Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) di Ponpes Kebon Jambu Al Islamy, Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, ditutup Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin. Mewakili pemerintah, Lukman menyatakan apresiasinya terhadap gelaran KUPI.

“Saya merasa kongres ini luar biasa tidak hanya substansi yang dikaji, tetapi juga prosesnya. Karena ini sepenuhnya merupakan inisiatif masyarakat dari kaum perempuan. Lalu mereka berupaya untuk membuat satu kongres (ulama perempuan) pertama di dunia, di Cirebon ini,” tutur Lukman.

Setidaknya Lukman mencatat tiga makna strategis KUPI. Pertama, menurut Lukman, KUPI berhasil memperjuangkan keadilan dalam relasi laki-laki dan perempuan. Karena akan memiliki tingkat urgensi yang cukup tinggi.

“Seringkali ayat-ayat suci, karena pemahaman yang terbatas, langsung maupun tidak langsung memengaruhi aspek (keadilan gender) ini,” kata Lukman.

Kedua, tidak hanya pengakuan tetapi KUPI juga mampu melakukan revitalisasi peran ulama perempuan. Ketiga, KUPI berhasil meneguhkan dan menegaskan bahwa moderasi Islam harus senantiasa dikedepankan. Islam yang tidak menyudutkan posisi perempuan.

“Dan, sekali lagi, isu ini kini semakin relevan. Sehingga (KUPI) berdampak pada kemaslahatan bersama untuk peradaban, di mana Islam dapat memberikan kontribusi bagi peradaban dunia,” ujar Lukman.

KUPI 2017 merupakan kongres pertama yang mendapatkan perhatian lebih. Peserta yang hadir lebih dari seribu orang.

Selain itu peserta yang datang tidak hanya dari Indonesia, tetapi juga dari 15 negara lainnya. Di antaranya Mossarat Qadeem (Pakistan), Zainah Anwar (Malaysia).

Kemudian Hatoon Al-Fasi (Saudi Arabia), Sureya Roble-Hersi (Kenya), Fatima Akilu (Nigeria). Dan, Roya Rahmani (the Ambassador of Afghanistan in Indonesia). (cecep)

 

Sumber: https://www.radarcirebon.com/ini-catatan-menteri-lukman-hakim-soal-kongres-ulama-perempuan-indonesia.html