan musik angklung, dan baca puisi. Grup-grup yang tampil, di antaranya, adalah Haniah 13, Sangkan 13, New Zahra. Semua grup ini adalah kreasi Pesantren Babakan. Salah satu lagu spiritual dan kultural yang menyerap pesan-pesan Kongres adalah shalawat musawah (kesetaraan) dan shalawat samara (sakinah/ketenangan, mawaddah/cinta, rahmah/kasih).

Musawah adalah kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, yang merupakan perspektif yang diusung KUPI. Sementara samara adalah kata kunci atau kisi-kisi utama dari keluarga ideal yang diharapkan setiap muslim, sesuai dengan anjuran al-Qur’an (ar-Ruum, 30:21). Kedua shalawat ini digubah oleh Faqihuddin Abdul Kodir, wakil ketua Panitia Pelaksa  KUPI. Selama Kongres ini, shalawat musawah telah dinyanyikan kelompok Paduan Suara FITK IAIN Syekh Nurjati Cirebon pada saat pembukaan Seminar Internasional, kelompok Paduan Suara ISIF Cirebon pada saat pembukaan KUPI, dan oleh Grup Haniya 13 pada saat penutupan KUPI .

Kegiatan-kegiatan sosial, seni, dan kultural selama Kongres ini menunjukkan keberakaran KUPI pada tradisi masyarakat muslim Indonesia. Dalam mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan, KUPI akan selalu berpijak pada dan berangkat dari tradisi keislaman serta nilai-nilai kebangsaan. KUPI sadar bahwa nilai-nilai agama dan kemanusiaan akan selalu hadir dalam dimensi budaya masyarakat. Karena itu, budaya masyarakat muslim Indonesia akan dijadikan KUPI sebagai wadah dari penegasan legitimasi, eksistensi, peran, dan kiprah ulama perempuan. Islam moderat, atau wasathiyah, yang berakar pada budaya Nusantara, dan yang berkemajuan adalah landasan KUPI dalam menghadirkan putusan, sikap, dan pandangan keagamaan mengenai isu-isu yang berkembang di masyarakat.

Seluruh rangkaian kegiatan di atas memberi gambaran yang jelas mengenai berbagai dimensi KUPI, di satu sisi, yang meliputi aspek spiritual, sosial, intelektual, kultural, eknomi dan politik. Di sisi yang ini, KUPI ingin menegaskan dimensi-dimenasi tersebut sebagai bagian dari cakupan pengertian keulamaan perempuan. Dimensi ini juga sekaligus menjadi medan kiprah yang seharusnya dijalankan para ulama perempuan. Pengertian keulamaan yang mencakup berbagai dimensi ini berangkat dari pengalaman nyata para ulama perempuan Indonesia, termasuk yang hadir dalam Kongres ini di Pondok Pesantren Kebon Jambu al-Islamy Babakan Ciwaringin, Cirebon Jawa Barat.