Menulis refleksi tentang Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) buat saya ibarat menulis bagian dari disertasi. Bukan kebetulan juga topik disertasi saya tentang Ulama Perempuan dan Perumusan Fatwa di Indonesia karena saya adalah alumni program Pengkaderan Ulama Perempuan (PUP) Rahima angkatan 4. Sebelumnya, saya juga sudah mendengar dari Mbak Dani tentang cita-cita menggelar Kongres Ulama Perempuan. Meskipun waktu itu masih belum pasti, tapi saya optimis bahwa kongres tersebut akan terlaksana.

Beragam respons muncul terkait pelaksanaan KUPI, dan saya beruntung mendapatkan pengalaman berbincang bersama orang-orang dengan berbagai macam respons tersebut. Ada yang ekstrim mengatakan, “Saya tidak mau berkomentar [tentang Ulama Perempuan],” mempertanyakan tujuan kongres, dan meragukan dengan mengatakan bahwa semua pasti di-setting oleh penyandang dana. Ada yang tanggapannya bertahap mengikuti alur pengalaman selama mengikuti kongres. Atau ada juga yang sudah sejak awal bersemangat dan merespons positif, dan tentang kekurangan-kekurangan dalam KUPI adalah bumbu yang tidak perlu dipersoalkan.

Sebenarnya hal biasa menemukan bermacam-macam respons. Apalagi untuk sesuatu yang baru pertama kali diselenggarakan dan oleh perempuan. Seperti biasa, dalam hal apa pun perempuan memang harus bekerja berlipat-lipat dibanding laki-laki untuk melakukan hal yang sama dilakukan oleh laki-laki. Tapi, terus terang saya terbawa perasaan ketika menemukan tanggapan yang meremehkan dan cenderung negatif. “Apa sih ulama perempuan? Mau nandingi ulama laki-laki ya?” Atau ketika di lapangan, saya membaca dan merasakan bagaimana kerja keras perempuan ulama tidak diapresiasi sebagai sebuah keberhasilan sebab kinerjanya, pengetahuan, dan kecerdasannya. “Ah itu kan karena mertuanya berpengaruh,” atau “Menurut saya, ia sudah gagal dalam perjuangannya karena ia sudah gagal dalam kehidupan rumah tangganya.” Duuuh, rasanya itu seperti luka dikasih cuka.

Sebenarnya perempuan ulama itu tidak sedikit jumlahnya. Apalagi pertumbuhan pengajian atau majelis taklim yang sebagian besar jama’ahnya adalah para Ibu tentu meniscayakan kehadiran perempuan-perempuan ulama. Belum lagi para ibu nyai yang mengabdikan diri di pesantren. Di antara sosok-sosok perempuan dan ketidakhirauan siapa pun atas peran dan kiprah mereka, Kongres Ulama Perempuan Indonesia menjadi momentum penting untuk mengakui keberadaan dan menghargai kiprah keulamaan para perempuan.

“Kok kayaknya yang datang banyak aktivis ya?” seseorang bergumam. “Coba lihat, di antara pembicara ini, manakah yang ulama?” tanya teman yang lain. Kalau saya tetap melihat justru peserta dengan background pendidikan agama yang lebih banyak. Mungkin karena banyak juga dari mereka yang aktivis sehingga tampaknya seperti semuanya aktivis. Hari pertama, misalnya pada konferensi internasional, okelah karena konteksnya adalah internasional. Tapi, pada siang hari pertama, berlanjut hari kedua dan ketiga, saya semakin mendapati pengalaman keulamaan perempuan di Indonesia lewat diskusi konsolidasi, seminar, diskusi paralel hingga musyawarah sikap keagamaan.

Setiap peserta yang datang, saya yakin, saling memberi dan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan. Saya tidak pernah tahu sebelumnya bahwa di Aceh ada perempuan ulama yang diusir dari dayahnya karena menampung anak korban perkosaan. Saya juga baru memahami bahwa ada hadits-hadits yang menjelaskan bahwa perkosaan bukanlah perzinahan sehingga konsekuensi hukum dan penanganannya juga harus dibedakan. Seorang peserta bahkan bertekad untuk melakukan advokasi di kotanya terkait pelaksanaan hukuman bagi perempuan korban perkosaan yang selama ini diskriminatif. Mereka adalah perempuan ulama yang terinspirasi melakukan perubahan untuk perempuan. Saya bisa merasakan tekad mereka untuk merebut otoritas keagamaan yang seharusnya juga bisa mereka dapatkan.

Lien mengatakan bahwa yang terbiasa melakukan organisasi dan berpikir kritis ya para aktivis karena mereka tidak hanya mengerti teori tapi juga kerja praktis di lapangan. Jadi ulama perempuan berkesempatan belajar kepada mereka tentang pengetahuan dan pengalaman baru tersebut. Sementara para aktivis belajar tentang teks-teks yang bisa menjadi landasan pemikiran dan kerja-kerja praktis di lapangan terkait perempuan, keadilan, dan kemanusiaan. Bagi para penggembira seperti saya, tentu sangat beruntung mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru dari kedua belah praktisi. Seperti kata Mbak Nur Rofiah, KUPI dihadiri oleh ulama perempuan dan teman para ulama. Saya adalah teman ulama.

Ada seorang teman bertanya, “Bagaimana dengan debat term ulama perempuan yang belum selesai di kalangan peserta?” Ya, memang tidak mudah membuat ratusan peserta yang hadir dalam KUPI bersepakat dan sepaham dengan istilah dan pemaknaan ulama perempuan. Menyandingkan kata ‘ulama’ dan ‘perempuan’ saja cukup menggoyang bangunan pemahaman yang selama ini berlaku bahwa perempuan juga bisa memiliki kapasitas keulamaan dan disebut ulama. Apalagi memaknai kata ‘perempuan’ dengan pemaknaan ideologis bukan biologis.

Dalam pilihan istilah-istilah yang dipakai di KUPI, misalnya istilah ulama perempuan, saya menemukan sebuah upaya negosiasi dan kompromi perempuan untuk bisa diterima dan diakui dalam kiprah keulamaan. Meskipun tetap terasa sebagai upaya yang progresif. Bagaimana tidak, istilah tersebut sekaligus membingkai kiprah keulamaan yang setara dan nilai ‘kesalingan’ antara laki-laki dan perempuan, dan mereka bisa bekerja sama untuk mewujudkan keadilan. Nilai yang menurut Mbak Nur Rofiah mengakar dalam tradisi nusantara. Rumusan metodologi sikap keagamaan, seperti yang juga saya pelajari di PUP, yang dipakai dalam KUPI juga progresif. Ini luar biasa.

Kerja para panitia juga luar biasa. Dengan hanya mengamati dan terlibat sedikit di dalamnya saya merasakan kembali pengalaman kerja volunteer ala santri dan mahasiswa. Lebih-lebih ketika saya berkesempatan ngobrol dengan orang-orang di balik layar, jika bukan karena ketulusan dan niat baik, proses dan hasil KUPI yang luar biasa sepertinya tak akan bisa ditemukan. Mereka tidak tinggi hati merasa sebagai orang besar yang ingin diposisikan lebih karena kebesaran mereka. Mungkin karena ketulusan itu, muncul keajaiban-keajaiban sebagaimana yang dirasakan sendiri oleh Bu Nyai Masriyah Amva. “Ini pertolongan Allah,” tegasnya. Saya juga menemukan detil-detil yang indah dan menyentuh selama pelaksanaan kongres, dari acara pembukaan hingga penutupan. Saya tidak tahu kekuatan apa yang tiba-tiba hadir sehingga sosok seperti Ani Zonneveld dari Muslim for Progressive Values berlinang air mata ketika hadirin menyanyikan lagu ‘Padamu Negeri’ pada saat penutupan.

Saya ingat, malam itu tiba-tiba saya ditarik untuk mempersiapkan salah satu musyawarah sikap keagamaan. Sebagai notulen saya bertanggung jawab untuk merapikan naskah yang akan dimusyawarahkan. “Kita selesaikan di pondok atau rumah Yu Lia?” tanya saya pada Mbak Khotim. Kami sepakat untuk menyelesaikannya di rumah Yu Lia. Pada saat teman-teman sekamar saya sudah terlelap, saya dan Mbak Khotim mengeja satu per satu teks Arab untuk diketik ulang di dalam gelap karena listrik padam. Rekaman yang sedianya bisa membantu kami untuk restore konten naskah ternyata tidak berhasil merekam. Duh! Kepanikan juga saya rasakan bersama dengan Mbak Yuli karena file hasil yang akan dibacakan pada saat penutupan belum berhasil dibuka dan di-print out karena virus. Bagaimana ini, padahal acara akan dimulai dalam hitungan menit. Wajah Mbak Yuli yang putih jadi semakin pucat. Menegangkan sekali! Namun, sekali lagi, tiba-tiba keajaiban terjadi, pada menit-menit terakhir semua bisa diselesaikan dengan baik.

Siapa pun yang hadir dan terlibat dalam KUPI pasti merasakan pengalaman khusus, dari mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru hingga kemantapan batin kenapa saya berpihak pada perempuan, sebagaimana curhat seorang teman kepada saya. Sebagaimana saya optimis bahwa KUPI akan terselenggara dengan baik, saya juga optimis bahwa ruang baru untuk perempuan yang sudah berhasil dibuka ini akan semakin melebar dan meluas dan vibrasinya akan menjangkau setiap sudut kemanusiaan, paling kecil sekalipun.