Perhelatan perdana Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) dari tanggal 25-27 April 2017 di Cirebon, Jawa Barat telah banyak memberikan berbagai pengalaman kontributif dalam berbagai bidang kehidupan. KUPI yang menjadi arena berkumpulnya ulama terkhusus perempuan secara biologis, dan juga memasukkan biologis laki-laki sebagai peserta aktif dalam definisi perempuan ulama telah berhasil merumuskan berbagai isu. Menyelesaikan berbagai persoalan yang sering dihadapi status gender dengan rumusan deklaratif ke dalam rekomendasi-rekomendasi diteruskan ke pihak penentu kebijakan dan masyarakat luas melalui media pers dan publikasi.

Cirebon salah satu kota dengan sebutan kota santri di Jawa Barat, seperti Jombang di Jawa Timur. Beberapa partisipan KUPI dari Cirebon menggambarkan corak bersosialisasi masyarakat Cirebon adalah sepakat dengan satu kata yang mungkin tidak banyak dipahami oleh masyarakat lain di Indonesia dengan istilah pluralis. Partisipan KUPI yang berasal dari Cirebon mengakui mendapat pencerahan mendatangi wadah simpul utama, seperti Fahmina institute Cirebon dengan pengkajian yang diisi oleh KH. Husein Muhammad dan ulama lainnya yang concern isu gender.

Pada saat menginjakkan kaki di Stasiun Cirebon yang tempo dulu nan memorialis klasik arsitektur Belanda, penulis menggunakan pengendara motor sewa ojek. Dalam perjalanan pengendara bertanya kepada penulis, apakah tujuan selama berada di Cirebon. Penulis menjelaskan akan menjadi peserta konferensi perempuan internasional dan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), pengendara merespon dengan mengatakan, “Oh bagus itu Mbak, diadakan biar cewek-cewek itu pada jadi baik, enggak binal, tau gak disini itu AIDS itu jadi banyak, karena cewek-cewek nya enggak alim lagi.” Pengendara beralasan mendapatkan informasi dari orang-orang bekerja dekat Puskesmas. Penulis mendengar apa yang dikatakan oleh pengendara dengan berdesir, stigma sebagai perempuan lagi-lagi dipertaruhkan, pengendara ojek yang seorang laki-laki ini tentu belum pernah terpapar pengetahuan yang luas mengenai gender, kesehatan reproduksi ataupun pengamatan sosial secara adil.

Hingga akhirnya, penulis tiba di rumah seorang teman yang telah 23 tahun tidak dijumpai sejak lulus SD di Bengkulu. Setelah mempertanyakan masing-masing cerita kehidupan, maka teman tergelitik ingin mengetahui apa yang akan dilakukan selama Kongres berlangsung. Teman bertanya kongres, “Dimana nanti acaranya? Oh di IAIN Cirebon dan pesantren, saya selama di Cirebon sini gak pernah ikut pengajian di IAIN atau pesantren, saya sih ikut pengajiannya di kantor suami (Pertamina) dengan ustad Syafiq Bassalamah atau Khalid, kemudian dengar radio yang muterin ceramah mereka.”

Yang menarik juga dari teman-teman yang intens ber-Islam ala kajian Syafiq Bassalamah ini, adalah pola kehidupan ekonomi mereka, yang sebelumnya memiliki pinjaman hutang mobil, rumah, di bank konvensional untuk membiayai kredit dengan Bunga bank, secara simultan menghentikan pinjaman dengan alasan Riba dan sudah arahan terbaik dari Ustadz. Penulis mengamati beberapa buku di tempat penyimpanan buku teman, para penulis buku-buku kajian Islam, berjudul “50 hal yang memasukkan wanita masuk surga”, “Menjadi Shalihah”, “Istri terbaik menurut Islam” dan lainnya yang tidak familiar tertata rapi. Judul-judul tersebut mengarah kepada Istri.

Dalam kegiatan konferensi internasional, penulis mengamati peserta konferensi dari berbagai kalangan. Dari para Guru Besar, peneliti Feminisme, kelompok organisasi perempuan Kristen, aktivis gender, perwakilan lembaga donor asing, Dayah, Nyai terkenal. Penulis sendiri tertulis sebagai partisipan dari Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta. Konferensi ini telah menjadi perhatian berbagai pihak pengambil kebijakan, pejabat setempat. Panitia mengabari hanya menerima 200 orang yang berhak mengikuti seminar Internasional di IAIN. Beberapa teman aktifis yang hadir dari Jakarta, dengan sedikit pemaksaan kepada pihak panitia, di akhir-akhir waktu registrasi peserta, teman-teman tersebut berhasil memasuki ruangan.

Dari pidato pembukaan kongres yang disampaikan Badriyah Fayumi, penulis menangkap kesan, bahwa rangkaian kegiatan KUPI ini berinisiatif untuk mengelola ulama perempuan terlibat secara aktif menyelesaikan isu bersama terkait berbagai hal yang kerap dirasakan oleh perempuan di Indonesia. Perempuan Indonesia telah menjadi pemimpin pemerintahan. Seperti keberadaan Sultanah-Sultanah di Aceh, Ratu-Ratu di Jawa, atau wilayah Timur Indonesia, di Ternate. Perhatian khalayak ramai yang menghadiri pembukaan kongres kemungkinan akan memiliki kesadaran kritis terkait pidato tersebut, apalagi jika para audiens tidak banyak membuka referensi mengenai Sejarah Indonesia atau referensi asing seperti Thabaqat Ibnu Sa’ad atau tulisan Ruth Roded, atau Cora Vreede de Stuers yang menulis mengenai Kongres Perempuan Indonesia pertama.

Dalam presentasi internasional Hatoon al-Fasi yang berasal dari Arab Saudi, mempresentasikan mengenai tantangan dan harapan dari pengalaman yang mengalami pembatasan ruang publik. Perempuan tidak bebas berjalan sendirian di luar rumah, pemerintah dan masyarakat secara umum menuntut perempuan disertai oleh muhrim. Ungkapan yang berbunyi “I’m my own guardian” menjadi frase yang sedang diperjuangkan oleh Hatoon beserta para ulama dan aktifis perempuan, selain kebebasan untuk menyetir mobil yang sampai hari ini belum mendapatkan perizinan dari Raja Arab Saudi. Selain itu yang menurut penulis menarik adalah ulama perempuan dari Nigeria, pengalaman menghadapi pemerintahan Presiden Boko Haram dan masyarakat patriarkis. Semua pembicara dalam konferensi internasional memiliki, pengalaman berbeda dalam merespon penyimpangan sosial dan ketidakadilan gender yang terjadi karena politik negara, orientasi patriarkhis, dan prokreasi maskulinitas.

Kegiatan kongres yang diselenggarakan di Pesantren Kebon Jambu, di bawah pimpinan Nyai Masriyah Amva, penulis menemukan pengalaman baru lainnya dan menurut penulis hal ini bisa menjadi evaluasi untuk masa mendatang. Interaksi yang terjadi dari arena kongres hingga bilik pemondokan mengalami kerentanan ketika panel-panel dilakukan ataupun seminar. Partisipan KUPI merupakan representatif dari berbagai organisasi Islam, penulis bersebelahan tempat tidur dengan teman dari Syi’ah Ahlul Bait Indonesia. Pada saat penulis mengikuti seminar yang diisi oleh Dr. Nur Rofi’ah, KH Husein Muhammad, terdapat peserta dari Syi’ah tersebut, sedang menyampaikan pertanyaan. Dan ketika panel Peluang dan Tantangan Pendidikan Ulama Perempuan di Indonesia, seorang pembicara mengekstrak tantangan pendidikan keulamaan perempuan Indonesia dalam beberapa point salah satunya menyebutkan aliran sesat (Syi’ah, Ahmadiyah, dan lain-lain). Teman Syi’ah juga berada pada panel yang sama dan menyimak presentasi tersebut. Kebenaran dalam penyampaian informasi bukan menjadi prerogatif dari pembicara, ketika dibicarakan secara luas dan formal.

Dalam hal ini kebenaran haruslah diobjektifikasi selektif. Pada akhir panel, Masruchah, moderator, meminta beberapa orang membantu mempertajam rekomendasi, penulis mendorong teman Syi’ah tadi untuk ikut serta dalam memformulasi. Teman Syi’ah menjelaskan apa yang diyakini dengan suara pelan dalam menjawab pertanyaan teman-teman di ruang tidur, namun memberikan pendapat agar dia bisa menegaskan jawaban-jawabannya secara lantang, dimaksudkan agar teman-teman lain ikut pula berdialog singkat, ada sekitar 2-4 orang yang antusias mendengarkan, namun ada juga teman yang tetap memandang miring apa yang kami lakukan.

Hari terakhir adalah hari yang memilukan beberapa partisipan khususnya di pemondokan kami. Pada hari terakhir ini teman Syi’ah memberi kami yang intens ‘ngobrol’, buku berjudul “Buku Putih Syi’ah”, kata pengantar buku yang ditulis oleh tim Ahlu Bait Indonesia itu, diberikan oleh Quraish Shihab. Penulis pada saat itu, tidak kebagian mendapatkan buku tersebut. Namun Euis Daryanti yang pernah mengenyam pendidikan selama 10 tahun di Iran ini menjanjikan mengirimi penulis. Dan Euis menepati janji tersebut, dengan mengirimkan 20 eksemplar buku dengan judul di atas secara gratis. Euis menginginkan apa yang menjadi keyakinannya dengan Syi’ah dipahami, tidak memaksa untuk menerima, namun secara eksplisit membutuhkan kesadaran bersama terhadap keterbukaan menerima perbedaan secara inklusif.

Kongres Ulama Perempuan Indonesia ini momentum tempat bertemunya ulama perempuan dan perempuan ulama inklusif. Rekomendasi yang dihasilkan merupakan refleksi lintas pemahaman ber-Islam dinamis. Eksistensi kelanjutannya adalah perjuangan di masa mendatang yang perlu mendapatkan dukungan masyarakat. Di tangan sinergitas Ulama perempuan dari berbagai latar belakang corak ke-Islam-an terdapat masa depan Islam dalam purwarupa yang mampu menjawab tantangan global. Ulama perempuan adalah indikator majunya sebuah bangsa yang berkomitmen terhadap Demokrasi dan penegakan Hak Asasi Manusia. Ulama perempuan Indonesia mampu melakukan revitalisasi sosial dalam tatanan dunia.

Ciputat, 7 Mei 2017