Indonesia tercatat sebagai salahsatu negara dengan Indeks Ketidaksetaraan Gender (IKG) yang tinggi jika dibandingkan negara ASEAN lainnya. Salah satu masalah krusial yang dihadapi perempuan Indonesia adalah tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Hal itu diungkapkan Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI, Prof. H. Abdurahman Mas’ud, Ph.D, saat memberikan pemaparannya terkait pentingnya peran ulama dan keulamaan perempuan, dalam seminar Internasional Ulama Perempuan Indonesia di aula IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Selasa (25/4).

“Meski perempuan Indonesia telah banyak berperan dalam melaksanakan berbagai program kesetaraan gender, Indonesia termasuk salahsatu negara dengan Indeks Ketidaksetaraan Gender (IKG) yang tinggi dibanding negara Asean lainnya, isu krusialnya adalah tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT),” kata Abdurahman.

Menurutnya, data pada Komnas Perempuan menunjukkan tingginya tingkat kekerasaan terhadap perempuan di dalam rumah tangga pada tahun 2015 secara nasional tercatat mencapai 321.752 kasus.

“Tentunya dengan adanya permasalahan tersebut, Ulama perempuan itu dituntut untuk lebih banyak berperan, dari mulai keislaman, kebangsaan dan kemanusiaan. Seperti mendorong para santri untuk senantiasa mencintai negaranya, menangani masalah penggunaan narkoba, perdagangan manusia dan banyak lagi yang lainnya,” katanya.

Ia mengaku sangat mengapresiasi diselenggarakannya Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) yang semangatnya memberikan kontribusi kepada bangsa dan kemanusiaan. Menurutnya, kesadaran individu perempuan telah melahirkan keinginan untuk bersatu dalam sebuah organisasi.

Tercatat ada beberapa organisasi perempuan pada masa perjuangan diantaranya Putri Mahardika, Kautamaan Isteri, Sopa Trisno, Organisasi Muslimat NU, Aisiyah Muhammadiayah  dan banyak lagi yang lainnya.

“Dalam organisasi perempuan tersebut terjadi pergumulan termasuk ideologi dan pembangunan di masa orde baru. Ulama perempuan hari ini memiliki peran yang beragam dari mulai keislaman, kebangsaan dan kemanusiaan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pengarah KUPI, Hj. Badriyah Fayumi mengatakan, tujuan kongres tersebut salah satunya adalah bagaimana ulama perempuan tidak hanya memberikan kontribusinya untuk isu kebangsaan dan kemanusiaan, tetapi juga eksistensinya dihargai dan diakui.

“Sebab dominasi budaya patriarkhi berakibat pada tenggelam dan terpinggirkannya ulama perempuan dalam mengisi ruang-ruang publik, padahal kita punya banyak akademisi dan intelektual dari kalangan perempuan,” katanya.

Kongres ini, kata dia, diharapkan agar dapat memberikan kontribusi untuk kemajuan para perempuan dalam pencapaian nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, serta memiliki perhatian pada perspektif untuk kesetaraan perempuan dalam memajukan peradaban Islam dan penguatan civil society. (Vian)

Sumber: http://news.fajarnews.com/read/2017/04/26/15098/indeks.ketidaksetaraan.gender.indonesia.tinggi