Entah apa yang dirasakan oleh teman-teman aktifis perempuan Muslim saat penyelenggaraan Kongres Ulama Perempuan Indonesia ini. Bagi saya sendiri, ia seperti peristiwa pernikahan anak ideologis saya yang sangat saya tunggu-tunggu dan berbuah dengan sangat membahagiakan.

KUPI adalah suatu rangkaian panjang dari kerja-kerja aktifis perempuan Muslim di Indonesia. Ia dimulai sekitar awal tahun 1990-an melalui kerja-kerja yang digawangi Mbak Lies Marcoes di P3M dan saya sebagai asisten beliau saat itu. Karena itu, ketika di hari pertama acara ini, saya sebenarnya mencari-cari Mbak Lies dan ingin memeluk beliau serta ingin mengatakan padanya bahwa ini merupakan buah kerjanya dalam rentang waktu yang cukup panjang.

Kerja-kerja P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) dilanjutkan oleh Rahima yang digawangi oleh Mbak Farha Ciciek, Mbak AD Eridani dan kemudian menghasilkan anak lembaga lain, yakni Fahmina di Cirebon. Langkah kerja Fahmina rupanya lebih gesit dan bergerak cukup maju karena mempunyai ide-ide kuat dengan icon KH. Husein Muhammad, Faqihuddin Abdul Kodir, dan Marzuki Wahid. Fahmina melalui Faqih -panggilan Faqihuddin Abdul Kodir- menciptakan lagu Shalawat Keadilan yang sepanjang acara Kongres Ulama Perempuan ini, lagu tersebut dijadikan Mars wajib bagi setiap mata acara. Penyelenggaraan acara di Cirebon pun bukan tanpa alasan, karena Ibu Masriyah Amva, pimpinan Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy Babakan Ciwaringin Cirebon adalah salah satu kader Fahmina.

Kerja-kerja mainstreaming gender dan Islam ini kami teruskan di Pimpinan Pusat Fatayat NU yang pada saat itu Ketua Umum-nya dijabat oleh Mbak Maria Ulfah Anshor. Mungkin Fatayat NU di masa Mbak Maria inilah satu-satunya organisasi perempuan berbasis massa Islam yang mengarusutamakan perspektif gender dalam kerja-kerjanya secara sistematik dan terstruktur. Meski kami sering berseberangan dan dimarahi oleh KH. Hasyim Muzadi yang saat itu menjadi Ketua Umum PBNU, tetapi kami pantang menyerah untuk suatu visi yang hendak kami perjuangkan melalui organisasi ini.

Di tahun 2009, saya menjadi salah satu Komisioner Komnas Perempuan, dan duduk sebagai Ketua Sub Kom Pendidikan dan Litbang. Saat itu, kami: Mbak Kamala Candrakirana (Nana), Kyai Hussein Muhammad, Mbak Tati Krisnawaty dan Mbak Nani Zulminarni yang dibantu oleh Badan Pekerja  Sub Kom Pendidikan yaitu Yenny Widjaja dan Yuni Nurhamida (Ida)  menginisiasi berdirinya organisasi Alimat. Sebagaimana namanya, organisasi ini berpretensi menjadi tempat bergabungnya para ulama perempuan dari pelbagai disiplin ilmu pengetahuan Islam untuk dapat menjawab masalah-masalah yang mendiskriminasi dan melanggengkan kekerasan terhadap perempuan atas nama ajaran Islam. Sejumlah aktivis perempuan terlibat dalam organisasi ini, dimana harapannya supaya terjadi pertukaran antara pemikiran dengan realitas empirik perempuan yang digeluti para aktivis.

Tiga organisasi inilah, yakni Rahima, Fahmina dan Alimat penyelenggara Kongres Ulama Perempuan ini, minus Fatayat NU. Organisasi yang disebut terakhir ini hanya diwakili oleh alumninya, yakni saya dan Mbak Maria Ulfah Anshor serta beberapa yang lain.

Ada kritik terhadap penyelenggaraan KUPI yang harus didengar. Kritiknya adalah bahwa para aktor yang terlibat di KUPI masih orang-orang lama dan tidak menampilkan generasi yang baru. Kritik itu barangkali ada benarnya, karena bagi saya sendiri, keterikatan pada Kongres ini cukup kuat. Bukan pada kongresnya itu sendiri sebagai suatu sejarah baru dalam gerakan perempuan Indonesia, khususnya gerakan perempuan Muslim, tetapi peristiwa ini merupakan rangkaian kerja-kerja panjang sebagaimana yang saya tuliskan di atas. Tak heran, saat penutupan acara kongres, saat hasil musyawarah keagamaan disampaikan, saat deklarasi ulama perempuan dibacakan oleh sejumlah ulama perempuan dari pelbagai daerah dengan artikulasi menggelegar sebagaimana gaya para daiyah, kami: saya, Ninik Rahayu dan Nani Zulmirnani berpelukan dan menangis sejadi-jadinya, suatu tangisan yang sangat membahagiakan, tangisan antara percaya dan tidak atas peristiwa ini. Tangisan itu meledak lagi saat bertemu dengan Mbak Kamala Chandrakirana (Nana), teringat di akhir tahun 80 dan awal 90-an saat masih di P3M dan Komnas Perempuan, dengan Mbak Nana-lah kerja-kerja ini dilakukan.

Semoga tangisan kongres kemarin adalah tangisan awal dan akhir. Ibarat baru menikahkan anak, ini merupakan pernikahan anak pertama yang menakjubkan. Kongres ke depan, para aktornya mesti generasi baru setelah generasi kami. Mungkin generasi kami kelak akan berfungsi sebagai pendamping saja yang mudah-mudahan selalu muda dalam pemikiran dan semangat hidup, hanya beranjak dalam usia.

Jakarta, ba’da Subuh, Sabtu, 29 April 2017.