KUPI hadir untuk mengakui dan melegitimasi keberadaan ulama perempuan di mata publik, serta mengamplifikasi suara-suara mereka ke penjuru dunia. Memilih Pesantren Kebon Jambu al-Islamy sebagai lokasi Kongres, alasan utamanya adalah karena ia dipimpin dan diasuh oleh seorang ulama perempuan, yakni Ibu Nyai Hj. Masriyah Amva, seorang ulama yang selama satu dekade ini telah menegaskan dirinya sebagai pendakwah keadilan gender dan keberagaman bangsa Indonesia dalam perspektif Islam. Lebih dari itu, Pesantren ini bersama Pesantren-pesantren yang lain di Babakan secara khusus, dan di Cirebon secara umum memiliki otoritas sosial dan akar kultural yang kuat untuk mengusung dan menyuarakan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan sekaligus kemanusiaan. Nilai-nilai ini adalah motto yang juga diusung KUPI.

Pondok Pesantren Kebon Jambu al-Islamy didirikan oleh sepasang suami istri, KH Muhammad dan Nyai Hj. Masriyah Amva pada tahun 1993. Sebelumnya, sejak tahun 1975, Akang Muh (nama panggilan KH Muhammad) adalah pengasuh Pondok Pesantren Kebon Melati. Akang adalah peletak dasar tradisi dan sistim pembelajaran di Pesantren Kebon Jambu. Akang adalah ulama yang tekun, tulus, rendah hati, penyabar, dan pengamal tasawuf. Sebagian besar ustadz-ustadzah yang saat ini mengajar di Pesantren adalah murid-murid Akang. Pada tahun 2006, Akang wafat dan tampuk kepemimpinan Pesantren beralih ke istri beliau, Nyai Hj. Masriyah Amva.

Karena masyarakat yang patriarki, tentu saja banyak tantangan dan lika-liku yang dihadapi Iby Nyai dalam mengelola Pesantren. Jumlah santri yang saat ditinggal Akang 350an, sekarang di tangan Ibu Nyai sudah lebih dari 1000an santri, laki-laki dan perempuan. Jenjang pendidikan juga bertambah dan lebih beragam. Tentu saja, gedung dan fasilitas juga bertambah. Tetapi yang paling khas dari Pesantren ini adalah penerimaannya terhadap perspektif keadilan gender dan pluralisme dalam perspektif Islam.

Untuk mengusung ini, Ibu Nyai sendiri telah menulis lebih dari 15 buku yang berisi kontemplasi spiritual dari pengalaman hidup beliau sehari-hari. Relasinya dengan Tuhan, yang disuarakan melalui bait puisi dan doa, menjadi media untuk mendefinisikan feminisme, gender, dan pluralisme. Salah satu bait puisi dan doa beliau adalah:

Adakah aku masih mendamba laki-laki mulia?
Sedangkan aku tahu bahwa diri-Mu Sang Maha Mulia?
Dan sangat mampu dengan kuasaMu memberiku berlimpah kemuliaan?

Adakah aku masih mendamba laki-laki besar?
Sedangkan aku tahu bahwa diri-Mu Yang Maha Besar?
Dan sangat mampu dengan kuasa-Mu memberiku kebesaran-kebesaran?

Adakah aku masih mendamba lelaki yang kaya?
Sedangkan aku tahu bahwa diri-Mu Sang Maha Kaya Raya?
Dan sangat mampu dengan kuasa-Mu memberiku limpahan kekayaan?

Adakah aku masih mendamba lelaki yang perkasa?
Sedangkan aku tahu bahwa diri-Mu Sang Maha Perkasa?
Dan sangat mampu dengan kuasa-Mu menjadikanku perempuan perkasa?

Tuhan…
Andai aku masih terus mendamba selain diri-Mu
Sungguh aku tak kuasa menanggung berjuta kecewa

Dalam acara Pembukaan Kongres, Ibu Nyai dengan lantang berkata: “Saya adalah pejuang [keadilan] gender dan pluralisme. Laki-laki jangan takut dengan [gerakan] gender. Karena [gerakan] gender bukan untuk memberangus laki-laki. Tetapi untuk menempatkan perempuan secara setara dan menjadi mitra yang bekerjasama dengan laki-laki. Saya juga tetap menuntut para perempuan untuk tetap mencintai dan menyayangi laki-laki, sebagaimana juga meminta laki-laki menyayangi perempuan”.

Dalam sambutan pada acara pembukaan Kongres, Ibu Nyai mendefenisikan bahwa feminisme menurutnya adalah ide atau sikap di mana perempuan manapun diharamkan untuk membutuhkan makhluk laki-laki dan atau makhluk manapun selain Allah SWT. Sementara kesetaraan gender menurutnya adalah bahwa perempuan diharamkan bersandar kepada kekuatan laki-laki atau kekuatan makhluk manapun, selain Allah SWT. Lalu, seseorang  yang pluralis, menurut Ibu Nyai, adalah ia yang meyakini bahwa setiap makhluk harus mencintai makhluk lain ciptaan Allah SWT dengan tidak memandang latar belakang apapun. Karena sikap dan pandangan-pandangan seperti ini, Pesantren Kebon Jambu sering menerima kunjungan berbagai kalangan, para aktivis, akademisi, dan para peneliti, muslim dan non-muslim, baik dari dalam maupun luar negeri.

Di satu sisi, semua ini menunjukkan kemampuan Ibu Nyai dalam mengelola Pesantren. Ia menandakan kapasitas keilmuan dan keberpihakan yang tegas dan jelas terhadap kesetaraan dan keadilan gender. Di sisi yang lain, ia juga menunjukkan posisi beliau yang kuat di mata santri, alumni, keluarga Pesantren, para aktivis, dan masyarakat umum. Karena posisi beliau ini, KUPI memilih Pesantren Kebon Jambu al-Islamy sebagai tempat Kongres. Sebagai salah satu dari puluhan Pesantren yang berada di Desa Babakan Ciwaringin Cirebon, posisi kultural Pesantren Kebon Jambu tidak lepas dari otoritas dan legitimasi dari Pesantren Babakan secara umum.

Babakan adalah salah satu daerah Pesantren yang cukup tua di Cirebon, di samping Buntet, Kempek dan Arjawinangun. Ia pertama kali dibuka oleh Kyai Jatira pada tahun 1705. Tetapi aktivitas pembelajaran pesantren lebih jelas dan intensif baru dilakukan oleh Kyai Amin Sepuh pada awal abad keduapuluh. Babakan memiliki posisi kultural, karena Kyai Amin Sepuh ini. Beliau termasuk salah seorang yang ditunggu restunya untuk Resolusi Jihad yang digemakan NU pada masa kemerdekaan, 22 Oktober 1945. Beliau juga, bersama anak-anak dan santri-santri Babakan, ikut bergerak menuju Surabaya untuk mengusir Belanda pada perang 10 November 1945. Akibat konfrontasi dan perlawanan Kyai Amin Sepuh ini, Pesantren Babakan pernah diserang dan dibumi-hanguskan pada saat agresi Belanda yang kedua, tepatnya tahun 1952. Semua orang mengungsi, termasuk KH Amin Sepuh.

Pada tahun 1955, KH Amin Sepuh kembali lagi ke Babakan untuk memulai dari awal, membangun dan mengembangkan Pesantren Babakan. Pesantren ini dinamakan Raudlatut Tholibin. Di tangan beliau ini, tokoh-tokoh ulama kunci di Cirebon dan daerah lain belajar. Sebutlah misalnya KH. Abdullah Abbas (Buntet), Kang Ayip Muh (Jagasatru Kota Cirebon), dan KH Syukron Mamun (Jakarta). Babakan adalah salah satu Pesantren Cirebon, di mana nilai-nilai keislaman menyatu secara kuat dengan nilai-nilai kebangsaan. Nama Cirebon sendiri sejak didirikan dan sampai sekarang menjadi simbol dari perpaduan berbagai ras, suku, dan agama.

Cirebon adalah daerah pesisir yang memiliki pelabuhan Muara Jati yang di masa lampau menjadi embarkasi yang sangat penting bagi para saudagar dari berbagai penjuru dunia. Ia menjadi kota persinggahan berbagai kebudayaan, seperti Melayu, Jawa, Sunda, Arab, Cina dan Portugis. Oleh karena itu, sangatlah bisa dimengerti  nilai pluralisme sangatlah  menojol di wilayah ini sebagaimana tergambar dalam simbol utama Keraton Cirebon, yaitu Kereta Singa Barong dan Kereta Paksi Naga Liman.  Paksi artinya burung, yang saat itu menjadi lambang Islam dari Mesir. Naga adalah ular yang menjadi lambang Tiongkok yang beragama Budha. Liman adalah gajah yang menjadi lambang India yang beragama Hindu. Cirebon dengan demikian adalah kota multikultural.

Melalui Cirebon ini, tepatnya Pesantren Babakan Ciwaringn Cirebon, lebih spesifik lagi Pondok Pesantren Kebon Jambu al-Islamy, KUPI ingin mengingatkan sekaligus menegaskan pentingnya corak Islam Nusantara yang menghormati keragaman dan pluralisme yang bermuara pada nilai-nilai Tauhid. Yakni, sebuah pemahaman dan praktik keagamaan yang tidak hanya memperkuat nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan, tetapi juga membuka ruang secara lebar bagi perempuan untuk berkiprah di berbagai kehidupan publik, baik sosial, ekonomi, politik, pendidikan, maupun keagamaan. Sesuatu yang ingin ditegaskan oleh KUPI sebagai keniscayaan sejarah dan sekaligus keterpanggilan iman.