Sedikitnya 574 orang peserta ditambah 35 pengamat, 15 orang di antaranya berasal dari dari luar negeri, akan ikut ambil bagian dalam Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), yang akan dilaksanakan di Pondok Pesantren Kebon Jambu, Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Selasa-Kamis (25-27/4).

Panitia pelaksana KUPI, Emy Fakhriyati mengatakan, dari 1.270 pendaftar yang diterima menjadi peserta kongres sebanyak 574 orang. Peserta merupakan ulama perempuan yang berasal dari sejumlah provinsi di Indonesia dengan rincian, Provinsi Aceh sebanyak 18 peserta, Bangka Belitung 1, Banten 19, Bengkulu 1, Jabar 110, Jakarta 116, Jambi 5, Jateng 59, Jatim 82, Kalbar 4, Kalsel 11, Kaltim 2, Lampung 18, Maluku 2, NTB 5, NTT 2, Papua 7, Sulsel 10, Sulteng 6, Sulut 5, Sultra 1, Sumbar 15, Sumsel 3, Sumut 6, dan Provinsi Yogyakarta 66 peserta.

“KUPI akan dihadiri juga 35 orang pengamat dan 15 di antaranya dari negara sahabat seperti Afghanistan, Bangladesh, Pakistan, Saudi Arabia, Mesir, Nigeria, Kenya, Australia, Amerika, Malaysia, Singapura, Filipina, Kanada, India, dan Belanda,” kata Emy.

Dikatakannya kongres akan dibuka langsung Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, Selasa (25/4) pukul 19.30 WIB, hari ini. Usai dibuka acara dilanjutkan pentas seni dan budaya hingga pukul 22.00 WIB. Sebelumnya pada pukul 13.00 WIB, para peserta melakukan taaruf (perkenalan).

“Para peserta KUPI yang terdiri dari perempuan pemimpin pesantren, pemimpin organisasi keislaman, pengasuh atau pengelola majlis taklim, ustazah, muballighah dan daiyah.

Semua akan mengikut sesi perkenalan. Sesi ini ditekankan pada penguatan keahlian mengenali data diri, sebagai basis data keulamaan perempuan. Para peserta juga akan dibagi enam kelompok. Per kelompok akan ditemani oleh seorang fasilitator,” ujar Emy.

Informasi yang berhasil dihimpun fajarnews.com menyebutkan, kongres tersebut akan membahas berbagai isu krusial seperti kekerasan seksual, perkawinan anak, kerusakan lingkungan, pesantren dan keulamaan perempuan, buruh migran, radikalisme agama, dan konflik kemanusiaan.

Kongres juga bakal diisi seminar internasional tentang ulama perempuan. Rencananya, beberapa narasumber bakal hadir dari Pakistan, Afganistan, Malaysia, Arab Saudi, dan Nigeria. Mereka juga akan menghadirkan para aktivis dan korban yang masalahnya dimintakan fatwa pada ulama perempuan Indonesia ini. Kongres ini bakal merumuskan fatwa ulama perempuan melalui musyawarah sebagai produknya.

Sebelumnya, Pengasuh Ponpes Kebon Jambu Babakan Ciwaringin, Hj Masriyah Amva kepada fajarnews.com  mengatakan, saat ini masyarakat Indonesia hanya mengenal ulama dan fokus kepada para ulama laki-laki. Dengan kongres ini ulama perempuan ingin diakui dan dihargai karena sudah layaknya para ulama perempuan dimanapun keberadaannya dan perjuangannya dapat dihargai.

“Acara ini bisa saja diselenggarakan di hotel berbintang atau gedung mewah. Namun karena mereka sengaja mencari tempat yang lebih pas untuk ulama perempuan agar lebih merasakan dalam ponpes tradisional yang diasuh oleh seorang perempuan seperti di Ponpes Kebon Jambu ini,” katanya.

Dikatakannya, mereka akan melihat suasana pesantren tradisional lebih dekat, akan melihat bagaimana para santrinya tidur hanya beralas tikar karena tidak memakai fasilitas yang memadai.

Yang sangat berbeda dengan pesantren modern, sehingga kongres ulama perempuan ini agar bisa bermakna dan bisa bermanfaat dan bisa menjiwai keulamaannya. (Adhe Hamdan)

 

Sumber: http://news.fajarnews.com/read/2017/04/25/15048/hari.ini.kongres.ulama.perempuan.indonesia.dibuka