Pertama kali ketika saya dikabari dan diemail TOR acara KUPI ini, saya merasa ngeri dengan judulnya, mrinding rasanya. Saya ngeri membayangkan diri saya sendiri yang bukan siapa-siapa, dan juga tidak punya prestasi apa-apa, disebut ulama.  Lama sekali saya baca ulang TOR yang dikirimkan oleh mahasiswa saya yang alumni PUP 3 Rahima itu, 1 bulan sebelumnya, hampir-hampir terlupa tertutup dengan kesibukan sehari-hari. Baru kemudian muncul sedikit keberanian ketika saya membaca TOR sampai pada kriteria ulama bagi forum KUPI tersebut. Lega rasanya, saya menjadi bagian yang disasar KUPI.

Bismillah akhirnya saya berangkat ke kongres, setelah sebelumnya berkegiatan di FGD PSW/PSG PTKIN Kemenag Pusat. Saya senang sekali bahwa keinginan saya untuk dapat berpartisipasi sebagai peserta KUPI ternyata dapat beriringan dengan kegiatan kedinasan. Meski begitu hal ini menjadikan ada yang kurang sempurna dalam kepesertaan saya di KUPI. Karena menginap di hotel menjadikan saya tidak dapat menikmati indahnya “bermalam di pesantren” dan mengikuti rangkaian acara KUPI secara penuh.  Kekurangan tersebut sedikit melegakaan saya, karena “ter-ijoli” oleh ziarah ke Sunan Gunung Jati, Raden Cakra buana, wisata batik, wisata kulinar dan lain-lain.

Berangkat dengan keinginan besar dapat bertemu dan tabarrukan dengan orang-orang hebat, yang 20 lalu saya mengenalnya sama-sama sebagai mahasiswa Fakultas Ushuluddin, seperti Mbak Nyai Badriyah Fayumi, juga Mbak Masruchah yang saya kenal di YKF Jogja, lewat PW Fatayat Jateng juga mempertemukan saya dengan Mbak Khusnul Mar’iyah. Mbak Maria Ulfah Anshor, lewat PSGA juga mempertemukan saya dengan Bu Lies Marcoes, Mbak Ruhaini dan lain-lain. Dulu sudah lama banget, yang pasti mereka semua sudah demikian melesat-mendunia, tidak mengenali saya lagi. Tapi ternyata di Cirebon masih ada juga yang kenal saya, tanpa sengaja dalam kelas paralel, ketemu mahasiswa saya dulu di Walisongo yang sekarang sudah menjadi dosen di IAIN Syekh Nurjati, masya Allah,….barokallahu lahunn.

Belum lagi keinginan besar saya tuk berguru dengan para Bu Nyai dan Pak Kyai hebat nan sakti. Para ‘allamah dan ‘alimah, seperti Yai Husein yang beberapa kali singgah di gubug kami, Bu Nyai Masriyah yang saya belum pernah ketemu, Kang Kyai Faqih yang selama ini saya hanya baca beberapa tulisannya saja, dan haqq al-yaqin saya, masih banyak ulama perempuan sakti yang bisa saya temui dan tabarruki di sini di KUPI.

Betul juga dan tidak sia-sia saya meninggalkan kampung halaman, keluarga, ruang kelas dan mahasiswa serta segala aktifitas di Semarang untuk mengikuti KUPI ini. Di sini, saya benar-benar mendapatkan suatu forum yang unik dan komplit. Unik, karena forum ini sangat-sangat kekeluargaan, tidak ada sekat antara Bu Nyai-santri, narasumber-audien, panitia-peserta, tuan rumah-tamu, tumplek blek penuh kekeluargaan. Komplit ada pejuang perempuan dari sisi akademis rekonstruktor pemahaman normatif-salafis-inklusif gender, pejuang pelaku lapangan dalam pemberdayaan perempuan kesetaraan-kemanusiaan, relawan anti kekerasan, bahkan korban kekerasan sekaligus, sungguh luar biasa. Meski juga saya temui ada beberapa persen sangat kecil peserta yang datang untuk selfie dengan orang-orang hebat nan sakti dan menjadikan DP di handphone-nya saja.

Tak kurang saya menyaksikan ke-tawadlu-an santri melayani tamu. Muka-muka penuh ketulusan tanpa lelah, dan sumringah menyapa para tamu, seakan selalu mengatakan, “Apalagi yang bisa saya bantu?” Dan inilah sosok “santri” itu.  Saya mbatin, ini Bu Nyai Hj. Masriyah Amva, punya “ajian” apa dan “topo”nya bagaimana ya?, Bu Nyai-nya pasti sakti, sehingga bisa terlahir santri yang demikian tulus. Demikian juga dengan panitia, bahkan sekaliber Kang Kyai Faqih, yang sibuk luar biasa, pada malam sebelum pembukaan masih menyempatkan menyapa kami di BATIQA, meladeni berbagai pertanyaan bahkan mengirim buku. Begitupun dengan panitia lain, Mbak Bad, Yai Husein dan semua….subhanallah

Keluarbiasaan ini, akan menjadi terus luar biasa, tidak cuma kenangan luar biasa di Kebon Jambu Cirebon, tetapi di seantero dunia. Melalui para peserta kongres agar keputusan-keputusan kongres dapat didesiminasikan pada komunitas terkecilnya masing-masing. Semisal saya, dari unsur kampus dan pesantren mahasiswa, dapat meningkatkan jejaring dan penguatan lembaga pesantren pemberdayaan perempuan dan kesetaraan, dengan saling bertukar informasi program kajian, muhibah ta’limiyah, pertukaran santri home-stay, NHN (ngaji hidmah nyata)  dan lain-lain, untuk saling menguatkan dan memberdayakan satu sama lain.

Hal ini mengingatkan saya, suatu saat pernah diminta menjadi narasumber di forum ibu-ibu nyai se-Kabupaten Pati -kalau tidak salah- yang ketuanya adalah Bu Nyai Fayumi, ibunda Mbak Nyai Badriyah. Alhamdulillah sekali, ada asosiasi Bu Nyai pengasuh pesantren putri untuk saling share pengalaman. Saya pikir forum-forum semacam ini bagus sekali dan sangat perlu ditindaklanjuti sampai ke pesantren dan santrinya. Masing-masing pesantren saya yakin mempunyai kekhasan sendiri, baik tradisi, kurikulum maupun bidang yang menjadi fokus kajiannya. Maka lambat laun masing-masing pesantren ini akan tumbuh dengan bentuknya yang semakin terbuka (tidak jumud), sempurna (saling melengkapi) dan sekaligus berdaya guna, karena santri-santrinya juga mempunyai skill dan pengalaman yang mumpuni. Dengan begitu santri mampu melaksanakan tugas dan khidmah di masyarakat sebagai agen perubahan pelaksanaan Islam yang ramah, santun, menghargai hak asasi, kesetaraan gender, solutif terhadap problem masyarakat dan lain-lain.

Hal ini tentu saja tidak boleh menjadi utopia belaka, KUPI-lah yang mampu me-wasilahi maksud besar ini. Saya sangat berharap dan mendoakan KUPI 2017, bukanlah KUPI yang pertama dan terakhir, karena mesti harus ada KUPI-KUPI lain dan terus di setiap eranya. Saya yakin juga pada KUPI-KUPI berikut akan ada tema-tema yang memang harus di angkat dan di bahas untuk mendapatkan perhatian dan solusi baik nan cerdas untuk mengatasinya tanpa menimbulkan luka. Para ulama perempuan harus berani, mandegani dan sekaligus bekerja solutif-masif untuk hal ini.

Saya merasa sangat beruntung dapat mendaftar dan diterima sebagai peserta KUPI 2017. Untuk penyelenggaraan kali pertama sudah sangat bagus. Problem seputar pemberdayaan perempuan, isu-isu yang mengoyak kesetaraan, munculnya kekerasan dimana-mana, baik atas dasar agama atau yang lainnya, yang secara masif mencederai kerahmatan agama dan perdamaian antar manusia, dan manusia dengan makhluk Tuhan lainnya, sudah terbahas.

Sangat antusias dan bersemangatnya saya, oleh karenanya saya mempunyai harapan yang sangat besar sekaligus mengusulkan pada penyelenggaraan KUPI ke depan agar dipikirkan dan difasilitasi untuk agenda tentang kepesantrenan, dan forum share para ulama perempuan/pengasuh pesantren untuk penguatan kelembagaan terkait pemberdayaan perempuan, kesetaraan, kebangsaan dan kemanusiaan.

Demikian juga terkait penghentian dan penyelesaian kekerasan terutama yang menimpa perempuan dengan dalih apapun, para santri musti mengetahui, dan dengan pengetahuannya mereka berani bergerak melakukan pencegahan, pengurangan dan penyelesaian dengan cara melakukan jejaring dan “ngangsu kaweruh” kepada para ahlinya yang bergumul langsung di lapangan. Jangan ada lagi para istri yang bermadzhab “semakin disiksa/dianiaya suami semakin besar pahalanya”.

Menurut saya hal tersebut di atas sangatlah penting untuk dibekalkan kepada para santri, sehingga membuat para santri menjadi hebat dan sakti bahkan melebihi para kyai dan bu nyai-nya. Dari mereka inilah kita menggantungkan harapan besar untuk pelaksanaan syariat Islam yang lebih ramah dan santun dan berdaya guna, yang diterjemahkan sebagai rahmatan lil alamiin, sebagaimana yang dituju bersama. BERKAH KUPI 2017.

Sya’ban 1438 H / 7 Mei 2017