Antara Cinta, Cita dan Dakwah Perempuan

0
768

Impian “Konggres Ulama Perempuan Indonesia” akhirnya terlaksana juga pada tanggal 25-27 April 2017 bertepatan dengan tanggal 28-30 Rajab 1438 H di Pondok Pesantren Kebon Jambu al Islamy Babakan Ciwaringin Cirebon Jawa barat. Publikasi tentang diadakannya KUPI diapresiasi baik oleh kalangan pesantren, akademisi, aktivis LSM, dan para mubalighoh dari masyarakat luas. Bahkan jumlah pendaftar 1200 peserta, melebihi kapasitas persiapan panitia. Sehingga harus melalui seleksi kriteria yang cukup ketat. Kongres Ulama Perempuan Indonesia dihadiri oleh 574 peserta dan 185 pengamat. Termasuk para ulama perempuan dari 15 negara lainnya dari seluruh benua. Maka dapat dikatakan bukan hanya “Congress Moslem scholar Woman of Indonesia” tetapi “International Congress Moslem scholar Woman”. Konggres Ulama Perempuan Indonesia ini tidak hanya substansi yang dikaji dari hasil dan rekomendasi, namun prosesnya sangat penting dicermati. dimana semua dari masyarakat kaum perempuan itu sendiri yang menghasilkan hingga terselenggaranya kongres ini.

Baca juga: Syair Religy Konggres Ulama Perempuan Indonesia

Bagai bintang yang jatuh ditangan, karena konggres ulama perempuan ini adalah impian masa kecil dari sebagian peserta konggres, hingga tak terukir rasa bahagia menjadi bagian sejarah dunia. Serasa berangkat di arena perjuangan, tinggalkan semua aktifitas belajar dan mengajar sebagai wujud kiprah se-visi dan se-misi perjuangan bersama ulama perempuan se-Indonesia. Dan di akui berbagai kalangan sebagai pertama kali di dunia. Seperti halnya Hj.Maria Ulfa. Seluruh peserta konggres berharap bahwa KUPI pertama akan menghasilkan Ijtima Jamai, dan juga langkah lanjutan rekomendasi tentang ulama perempuan, serta menjadikan KUPI gerakan yang lebih sistematis hingga membentuk jaringan pada tingkat internasional. Sehingga diharapkan ulama perempuan terlibat secara aktif dalam membangun dan menyebarluaskan Islam yang berwawasan kebangsaan dan kemanusiaan.

Aura cinta menyambut kedatangan peserta konggres saat senyum sapa dari santriwati santriwati Pondok Pesantren Kebon Jambu al Islamy. Semua tak lepas dari pengajaran seorang tokoh Hj. Masriyah Amva yang berprinsip penuh cinta. Bahagia bertemu dengan tokoh-tokoh besar perempuan yang berkiprah di daerahnya, dimana semua saling berbagi tentang strategi, tantangan dan peluang pendidikan dari pemikiran dan lembaga masing-masing. Dalam pidato yang dikemukakan oleh Dra. Hj. Badriyah Fayyumi, Lc. MA di pembukaan konggres bahwa keulamaan perempuan sesungguhnya sudah ada sejak zaman rasulullah SAW dan mempunyai peranan penting di masyarakat. Di Indonesia, kita kenal Sultanah tajul alam safiatuddin, Ratu sinuhun, Fatimah al banjary, Ratu Aisyah, Tengku fakinah, Rahmah el-yunusiyah dan sebagainya. Hal ini mengisyaratkan bahwa jejak keulamaan perempuan Indonesia sejak abad ke 17 sudah ada dan tidak terputus hingga sekarang baik eksistensi dan kontribusinya bagi Islam dan dunia secara damai, adil, manusiawi, bermartabat, sejahtera dan beradab.

Senyum peserta mengembang saat mendengar Hj. Maasriyah Amva berpidato tentang perjuangannya bahkan bisa kita baca pemikiran beliau dalam karya-karyanya. Memberi energy positif untuk kami melanjutkan perjuangan. Juga memberi semangat publikasi karya-karya di akun yang telah dipersiapkan oleh panitia. Persiapan panitia yang sangat luar biasa hingga akun untuk jaringan pasca KUPI juga telah dipersiapkan. Energi KUPI mengulung menjadi atmosfer semangat, mengharu biru oleh alunan shalawat ‘SAMARA” yang diciptakan oleh faqihuddin Abdul Kadir, untuk keadilan relasi laki-laki dan perempuan. Sholawat itu sudah biasa didengungkan di Pondok Ilmu, hingga menyenangkan saja membaca bait baru nya. Terjatuh peluh tanpa tersadari saat mendengar bu nyai sepuh dan pemateri bercerita tentang duka-dukanya dalam rumah tangga dan kiprah dakwah. Inilah cinta, cita dan dakwah perempuan yang menjadi warna dalam kehidupan dan warna perjuangan yang masing-masingnya pasti punya cerita. Dan pantaslah jika shalawat ‘SAMARA” menjadi dakwah yang harus dimasyarakatkan.

Di acara diskusi paralel, disajikan tema-tema yang membuka wawasan baru antara lain Strategi dakwah ulama perempuan dalam meneguhkan nilai-nilai keislaman. Kebangsaan dan kemanusiaan. Tantangan dan peluang pendidikan keulamaan perempuan di Indonesia. Method studi Islam perspektif keadilan hakiki bagi perempuan. Respon pesantren terhadap gerakan ulama perempuan;sebuah testimony. Akademi paradigta: menumbuhkan kepemimpinan perempuan dalam pembangunan desa yang berkeadilan. Kekerasan seksual dan hambatan korban KS mendapatkan hak atas keadilan dan layanan pemulihan. Peran ulama perempuan terhadap pemberdayaan ekonomi umat. Ulama perempuan dalam menebarkan Islam moderat di Indonesia, Perempuan ulama di atas panggung sejarah. Presentasi tema tersebut sudah mewakili aspirasi peserta konggres baik dari segi pendidikan, ekonomi, social budaya serta politik terlebih pemahaman keagamaan dari masalah kontemporer.

Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) menghasilkan sebuah Ikrar Keulamaan Perempuan di antaranya seputar hak asasi perempuan dan anak. Rekomendasi kepada Pemerintah, memastikan hadirnya regulasi di pusat dan daerah yang mengintegraikan hak asasi manusia yang mencakup hak asasi perempuan dan anak, hak disabilitas, hak ekonomi sosial budaya dan politik, serta hak konstitusi lainnya. Seputar lingkungan hidup. Menjaga kelestarian alam dan tidak melakukan eksploitasi secara berlebihan. Melarang keras adanya pernikahan anak usia dini. Memastikan adanya regulasi di tingkat nasional, soal pencegahan atau penghapuan pernikahan anak. Lalu mengubah undang-undang no 1 tahun 1974 tentang perkawinan, terkait dengan batas minimal seorang perempuan boleh menikah. Dari 16 tahun menjadi 18 tahun. Menekankan Pemerintah agar melindungi perempuan korban kekerasan.

Rekomendasi KUPI tersebut diapresiasi luar biasa oleh Menteri Agama yang disampaikan di acara penutupan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI). Dalam konggres ini ada tiga hal strategis. Pertama, konggres ini berhasil memperjuangkan keadilan dalam relasi laki-laki dan perempuan. Kedua, konggres ini mampu melakukan tidak hanya pengakuan tetapi juga revitalisasi peran ulama perempuan. Ketiga, konggres berhasil meneguhkan dan menegaskan bahwa modernisasi islam harus dikedepankan. Dalam arti KUPI tidak hanya mampu menunjukkan eksistensi dan pengukuhan ulama perempuan tapi juga berhasil merevitalisasi peran ulama perempuan di Indonesia.

Pasti akan terasa indah jika menambahkan saran dan kritik dalam reflektif ini. Sebagian peserta ingin memberikan pandangan tentang lembaga atau kiprahnya di tempat masing-masing, yang diharapkan satu dengan lainnya saling berbagi tentang masalah dan solusinya, namun hanya diberikan sesi mendengar dan bertanya, dimana waktu yang sangat terbatas. Dan tak disediakan wadah tersebut. Padahal sebagian peserta yang hadir adalah tokoh-tokoh lembaga yang sedang dikembangkan pada saat ini. Pasti akan menjadi referensi kiprah ulama perempuan di seluruh Indonesia.

AMALIYAH
(Pimpinan Pondok Ilmu – Jakarta / Dosen PAI di Universitas Pamulang-Tanggerang)
Jakarta, 1 Mei 2017