Kabar pertama tentang KUPI saya dapat dari edaran pesan WA. Menarik idenya, demikian yang terbersit di kepala saya. Tetapi karena tak tahu siapa penyelenggaranya, saya mengambil posisi menunggu. Tak berapa lama saya dihubungi untuk ikut workshop persiapan. Jadi jelas bagi saya siapa penyelenggaranya, dan saya langsung menyatakan akan membantu, karena saya percaya pada kredibilitas nama-nama yang terlibat.

Sayang saya sedang berada di luar negeri saat itu, sehingga tidak bisa menghadiri persiapan. Demikian pula saat undangan rapat dan workshop Pra-KUPI. Bahkan sampai di puncak penyelenggaraan KUPI pun, saya akhirnya tidak menghadiri satu pun kegiatan KUPI, karena memiliki prioritas yang tak bisa saya abaikan: kesehatan suami yang sedang menjalani perawatan intensif. Satu-satunya momen saya hadir secara fisik adalah ikut rapat sejenak di salah satu pertemuan.

Untunglah kita hidup di masa teknologi informasi demikian dahsyat. Tidak hadir secara fisik tidak berarti tidak bisa berpartisipasi dan berkontribusi. Selama 10 hari intensif bekerja bersama tim konten kreatif KUPI, berisi anak-anak muda Gusdurian yang selama ini membantu saya membangun kampanye Islam Ramah. Para santri inilah yang sesungguhnya penuh dedikasi menghentikan kegiatan keseharian mereka untuk fokus menyelesaikan support konten kreatif KUPI. Saya hanya menjadi mbok biyung bagi mereka.

Tim santri Gus Dur Jogja bergerak cepat, mendadak membelah pulau Jawa menuju Rembang, hanya untuk mengejar para tamu tokoh di acara Ngunduh Mantu Gus Mus, meminta ucapan dari mereka. Tim NUtizen Jakarta dikerahkan untuk mengejar para tokoh di Jakarta. Pada saat tim Nutizen sudah berada di Cirebon, kami menerima kabar bahwa Wakil Presiden Jusuf Kalla berkenan memberikan sekapur sirih untuk KUPI, maka tim Aswaja TV di Jakarta yang turun tangan. Alhamdulillah semua terselesaikan dengan baik. Bahkan keterlibatan ini menjadi gerbang untuk kerjasama jangka panjang gerakan KUPI dengan NUtizen dan Aswaja TV, yang saat ini sudah mulai ditindaklanjuti.

Bekerja jarak jauh sudah terbukti tidak menghalangi hasil. Kuncinya adalah bagaimana kita mengendalikan proses kerja dan mengoptimaalkan tools yang bisa membantu kita bergerak. Apalagi KUPI diselenggarakan secara gotong-royong (Indonesia bingits, bahasa kekiniannya).

Pengalaman ini membuat saya yakin, walaupun penyelenggara KUPI datang dari organisasi dan bidang kerja serta lokasinya yang berbeda-beda, demikian juga pesertanya; itu bukanlah halangan untuk memperbesar gerakan. Bahkan menjadi potensi unggul dari gerakan ini.

Bagaimana pun, Indonesia dan dunia membutuhkan kehadiran kiprah para ulama perempuan. Berbagai penelitian mutakhir menyatakan bahwa dunia saat ini banyak masalah karena masyarakat terlalu maskulin, tidak setimbang dengan ciri-ciri feminin (Hofstede, 1985). Padahal watak kepemimpinan yang dianggap paling diperlukan sesuai situasi saat ini, justru kepemimpinan yang membawa ciri feminin (the Athena Doctrine, John Gerzema, 2013). Ciri-ciri seperti keadilan, relationship-oriented, kebersamaan, loyal adalah ciri-ciri feminin yang lebih dibutuhkan masyarakat saat ini, karena dampak dari ciri karakter agresif, saling mengalahkan, individualistik, justru membuat masyarakat mengalami polarisasi luar biasa.

Maka kehadiran KUPI disambut dengan gempita, baik di Indonesia ataupun di penjuru dunia lain. Beberapa waktu lalu di Korea Selatan, banyak kawan dari banyak negara mengapresiasinya. Semoga langkah KUPI di Cirebon menjadi langkah pertama kita untuk ikut berkontribusi menyembuhkan dunia. Dan semoga berbuah berkah Allah SWT.

30 Mei 2017